Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mendorong masyarakat memanfaatkan layanan perbankan nasional, termasuk membuka rekening di BSI (dok. BSI)
Di tengah berbagai persoalan tersebut, sejumlah program prioritas pemerintah mendapat penilaian positif dari masyarakat. Swasembada pangan menjadi program yang dinilai paling berhasil dengan skor rata-rata 8,4 dari skala 0-10.
Rudi mengatakan tingginya penyerapan beras yang telah diupayakan pemerintah sejak tahun lalu masih berlanjut. Namun, kebijakan tersebut tetap dihadapkan pada tren kenaikan harga beras yang turut memicu inflasi pangan.
Program lain yang dinilai cukup berhasil yakni revitalisasi sekolah melalui rehabilitasi dan renovasi serta digitalisasi pembelajaran dengan skor 6,5. Kemudian pemeriksaan kesehatan gratis mendapat skor 6,3 dan Sekolah Rakyat 6,0.
“Kebijakan yang menyentuh bidang pendidikan dan kesehatan ini cenderung mendapat dukungan publik, sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Rudi.
Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya memperoleh skor 5,5. Menurut Rudi, dukungan terhadap program tersebut menurun dibandingkan tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Berbeda dengan setahun pertama pemerintahan di mana publik memberikan apresiasi tinggi kepada program MBG, terbongkarnya kasus korupsi hingga bongkar pasang pimpinan BGN dalam waktu singkat membuat dukungan publik menyusut,” kata Rudi.
Meski demikian, masyarakat masih menilai MBG sebagai program yang baik dan dibutuhkan. Pemerintah dinilai perlu membenahi persoalan tata kelola hingga kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program tersebut.
Program lainnya mendapat penilaian lebih rendah. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memperoleh skor 2,1, target pembangunan tiga juta rumah rakyat 2,3, Sekolah Unggul Garuda 1,4, dan Kampung Nelayan Merah Putih 1,2.
Di sisi lain, program hilirisasi sumber daya alam yang merupakan bagian dari keberlanjutan kebijakan pemerintahan sebelumnya masih mendapat dukungan publik dengan skor 4,7.
Survei Arawicaksa Institute dilakukan pada 3-8 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 2,89 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.