Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Surya Paloh: Indonesia-Malaysia Bukan Sekadar Hubungan Untung-Rugi

4 min read
Surya Paloh: Indonesia-Malaysia Bukan Sekadar Hubungan Untung-Rugi
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menerima Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid di NasDem Tower. (Dok. NasDem).
  • Surya Paloh menilai kedekatan Indonesia dan Malaysia penting untuk penguatan ASEAN serta menghadapi tantangan kawasan.
  • Ia menyebut hubungan kedua negara sebagai lex specialis, melampaui pertimbangan perdagangan dan keuntungan ekonomi.
  • Ahmad Zahid Hamidi menekankan penguatan hubungan antarmasyarakat, pemerintah, dan dunia usaha Indonesia-Malaysia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menempatkan kedekatan Indonesia-Malaysia dalam konteks penguatan ASEAN. Kedua negara dinilai memiliki ruang untuk membangun komunikasi strategis dan mencari jalan bersama menghadapi berbagai tantangan kawasan.

Hal itu disampaikan Surya Paloh saat bertemu Wakil Perdana Menteri Malaysia sekaligus Presiden UMNO, Ahmad Zahid Hamidi di NasDem Tower, Jakarta, Sabtu (19/9/2026) malam. Pertemuan tersebut membawa pesan lebih besar dari sekadar perjumpaan dua pimpinan partai politik. Di dalamnya bertemu kepentingan dua negara serumpun, masa depan ASEAN, sekaligus kisah personal Zahid yang memiliki akar keluarga di tanah Jawa.

“ASEAN, misalnya, di mana Indonesia merupakan salah satu sokoguru pendirinya. Ketika ini tidak lagi bisa menjadi satu kekuatan bersama, pertanyaannya kepada kita bersama, apa yang salah? Di sana ada sahabat kita, di sana ada saudara kita, Malaysia. Tidak ada salahnya kita bisa duduk bersama, minum kopi bersama dengan kawan kita. Hal-hal yang terjadi dalam persoalan domestik kedua negara bukan berarti kita mengintervensi kepentingan domestik masing-masing, tetapi melihat apa yang bisa kita berikan untuk saling memperkuat permasalahan yang sedang dihadapi, baik oleh Indonesia maupun Malaysia,” kata Surya.

  1. 1. Kesepakatan Indonesia-Malaysia bukan soal untung-rugi

    Surya Paloh: Indonesia-Malaysia Bukan Sekadar Hubungan Untung-Rugi
    Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menerima Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid di NasDem Tower. (Dok. NasDem).

    Bagi Surya Paloh, hubungan Indonesia dan Malaysia memiliki posisi khusus yang tidak dapat disamakan dengan hubungan Indonesia dengan negara lain. Kedekatan kedua negara bukan semata persoalan perdagangan atau hitungan untung-rugi ekonomi, melainkan fondasi kekuatan bersama dua bangsa yang memiliki sejarah dan kebudayaan panjang.

    “Adalah satu hal yang salah besar kalau kita tidak menempatkan hubungan Indonesia dengan Malaysia sebagai satu lex specialis," kata dia.

    Menurut dia, membaca hubungan Malaysia-Indonesia bukan sekadar pertimbangan untung-rugi semata, melainkan bagian dari fondasi kekokohan sebagai dua negara serumpun untuk menjaga kekuatan bersama.

    "Hubungan ini bukan hanya datang dengan pertimbangan keuntungan-rugi semata-mata, tetapi jauh lebih besar daripada itu, karena merupakan fondasi kekokohan kita sebagai dua bangsa serumpun yang mampu menjaga kebangkitan dan kekuatan bersama untuk membangun bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia,” ujar Surya.

  2. 2. Ahmad Zahid tegaskan Indonesia saudara kandung Malaysia

    Surya Paloh: Indonesia-Malaysia Bukan Sekadar Hubungan Untung-Rugi
    Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menerima Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid di NasDem Tower. (Dok. NasDem).

