Prabowo Dihubungi PM Malaysia soal Karhutla, Ini Penjelasan Menlu

- Menlu Arrmanatha Nasir membenarkan PM Malaysia Anwar Ibrahim menghubungi Presiden Prabowo terkait karhutla; Indonesia menjelaskan pengerahan lebih dari 60 ribu personel serta 48 helikopter dan pesawat untuk pemadaman.
- BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 mulai bertahap pada November, dengan mayoritas wilayah mengalami keterlambatan. Super El Nino dan kondisi udara turut menjadi tantangan penanganan kebakaran.
- BNPB mencatat 7.555 titik panas, 196 titik kebakaran, dan 706,19 hektare terbakar di enam provinsi prioritas; kabut asap juga berdampak pada Malaysia dengan 38 wilayah berudara tidak sehat.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir membenarkan adanya pembicaraan telepon antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dengan Presiden Prabowo Subianto pada pekan ini terkait insiden kebakaran hutan dan lahan. Di dalam pembicaraan telepon itu, pemerintah sudah menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia untuk memadamkan api yang melalap hutan dan lahan.
"Seperti misalnya kita sudah menerjunkan lebih dari 60 ribu personel, lalu ada sekitar 48 helikopter serta pesawat yang diterjunkan untuk melakukan water bombing," ungkap Arrmanatha di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Sabtu (10/10/2026).
Menurut diplomat senior yang akrab disapa Tata itu cuaca saat ini juga menjadi tantangan karena udara yang tidak dalam kadaan yang baik. Bahkan, fenomena Super El Nino diprediksi akan berlangsung hingga Desember mendatang.
"Maka, harapan kami, ini semua bisa segera reda karena diperkirakan cuaca akan membaik karena ada hujan," tutur dia.
1. BMKG memperkirakan musim hujan baru turun pada November 2026

Ilustrasi Hujan Deras. (IDN Times/Anjani Asra) Sementara, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 datang bertahap. Selain itu, hujan jatuh lebih lambat dari biasanya di sebagian besar wilayah.
Penyebabnya, kata BMKG, tidak tunggal. Salah satunya lantaran letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, di antara dua benua dan dua samudera. Alhasil, setiap daerah punya pola hujannya sendiri. Ada pula angin monsun serta fenomena global seperti El Nino dan La Nina ikut menentukan kapan hujan tiba dan seberapa deras turunnya.
Di dalam siaran persnya pada 22 September 2026, BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 mulai November 2026 di 185 zona musim (ZOM) yang mencakup 24,66 persen daratan Indonesia. ZOM adalah pembagian wilayah berdasarkan pola hujannya. Gelombang berikutnya disusul Desember 2026 di 266 ZOM dengan cakupan 17,31 persen daratan, dan prosesnya bergerak bertahap dari Sumatra bagian utara ke wilayah lain.
Jika dibandingkan dengan kondisi normal, awal musim hujan mundur di 529 ZOM atau 61,08 persen luas wilayah. Hanya 26 ZOM (2,15 persen) yang dimulai pada waktu normal, sedangkan 11 ZOM (1,12 persen) justru lebih maju. Artinya, tahun ini sebagian besar daerah harus menunggu lebih lama.
Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 di 155 ZOM, Januari 2027 di 162 ZOM, dan Februari 2027 di 190 ZOM. BMKG juga memperkirakan musim hujan berlangsung lebih pendek dari normal di 482 ZOM (51,90 persen luas daratan), sementara sifat hujannya berada pada kategori normal di 510 ZOM (69,76 persen).
2. 706,19 hektare area di enam provinsi prioritas sudah terbakar

Kabut asap karhutla menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, hingga jarak pandang turun 400 meter pada Kamis (8/10/2026) (Dokumentasi BNPB) Sementara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan dasbor penanganan kebakaran hutan BNPB yang diperbarui pada 9 Oktober 2026, terdapat 7.555 titik panas (hotspot) dan 196 titik kebakaran (fire spot) di enam provinsi prioritas.
Enam provinsi prioritas penanganan kebakaran hutan tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Dalam 24 jam terakhir, total luas lahan yang terbakar di wilayah-wilayah tersebut mencapai 706,19 hektare.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi dua wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi tersebut. Hingga 9 Oktober 2026, masih ada 2.207 titik panas dan 72 titik kebakaran di Sumatera Selatan, dan 3.511 titik panas dan 67 titik api di Kalimantan Tengah.
3. Anwar Ibrahim telepon Prabowo karena karhutla tidak juga selesai

Presiden Prabowo Subianto bertemu Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim. (Instagram/anwaribrahim_my) Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim mengatakan secara pribadi telah menelepon Presiden Indonesia Prabowo Subianto terkait krisis kabut asap di wilayah Indonesia yang tak kunjung terselesaikan. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan ini telah berdampak pada Malaysia dan kawasan sekitarnya. Anwar mengatakan bahwa kementerian terkait juga sedang berkomunikasi dengan mitra mereka di kawasan untuk mengatasi masalah kabut asap.
"Masalah kabut asap ini sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan dan saya telah secara pribadi menghubungi Presiden Prabowo, dan dia setuju untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan," ujar Anwar seperti dikutip dari laman Malaymail pada Jumat, 9 Oktober 2026.Dia mengatakan pemerintah prihatin dengan dampak kesehatan terhadap warga Malaysia dan oleh karena itu telah meningkatkan frekuensi penyemaian awan sebagai upaya untuk meredakan situasi, meskipun hasil terkini belum memuaskan. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul laporan Departemen Lingkungan Hidup (DOE) yang menyebutkan bahwa 38 wilayah di Malaysia mencatat angka Indeks Polusi Udara (API) pada tingkat tidak sehat per pukul 15.00 pada Kamis.






















