Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Hanya Rangga, Sepupunya Juga Jadi Pemburu Celah Keamanan Siber
Rangga Erlangga (kiri) dan kakak sepupunya, Abdul Rahman Edi Putra (kanan). (IDN Times/Imam Faishal)
  • Rangga Erlangga dan sepupunya, Abdul Rahman Edi Putra, belajar keamanan siber bersama dengan mencari serta melaporkan celah situs web kepada pihak terkait.

  • Rahman telah mengirim sekitar 20 laporan kerentanan dan memperoleh sekitar tujuh sertifikat, sementara temuan mereka mencakup broken link hijacking, pengambilalihan akun, serta potensi paparan data pribadi.

  • Keduanya bercita-cita kuliah di ITB tetapi terkendala biaya; keluarga berharap mereka melanjutkan pendidikan, setelah Rangga mendapat pengakuan NASA, beasiswa sekolah, dan bantuan laptop.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Rangga Erlangga dan sepupunya, Abdul Rahman Edi Putra, mempelajari keamanan siber, mencari celah pada situs web, lalu melaporkan temuan kerentanan secara terpisah.
  • Who?
    Rangga Erlangga, siswa SMK 16 tahun, dan Abdul Rahman Edi Putra, 15 tahun, terlibat dalam kegiatan bug hunting. Eti, ibu Rahman dan tante Rangga, mendukung pendidikan keduanya.
  • Where?
    Rahman ditemui di kediamannya di Jalan Irigasi Tanah Merah, Desa Karangsambung, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi. Temuan mereka mencakup sejumlah situs web, termasuk instansi pemerintah.
  • When?
    Rahman menyampaikan kegiatannya saat ditemui pada Kamis, 22 Oktober 2026. Ia mulai serius mendalami keamanan siber setelah memperoleh sertifikat pertamanya.
  • Why?
    Keduanya mempelajari keamanan siber untuk menemukan dan melaporkan kerentanan agar dapat diperiksa serta diperbaiki pengelola situs, termasuk risiko akses publik terhadap data pribadi.
  • How?
    Rangga dan Rahman belajar bersama menggunakan laptop, mencari kerentanan seperti broken link hijacking dan potensi paparan data. Mereka mengirim laporan sendiri-sendiri dan memperoleh sertifikat berdasarkan laporan masing-masing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rangga dan sepupunya, Rahman, belajar mencari celah aman di situs bersama-sama. Mereka lalu memberi tahu pemilik situs supaya diperbaiki. Rangga dapat pengakuan dari NASA. Rahman sudah dapat tujuh sertifikat. Mereka ingin kuliah di ITB, tapi uangnya belum ada. Ibu Rahman berharap mereka bisa terus sekolah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ketekunan Rangga dan Rahman menunjukkan bahwa pembelajaran bersama dapat berkembang menjadi kontribusi yang bertanggung jawab: mereka mencari kerentanan, melaporkannya secara terpisah, dan memperoleh pengakuan melalui sertifikat. Dukungan keluarga, beasiswa sekolah bagi Rangga, serta bantuan laptop dari kepala desa turut memberi ruang bagi dua remaja ini untuk terus mengasah minat teknologi dan menjaga harapan pendidikan mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bekasi, IDN Times - Nama Rangga Erlangga, siswa SMK asal Kabupaten Bekasi, menjadi sorotan, setelah mendapat pengakuan dari NASA, karena menemukan celah keamanan pada tautan yang berkaitan dengan lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.

Namun, remaja 16 tahun itu bukan satu-satunya anak muda di keluarganya yang menekuni dunia keamanan siber.

Sepupu Rangga, Abdul Rahman Edi Putra, juga tertarik mendalami dunia cyber security atau keamanan siber. Keduanya bahkan belajar bersama untuk mencari celah keamanan pada situs web dan melaporkan temuan tersebut kepada pihak terkait.

Rahman mengatakan, ketertarikannya terhadap dunia teknologi informasi (IT) sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, ia baru mulai serius mempelajarinya setelah mendapatkan sertifikat pertamanya.

“Di situ saya mulai belajar lagi, mulai belajar sama si Rangga ini berdua, dan alhamdulillahnya udah dapet beberapa sertifikat,” kata Rahman saat ditemui di kediamannya, Jalan Irigasi Tanah Merah, Desa Karangsambung, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Kamis (22/10/2026).