    Sementara, bagi Ahmad Zahid, hubungan Indonesia-Malaysia tidak dapat dilepaskan dari sejarah keluarga dan kebudayaan kedua bangsa. Kakeknya berasal dari Yogyakarta. Dia tumbuh dalam keluarga yang menggunakan bahasa Jawa dan menyebut dirinya sebagai tiyang Jawi.

    Zahid kemudian mengingat pengalamannya ketika menjabat Menteri Pertahanan Malaysia dan mempelajari sejarah konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1963. Dia menyebut hubungan kedua negara telah melewati sejarah panjang.

    “Sewaktu saya menjadi Menteri Pertahanan, saya pelajari satu perkara. Malaysia dan Indonesia itu pernah berkonfrontasi pada tahun 1963. Dua sosok yang mempertahankan keakraban Malaysia dan Indonesia itu adalah Tun Abdul Razak, Perdana Menteri kedua Malaysia, dan di Indonesia ada Adam Malik, sewaktu itu Menteri Luar Negeri. Saya lihat dokumen. Malaysia dan Indonesia boleh berkonfrontasi dengan syarat kedua Menteri Pertahanan setuju untuk perang. Mana mungkin saya sebagai Menteri Pertahanan waktu itu mau perang dengan Indonesia, karena kakek saya juga lahir di Jogja. Kula tiyang Jawi. Mangan ora mangan asal ngumpul,” ungkap Zahid.

    Zahid juga mengenang kunjungannya ke Yogyakarta ketika erupsi Gunung Merapi. Dia menceritakan bagaimana sejumlah jurnalis mempertanyakan kedatangan Malaysia ke Indonesia untuk memberikan bantuan bahkan mengaitkannya dengan sejarah hubungan kedua negara.

    “Saya bilang, Malaysia dan Indonesia itu seperti saudara kandung. Kita dalam rantau Kepulauan Melayu. Sebelum Belanda masuk, tidak ada Indonesia, tidak ada Tanah Melayu. Yang ada ialah Kepulauan Melayu, Malay Archipelago. Tidak ada paspor, tidak ada boundary. Saya datang mau membantu karena saya diantar oleh Perdana Menteri waktu itu, Pak Najib Razak. Lalu saya katakan, ‘Dulure teka seka Malaysia arep ngrewangi kok malah diarani?’ Artinya, saudara yang datang dari Malaysia untuk membantu kok malah dimarahi,” tutur Zahid.

  3. 3. Ahmad Zahid: Jangan pisahkan Indonesia dan Malaysia

    Surya Paloh: Indonesia-Malaysia Bukan Sekadar Hubungan Untung-Rugi
    Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menerima Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid di NasDem Tower. (Dok. NasDem).

    Menurut Zahid, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi jembatan yang membuat masyarakat dari dua negara merasa dekat dan saling memahami. Pesan itu kemudian dia tarik ke dalam konteks hubungan Indonesia-Malaysia saat ini.

    “Jangan pernah pisahkan Malaysia dan Indonesia, sesungguhnya. Sesungguhnya kita negara serumpun. Biarpun ada rakyat Malaysia dan rakyat Indonesia yang berbeda agama, itu masing-masing kita hormati. Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika kita hormati, dan di Malaysia ada Rukun Negara yang kita hormati. Siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia dan siapa pun yang menjadi Perdana Menteri Malaysia, rakyat Malaysia dan rakyat Indonesia pastikan bahwa people-to-people, kita harus bersama. Apalagi government-to-government, kita harus tetap utuh,” ujar Zahid.

    Zahid juga menekankan bahwa pergantian pemerintahan maupun dinamika politik di masing-masing negara tidak semestinya mengganggu fondasi hubungan bilateral.

    “Siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia dan siapa pun yang menjadi Perdana Menteri Malaysia, hubungan antara Malaysia dan Indonesia harus terus kuat, terus kukuh. Kita harus memastikan people-to-people bersama, government-to-government tetap utuh, dan business-to-business semakin erat. Kalau hubungan antarmasyarakat, pemerintah, dan dunia usaha ini semakin kuat, hubungan kedua negara juga akan semakin erat,” kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More