Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Prabowo Subianto (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Jakarta, IDN Times - Calon presiden (capres) nomor urut satu, Anies Baswedan menyebut Prabowo Subianto bergabung dengan pemerintah Jokowi karena tak kuat jadi oposisi. Hal itu diungkapkan Anies saat mengikuti debat capres di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/12/2023) malam.

Menanggapi hal itu, Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Nusron Wahid menegaskan bahwa Prabowo memutuskan untuk tidak menjadi oposisi dan gabung ke pemerintah karena sebagai bentuk panggilan negara.

"Pak Prabowo masuk ke pemerintahan bukan karena tidak tahan oposisi, apalagi karena selama oposisi tidak bisa berbisnis. Tapi karena panggilan bangsa dan sejarah," kata Nusron dalam keterangannya, Rabu (13/12/2023).

1. Prabowo gabung pemerintah untuk atasi polarisasi

Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Kantor Pemenangan Presiden, Jakarta Barat (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Nusron menuturkan, langkah Prabowo untuk bergabung dengan pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo adalah bentuk untuk mengatasi keterbelahan di masyarakat pada Pilpres 2019 lalu.

"Prabowo menjadi bagian dari aktor negara dan sejarah. Karena kebutuhan untuk mengatasi problem bangsa akibat keterbelahan yang menganga pasca Pilpres 2019. Negara tidak boleh pecah dan terbelah. Sehingga dibutuhkan jiwa besar Pak Prabowo untuk bersedia bergabung dalam pemerintahan Jokowi. Ini adalah bentuk rekonsiliasi nasional," ucap dia.

2. TKN bantah Prabowo gabung pemerintah demi cari keuntungan

Sekretaris TKN Prabowo-Gibran, Nusron Wahid (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Dia pun menegaskan, langkah bergabungnya Prabowo ke pemerintahan bukan bentuk pragmatisme atau hanya mencari keuntungan semata.

"Ini bukan langkah pragmatis akibat tidak tahan menjadi oposisi. Tapi demi persatuan dan kesatuan Indonesia dan masa depan demokrasi di Indonesia," terang Nusron.

3. Gabungnya Prabowo disebut menunjukkan jiwa kepemimpinan besar

Prabowo Subianto mendampingi Presiden Joko "Jokowi" Widodo membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) berupa sembako di Pasar Bululawang, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (24/7/2023) (dok. Tim Humas Prabowo)

Lebih lanjut, politikus Partai Golkar itu menuturkan, setelah bergabungnya Prabowo ke pemerintahan, terbukti saat ini situasi politik menjadi adem dan kondusif.

Nusron memastikan, gabungnya Prabowo ke pemerintah menunjukkan jiwa kepemimpinan besar. Di mana meskipun kalah dalam kontestasi Pilpres 2019, tetapi bersedia bergabung dengan pemerintahan Jokowi.

"Ini yang jarang dimiliki oleh pemimpin lain di Indonesia. Sementara, setiap pemilihan kepala desa saja, yang kalah biasanya musuhan. Sampai tidak mau omong-omongan bertahun tahun. Tapi ini Pak Prabowo tidak sama sekali. Berangkulan dengan Pak Jokowi dan membangun pemerintahan bersama," tutur dia.

"Itu lah jiwa besar demi kesatuan Indonesia. Bukan pragmatis dan tidak tahan oposisi. Yang menikmati bukan Prabowo dan Jokowi. Tapi rakyat dan bangsa Indonesia," pungkas Nusron.

Curated For You

Editorial Team

Related Article