1. Belajar keamanan siber bersama Rangga

Rangga Erlangga (kiri) dan kakak sepupunya, Abdul Rahman Edi Putra (kanan). (IDN Times/Imam Faishal)

Rahman mengaku mulai tertarik pada aktivitas bug hunting, atau proses mencari dan melaporkan celah keamanan dalam suatu sistem atau situs web, setelah mendapatkan sertifikat pertamanya.

Sejak saat itu, remaja 15 tahun itu semakin mendalami keamanan siber bersama Rangga. Keduanya saling belajar dan mencari kerentanan pada berbagai situs web, termasuk situs milik instansi pemerintah.

Meski belajar bersama, Rahman dan Rangga mengirim laporan atas temuan yang mereka dapatkan secara terpisah. Masing-masing memperoleh sertifikat berdasarkan laporan yang mereka ajukan.

“Kalau untuk itu, mengerjakannya bareng-bareng, cuman kalau misalkan nemu, direportnya sendiri-sendiri,” ujarnya.

Rahman menyebut telah mengirim sekitar 20 laporan terkait temuan celah keamanan. Dari jumlah tersebut, ia mengaku sudah memperoleh sekitar tujuh sertifikat.

Sejumlah sertifikat itu berasal dari pelaporan kerentanan pada situs yang berkaitan dengan pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Tulungagung, Kota Kupang, serta Kabupaten Badung, Bali.

2. Temuan celah keamanan beragam

Rangga Erlangga saat memperagakan pencarian celah keamanan situs. (IDN Times/Imam Faishal)

Berbeda dengan Rahman, Rangga lebih sering mencari celah keamanan pada situs web pemerintah. Beberapa jenis kerentanan yang mereka pelajari antara lain broken link hijacking, pengambilalihan akun atau nama pengguna media sosial melalui tautan yang tidak lagi aktif, serta potensi paparan data pribadi.

Salah satu risiko yang menjadi perhatiannya adalah informasi pribadi yang dapat diakses secara publik. Data semacam itu berpotensi disalahgunakan, apabila tidak ditangani dengan baik oleh pengelola situs.

Karena itu, mereka berdua berupaya melaporkan temuan kepada pihak terkait agar kerentanan dapat diperiksa dan diperbaiki.

Di tengah ketertarikan mereka terhadap dunia keamanan siber, Rangga dan Rahman ternyata memiliki cita-cita pendidikan yang sama, yakni melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun, Rahman maupun Rangga sama-sama mengakui terkendala biaya untuk mewujudkan keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Kalau mau kuliah sih kuliah, cuman gak ada duitnya,” ucap Rahman.

3. Berharap keduanya melanjutkan kuliah

Surat dari NASA yang diterima Rangga Erlangga. (IDN Times/Imam Faishal)

Sementara, Eti, ibu Rahman yang juga merupakan tante Rangga, berharap keduanya bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Sehari-hari, ibu 53 tahun itu berjualan nasi uduk keliling untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia mengaku bangga melihat keduanya menekuni kegiatan positif. Ia berharap ada rezeki agar Rahman dan Rangga bisa melanjutkan pendidikan.

“Ya pengennya mah pada kuliah. Bagaimana nanti, semoga milik rejeki-nya gitu ya. Itu aja, pengennya pada sekolahnya pengen pada tinggi kalau ada biaynya,” ujar dia.

Eti sempat terkejut ketika mengetahui Rangga mendapatkan pengakuan dari NASA. Ia tidak menyangka aktivitas cucunya yang sehari-hari banyak menghabiskan waktu di rumah untuk belajar menggunakan laptop, bisa mendapat perhatian luas.

Selain pengakuan dari NASA, Rangga juga memperoleh beasiswa selama satu tahun dari sekolahnya. Rangga juga menerima bantuan laptop dari kepala desa setempat, setelah kisahnya ramai di media sosial.

Eti menyampaikan, prestasi tersebut menjadi kebanggaan sekaligus harapan agar Rangga dan Rahman dapat terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi, hingga meraih cita-cita pendidikan mereka.

"Alhamdulillah bangga. Sempat kaget juga pas Rangga dapat penghargaan," jelas Eti.

Curated For You

Editorial Team

Related Article