Winston Utomo: RI Harus Jadi Sumber Budaya Global, Bukan Sekadar Konsumen

Winston Utomo ingin Indonesia berperan sebagai sumber budaya global, bukan hanya menjadi pasar bagi hiburan dari negara lain.
IDN membangun ekosistem kreatif melalui product-market fit dan pengungkit pertumbuhan ABCDE, yang mencakup media, bisnis, modal, disiplin, serta sinergi ekosistem.
Media, festival, live streaming, dan teknologi dinilai dapat membantu karya kreatif Indonesia berkembang menjadi aset berkelanjutan dan menjangkau pasar dunia.
Jakarta, IDN Times - Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) IDN, Winston Utomo, menilai Indonesia punya potensi besar untuk tidak lagi hanya menjadi pasar bagi budaya dari negara lain. Menurutnya, Indonesia harus mampu menjadi sumber budaya yang dapat dinikmati masyarakat dunia.
Winston mengatakan, visi tersebut menjadi bagian dari warisan yang ingin dibangun IDN bersama para pelaku industri kreatif di Indonesia. Ia ingin karya dan hiburan yang lahir dari Indonesia bisa memiliki daya tarik hingga ke pasar global.
“Visi dan warisan yang ingin kami capai bersama para pelaku industri adalah: Indonesia harus menjadi sumber budaya (source of culture), bukan sekadar konsumen budaya global,” kata Winston saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026).
Ia berharap dalam satu dekade ke depan, semakin banyak hiburan dunia yang berasal dari Indonesia.
1. IDN ingin ekosistem kreatif tumbuh berkelanjutan

Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Winston menjelaskan, untuk membuat sebuah produk kreatif atau intellectual property (IP) berkembang, hal pertama yang harus dicapai adalah kecocokan produk dengan pasar atau product-market fit.
Menurutnya, setiap produk kreatif atau IP di IDN harus melewati titik belok pertama atau first inflection. Tahap tersebut ditandai dengan sebuah karya yang sudah dicintai oleh audiens.
“Pertama, setiap produk kreatif atau IP di tempat kami harus melewati titik belok pertama (first inflection), artinya harus mencapai kecocokan produk dengan pasar (product-market fit) yang memang sudah dicintai audiens. Titik awal ini adalah ranah para perintisnya (founders),” ujarnya.
Setelah sebuah produk menemukan pasarnya, IDN menerapkan pengungkit pertumbuhan yang disebut ABCDE. Winston menjelaskan, A merupakan Attention yang berkaitan dengan mesin media dan pemasaran.
Kemudian, B adalah Business, yakni memastikan IP dapat menghasilkan bisnis, pendapatan, dan kesepakatan komersial. Selanjutnya C adalah Capital, berupa pengalokasian modal untuk mendukung keberhasilan produk atau IP.
Sementara, D adalah Discipline, yaitu disiplin dalam operasional, budaya kerja, finansial, dan sumber daya manusia agar IP bisa bertahan dalam jangka panjang.
Terakhir, E adalah Ecosystem Synergy. Winston mengatakan, IP tidak hanya harus memberikan manfaat bagi ekosistem, tetapi ekosistem juga harus mampu memperkuat IP tersebut.
2. Media, festival, dan teknologi saling terhubung

Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Winston menggambarkan ekosistem kreatif tersebut seperti membangun sebuah kota. Setiap bagian memiliki fungsi dan saling terhubung untuk membuat ekosistem berkembang.
“Kami mengibaratkannya seperti membangun sebuah kota: media adalah jalanannya, festival adalah balai kotanya (town house), live streaming adalah lingkungannya, dan teknologi adalah infrastruktur yang menghubungkan semuanya,” kata Winston.
Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan berbagai aset kreatif, mulai dari festival musik hingga idol group, tidak berhenti sebagai acara atau produk yang hanya berlangsung sesaat.
Dengan ekosistem yang saling mendukung, sebuah IP diharapkan bisa berkembang menjadi aset yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang bisnis baru.
3. Ingin hiburan dunia berasal dari Indonesia

Founder & CEO IDN, Winston Utomo; Ernest Prakasa; dan Putri Tanjung saat jadi pembicara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Winston menilai peluang Indonesia untuk menjadi kekuatan budaya global semakin terbuka seiring besarnya populasi dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 280 juta penduduk dengan rata-rata usia 29–30 tahun. Selain itu, kelas menengah juga terus bertumbuh dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita yang saat ini berada di kisaran 4.000–5.000 dolar AS.
Menurut Winston, ketika PDB per kapita Indonesia mencapai 10.000 dolar AS, pendapatan siap pakai masyarakat akan meningkat signifikan. Kondisi tersebut diyakini akan mendorong pertumbuhan belanja masyarakat terhadap sektor kreatif dan hiburan.
“Ketika angka tersebut nanti naik ke 10.000 dolar AS, pendapatan siap pakai (disposable income) masyarakat akan melonjak drastis, yang artinya pengeluaran untuk sektor kreatif dan hiburan akan meningkat pesat,” ujarnya.
Winston kemudian menyoroti posisi Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Menurutnya, masyarakat Indonesia lebih banyak menjadi konsumen budaya dari negara lain, seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan.
“Selama berpuluh-puluh tahun, Indonesia hanya menjadi pasar dan konsumen bagi budaya luar—hiburan Amerika, Korea, dan dunia,” katanya.
Karena itu, ia ingin IDN bersama para pelaku industri ikut mendorong perubahan tersebut. Winston berharap Indonesia tidak hanya memiliki pasar besar untuk produk budaya global, tetapi juga mampu menciptakan karya yang dikonsumsi masyarakat dunia.
“Dalam sepuluh tahun ke depan, kami berharap sebagian hiburan dunia berasal dari Indonesia. Itulah warisan terbesar yang ingin kami tinggalkan,” imbuh Winston.
























