Tangis Pasangan Lansia di Cipinang Saat Akses Jalan Rumahnya Ditembok Tetangga

Sukirjo dan Wifatmi, pasangan lansia di Cipinang Tengah, terancam kehilangan satu-satunya akses rumah setelah pembangunan di lahan depan rumah mereka dimulai.
Keduanya menempati rumah sejak 1970-an dan menyebut pernah memiliki perjanjian akses dengan pemilik lama, tetapi lahan tersebut dijual kepada pemilik baru pada 2025.
Permintaan akses, termasuk tawaran membeli sebagian lahan dan mediasi kelurahan, belum membuahkan hasil; galian pondasi kini menghambat mobilitas mereka, dua cucu, serta kebutuhan darurat.
Jakarta, IDN Times - "Kalau saya sudah gak ada umur, apa jenazah saya mau dipotong-potong, dimasukin karung? Setidaknya berilah jalan akses untuk keranda," ucap Kakek Sukirjo dengan suara bergetar sambil mengusap air mata dengan tangan kanannya yang sudah keriput.
Kakek Sukirjo (70) dan Istrinya, Wifatmi (70) hanya bisa menatap nanar akses jalan masuk keluar yang hanya satu meter di antara suara nyaring besi beton dan cicit kawat dari tukang yang sedang memasang pondasi tepat di akses pintu masuknya.
IDN Times sempat kesulitan untuk masuk ke rumah pasangan lansia tersebut karena sudah ada galian untuk pondasi tepat di pintu masuk. Ada sepotong kayu di atas galian untuk berpijak, namun itu untuk keperluan tukang yang sedang membangun pondasi.
Pasangan lansia yang tinggal di Cipinang Tengah RT 4/2 ini hanya meminta sedikit kebaikan tetangganya memberikan akses agar keluarganya tetap diberi akses jalan, bahkan untuk mengeluarkan keranda jika suatu saat mereka meninggal dunia.
"Mudah-mudahan sih sehat ya, tapi kalau ini (meninggal) dipotong-potong gitu masukin karung kali ya dibawa ke depan gitu," ucap Sukirjo saat mencurahkan isi hati pada IDN Times, Kamis, (15/10/2026).
"Sampai segitunya saya, artinya minta maaf segala macam, bukan sekadar ini, ikhlas minta maaf, anak, cucu, mantu, semuanya saya minta maaf. Bukan pribadi saya sendiri sih. Siapa tahu barangkali salah, saya minta mohon maaf lah dan minta kebebasan keluasan hati untuk memberikan akses buat jalan ke depan. Saya bahkan mau beli tapi tidak ada jawaban," sambungnya.
1. Sukirjo dan istri sudah tinggal sejak tahun 1970 an

Nenek Wifatmi dan suaminya Sukirjo warga Jakarta Timur terkurung di rumah karena akses jalan di tutup tetangga, Kamis (15/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Sukirjo menceritakan dia dan istrinya sudah tinggal rumah tersebut sejak tahun 1970 an. Dia mengatakan lahan depan rumahnya memang milik tetangganya. Namun, pemilik sebelumnya memberikan akses jalan untuk masuk keluar perjanjian.
"Ada, surat perjanjian ini jalan itu ada. Saya sama yang punya aslinya jadi berikan kompensasi saja. “Lu pakai deh nih jalan, lu kasih gue duit segini, tapi lu enggak boleh jual, enggak boleh gadaiin.” Ya udah kita buat jalan juga udah alhamdulillah ya," ucap pria asal Pemalang.
2. Bangunan tutup akses jalan satu-satunya

Nenek Wifatmi dan suaminya Sukirjo warga Jakarta Timur terkurung di rumah karena akses jalan di tutup tetangga, Kamis (15/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Namun, lansia yang hidup bersama dua cucu tiba-tiba terombang ambing saat pemilik lahan meninggal. Tanah di depan rumahnya pun dijual oleh anak-anaknya pada tahun 2025.
Hingga awal Agustus 2026, Sukirjo kaget saat lahan depan rumahnya tiba-tiba ada proses pembangunan rumah bertingkat dua di Mirisnya, bangunan rumah tersebut akan menutup semua akses jalan masuk rumahnya.
Sukirjo mengatakan pemiliknya memang sudah minta izin mau bangun rumah. Tapi sayang saat Sukirjo meminta sedikit lahan bahkan rela membeli untuk sekedar jalan masuk meski hanya terowongan pun, pemilik tidak bergeming.
"Kemarin ke rumah minta izin tanggal 1 September mau dibangun. Cuma ya kami minta, ya tolonglah minta jalan gitu loh, jalan. Tapi ya dia diam saja," ucap Kakek pensiunan karyawan swasta ini.
3. Mediasi ke pemilik lahan gagal

Nenek Wifatmi dan suaminya Sukirjo warga Jakarta Timur terkurung di rumah karena akses jalan di tutup tetangga, Kamis (15/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Tidak berhenti, dia kemudian bersilaturahmi ke rumah pemilik lahan yang masih menjadi tetangganya. Namun, Sukirjo tidak mendapatkan jawabannya.
"Kita tabayun ke rumahnya. Yang beli kan adiknya, saat pihak kakaknya bilang, Ya nanti kita bicara dulu sama adik saya, gitu. Jadi ya saya tunggu kabar baiknya aja," ucapnya.
Namun kabar baik itu tidak kunjung datang, sebaliknya sejumlah bahan bangunan mulai berdatangan di lahan depan rumah. Pagar milik Sukirjo dan Nenek Wifatmi pun turut dirubuhkan karena masuk dalam lahan kepemilikan mereka.
"Berkali-kali ya saya minta itu akses buat keluar gitu ya. Sampai kemarin terakhir itu, kalau mau saya beli buat jalan tetapi enggak ada respons. Hingga akhirnya mediasi terakhir di kelurahan," ucapnya.
4. Pondasi pembangunan rumah mulai menutup akses

Nenek Wifatmi dan suaminya Sukirjo warga Jakarta Timur terkurung di rumah karena akses jalan di tutup tetangga, Kamis (15/10/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum) Di tengah cerita tersebut, Wifatmi atau yang akrab disapa dengan Nenek Wiwi membenarkan saat pagarnya dirubuhkan, dia tidak berdaya karena pemilik membawa pengacara.
"Tadinya ada pagar saya tuh sampai situ. Nah ini dibongkarnya. Dia sampai bawa pengacara ke sini dibongkar. Ya udah, saya bilang, “Bongkar.” Kan saya enggak ngelawan, habis mau lawan nenek-nenek? Udah enggak bisa," ucapnya.
Di penghujung keresahannya, sepasang lansia ini khawatir apabila sakit tidak bisa berobat. Bahkan saat ini, Nenek Wiwi tidak bisa keluar untuk mengaji karena akses jalan terdapat galian.
"Saya enggak minta apa-apa, harapan saya dikasih jalan aja, udah. Kita udah tua ini Mbak, kalau sakit malam-malam kita ke mana mau lewat? Masa kita loncat ke tempat orang?" ucapnya.
Seketika tangis Nenek Wiwi pecah saat ingat keresahan cucunya yang khawatir jika akses satu-satunya ke rumahnya tertutup tembok.
"Kasihan juga cucu saya, Nek gimana kita keluar," ucap Wiwi menirukan ucapan cucunya. Ia pun tidak berhenti mengusap air matanya.
Dia juga bingung karena penghasilannya selain dari yang pensiunan suaminya, Nenek Wiwi juga berjualan daster untuk menyambung hidupnya.
"Kalau begini siapa yang mau beli," ucapnya lirih.



















