RI Diprotes Isu Karhutla, Bakom: Ini Faktor Alam di Luar Kuasa Manusia

Kepala Bakom Syahganda Nainggolan menyatakan karhutla yang memicu kabut asap hingga Malaysia dan Singapura disebabkan faktor alam, seraya meminta pengertian negara tetangga.
PM Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Prabowo Subianto membahas penanganan karhutla; Menteri Luar Negeri Malaysia dijadwalkan berdialog dengan Menlu Arrmanatha Nasir.
BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 mulai November secara bertahap, dengan awal musim mundur di 529 zona musim sehingga banyak wilayah menunggu hujan lebih lama.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Syahganda Nainggolan, meminta pengertian dari negara tetangga Indonesia yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Syahganda mengeklaim karhutla yang terjadi di sejumlah provinsi di Tanah Air murni disebabkan faktor alam dan bukan ulah manusia.
Di media sosial, kini ramai protes yang disampaikan oleh warga Malaysia dan Singapura akibat ikut terdampak asap. Bahkan, perhelatan Formula 1 di Singapura pada hari ini tidak bisa berjalan maksimal lantaran diselimuti kabut asap. Kondisi udara di dua negara tersebut sudah masuk ke dalam kategori tidak sehat.
"Hubungan kita dengan Malaysia cukup baik. Indonesia juga berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa kita tidak hanya sekedar mengirimkan asap tetapi kalau asap tak ada, Indonesia juga mengirimkan oksigen. Oksigen di Singapura dan Malaysia kan datang dari hutan-hutan di Indonesia," ungkap Syahganda di kantor Lemhanas, Jakarta Pusat pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Oleh sebab itu, Syahganda meminta pengertian kepada negara tetangga Indonesia yang kini ikut menghirup asap karhutla. "Ini benar-benar beyond human error. Ini betul-betul (disebabkan) faktor alam," katanya.
1. PM Anwar Ibrahim akan kirim Menlu Malaysia untuk bahas teknis penanganan karhutla

Presiden Prabowo Subianto bertemu Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. (Instagram/anwaribrahim_my) Lebih lanjut Syahganda turut membenarkan adanya komunikasi antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dengan Presiden Prabowo Subianto menyangkut penanganan kebakaran hutan dan lahan. Salah satu poin yang dibahas dalam pembicaraan telepon tersebut yakni PM Anwar akan mengirimkan Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohammad bin Haji Hasan dan berdialog dengan Menlu Arrmanatha Nasir untuk bersama-sama mengatasi karhutla di Tanah Air.
Ketika ditanyakan langkah bersama apa yang akan diambil, Syahganda mengaku belum tahu. Ia akan menanyakan kepada Kementerian Luar Negeri lebih dulu. Namun, ia menggarisbawahi Prabowo sungguh-sungguh menangani beragam bencana yang terjadi di Tanah Air, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
"Pak Presiden sungguh-sungguh ingin menghadapi bencana, apapun bencananya termasuk karhutla. Indonesia ini kan berada di ring of fire, yang rentan terjadi bencana. Tapi, kita harus yakin bahwa Indonesia akan menjadi negara yang lebih kuat dan punya resilien terhadap berbagai kemungkinan," tutur dia.
Daya tahan itu, kata, Syahganda, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang pada triwulan II tahun 2026 menembus lebih dari 5 persen.
2. Bakom doakan hujan segera turun agar karhutla reda

Kabut asap karhutla menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, hingga jarak pandang turun 400 meter pada Kamis (8/10/2026) (Dokumentasi BNPB) Syahganda pun menyadari dampak buruk dari karhutla yang kini sedang dialami oleh masyarakat di Kalimantan dan Sumatra. Oleh sebab itu, ia berharap hujan segera turun di area yang terjadi karhutla.
"Saya sedih dan melihat sendiri di Pontianak, begitu juga di beberapa daerah lain di Riau. Saya melihat warga mengalami sesak napas, kami mendoakan supaya bisa segera turun hujan. Sebagai masyarakat yang beragama penting untuk mendoakan," kata mantan aktivis itu.
"Kalau hujan turun, yang mudah-mudahan terjadi sebentar lagi, maka udaranya akan kembali normal," imbuhnya.
3. BMKG memperkirakan musim hujan baru turun pada November 2026

Ilustrasi Hujan Deras. (IDN Times/Anjani Asra) Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 datang bertahap. Selain itu, hujan jatuh lebih lambat dari biasanya di sebagian besar wilayah. Penyebabnya, kata BMKG, tidak tunggal. Salah satunya lantaran letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, di antara dua benua dan dua samudra. Alhasil, setiap daerah punya pola hujannya sendiri. Ada pula angin monsun serta fenomena global seperti El Nino dan La Nina ikut menentukan kapan hujan tiba dan seberapa deras turunnya.
Di dalam siaran persnya pada 22 September 2026, BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 mulai November 2026 di 185 zona musim (ZOM) yang mencakup 24,66 persen daratan Indonesia. ZOM adalah pembagian wilayah berdasarkan pola hujannya. Gelombang berikutnya disusul Desember 2026 di 266 ZOM dengan cakupan 17,31 persen daratan, dan prosesnya bergerak bertahap dari Sumatra bagian utara ke wilayah lain.
Jika dibandingkan dengan kondisi normal, awal musim hujan mundur di 529 ZOM atau 61,08 persen luas wilayah. Hanya 26 ZOM (2,15 persen) yang dimulai pada waktu normal, sedangkan 11 ZOM (1,12 persen) justru lebih maju. Artinya, tahun ini sebagian besar daerah harus menunggu lebih lama.
Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. BMKG juga memperkirakan musim hujan berlangsung lebih pendek dari normal di 482 ZOM (51,90 persen luas daratan), sementara sifat hujannya berada pada kategori normal di 510 ZOM (69,76 persen).























