Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
SMRC: Elektabilitas Prabowo Menurun, Dipengaruhi Sentimen Publik
Presiden Prabowo Subianto saat memimpin sidang kabinet di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/7/2026). (Youtube/Sekretariat Kabinet)
  • Survei SMRC Juli 2026 mencatat elektabilitas Prabowo 14,5 persen dalam simulasi 20 nama, turun dari 34,9 persen pada November 2025; Dedi Mulyadi memimpin dengan 35 persen.
  • Dalam simulasi dua nama, Dedi Mulyadi meraih 59 persen dukungan, sedangkan Prabowo 28,3 persen; sejak Februari-Maret 2026, dukungan Dedi naik dan Prabowo turun.
  • Penurunan elektabilitas Prabowo sejalan dengan merosotnya kepuasan kinerja, penilaian ekonomi-politik-hukum, serta sentimen positif terhadap program MBG dan KDMP.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Survei SMRC bilang dukungan untuk Prabowo Subianto turun jadi 14,5 persen pada Juli 2026. Dedi Mulyadi dapat 35 persen dan lebih banyak. Kalau hanya mereka berdua, Dedi dapat 59 persen, Prabowo 28,3 persen. Banyak orang juga makin tidak puas dengan kerja Prabowo, ekonomi, politik, hukum, dan program makan gratis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat elektabilitas Prabowo Subianto mengalami penurunan dalam survei nasional bertajuk “Elektabilitas Calon-calon Presiden”.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan dalam sembilan bulan terakhir, elektabilitas Prabowo pada simulasi semi terbuka menurun dari 34,9 persen pada survei November 2026, menjadi 14,5 persen pada survei Juli 2026. 

Survei ini dilakukan pada 5-19 Juli 2026 terhadap 749 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 605 responden yang memiliki handphone diwawancarai melalui telepon dengan metode double sampling.

Sedangkan, sebanyak 144 responden yang tidak memiliki telepon seluler diwawancarai secara tatap muka menggunakan metode stratified multistage random sampling. Survei ini memiliki margin of error sebesar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. 


1. Elektabilitas Dedi Mulyadi lebih besar dari Prabowo

Mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi berfoto bersama dengan Ketum Gerindra, Prabowo Subianto di ruang kerjanya. (www.instagram.com/@dedimulyadi71)

Dalam simulasi semi terbuka yang menyajikan 20 nama calon presiden, Prabowo Subianto memperoleh elektabilitas 14,5 persen. Angka itu berada di bawah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang memimpin dengan 35 persen. 

Sementara, di posisi ketiga, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperoleh 8,2 persen. Disusul Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD 4 persen. 

Sementara itu, sebanyak 12,8 persen responden lainnya belum menentukan pilihan. 


2. Kalah dari Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat melakukan panen raya padi di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Senin (7/4). (dok. Perum BULOG)

SMRC juga menguji simulasi apabila hanya ada dua calon presiden, yakni Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi. Hasil dari head-to-head atau simulasi dua nama yang dilakukan, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 59 persen, sedangkan Prabowo hanya mendapat 28,3 persen. Sedangkan sebanyak 12,7 persen responden menyatakan belum menjawab.

Dalam survei yang dilakukan pada Februari-Maret 2026, elektabilitas Prabowo menurun dari dari 50,5 persen menjadi 28,3 persen pada survei Juli 2026. Sebaliknya, pada periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi justru meningkat, dari 42,6 persen menjadi 59 persen. 

3. Penurunan elektabilitas sejalan dengan turunnya kepuasan publik

Pemerintah harus dapat menghadirkan pelayanan yang cepat kepada masyarakat. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi dalam pemberian layanan. (Dok. Kemenpan RB)

SMRC menilai, penurunan elektabilitas Prabowo bersamaan dengan turunnya sentimen positif atas kinerjanya, dan kondisi-kondisi makro yang terjadi pada masa pemerintahan Prabowo. 

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan SMRC, kategori kinerja presiden, kondisi penegakan hukum, kondisi politik, dan kondisi ekonomi mengalami penurunan dari hasil survei yang dilakukan pada November 2025 dan Februari-Maret 2026. 

Tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo turun dari 81 persen pada November 2025, menjadi 66 persen pada Februari-Maret 2026, lalu kembali merosot menjadi 51 persen pada Juli 2026.

Hal serupa juga terjadi pada penilaian terhadap kondisi nasional. Dari perbandingan penelitian yang dilakukan pada November 2025 dan Juli 2026, penilaian positif terhadap kondisi ekonomi turun dari 40 persen menjadi 16 persen, kondisi politik dari 36 persen menjadi 13 persen, dan penegakan hukum dari 43 persen menjadi 26 persen dalam periode November 2025 hingga Juli 2026.

4. Penurunan elektabilitas diikuti melemahnya sentimen positif terhadap MBG dan Kopdes Merah Putih

Presiden Prabowo Subianto meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 111 Jakarta pada Selasa (2/6/2026). (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Selain itu, SMRC juga menyebut, penurunan elektabilitas Prabowo bersamaan dengan turunnya sentimen positif terhadap dua program prioritas milik Prabowo, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) atau Kopdes. 

Dalam sembilan bulan terakhir, kepuasan terhadap pelaksanaan MBG turun dari 62 persen pada November 2025, menjadi 53 persen pada Februari-Maret 2026. Lalu, kembali turun menjadi 34 persen pada Juli 2026. 

Sementara, keyakinan masyarakat Kopdes akan berkembang atau maju juga mengalami penurunan. Persentasenya turun dari 43 persen pada November 2025, menjadi 42 persen pada Februari-Maret 2026, kemudian merosot menjadi 25 persen pada Juli 2026. 

5. Pola elektabilitas Prabowo berbeda dengan Jokowi dan SBY

Presiden RI, Prabowo Subianto bersama Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3/2026) (Instagram/Prabowo)

Dalam survei tersebut, SMRC juga membandingkan elektabilitas milik Prabowo dengan elektabilitas milik dua presiden sebelumnya, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko "Jokowi" Widodo.  

Hasilnya, elektabilitas SBY pada awal masa pemerintahannya cenderung stabil. Dalam survei Desember 2005 dan Januari 2006, elektabilitas SBY sama-sama berada di angka 40 persen. Angka tersebut sempat turun tipis menjadi 39 persen pada Maret 2006, sebelum kembali meningkat menjadi 44 persen pada Agustus 2006.

Berbeda dengan SBY, elektabilitas Jokowi justru menunjukkan kenaikan. Pada survei Oktober 2015, elektabilitas Jokowi tercatat sebesar 31 persen. Angka tersebut naik menjadi 33 persen pada Desember 2015, kemudian meningkat lagi menjadi 40 persen pada Maret 2016, dan mencapai 44 persen pada Juni 2016.

Namun, elektabilitas Prabowo justru menunjukkan penurunan. Dalam survei November 2025, elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 35 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi 33 persen pada survei Februari-Maret 2026, sebelum kembali merosot menjadi 15 persen pada Juli 2026. 


Editorial Team

Related Article