Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) periode 2011-2013, Soleman B. Ponto ketika berbincang di program 'Ngobrol Seru' by IDN Times. (Tangkapan layar YouTube IDN Times)
Sebelumnya, pada forum diskusi yang sama, Ponto menyinggung dugaan motif dendam para pelaku lapangan terhadap Andrie. Ia menyinggung langkah Andrie dan dua koleganya yang menerobos masuk pembahasan revisi Undang-Undang TNI di ruang rapat di Hotel Fairmont pada Maret 2025 lalu.
"Pasti kan saat itu ada tentara yang berjaga di luar. Masuknya Andrie (ke ruang rapat), kalau yang saya tahu, ini akan kena ke tentara yang berjaga di luar. Mereka kena hukuman makanya punya dendam pribadi," kata Ponto.
Dalam pandangannya bila yang menggerakkan aksi teror terhadap Andrie adalah dendam pribadi, maka akan sulit dikendalikan oleh atasannya. Ketika IDN Times tanyakan apakah hal itu bermakna ia memastikan empat pelaku di lapangan juga ada di Hotel Fairmont pada Maret 2025, Ponto mengaku tak yakin.
"Barang kali, mungkin (bisa empat pelaku yang menyiram air keras juga penjaga Hotel Fairmont). Itu kan kalimat saya juga mungkin. Tapi, kalau melihat ini, saya tahu psikologisnya prajurit, ada kalanya begitu," tuturnya.
Ponto menjelaskan, sanksi yang diberikan biasanya bisa beragam misalnya penundaan kenaikan pangkat, tidak boleh mengikuti pendidikan jenjang karier militer, dan sebagainya.
"Barangkali. Mungkin. Itu kan saya juga mungkin. Karena kapten, itu biasanya mereka komandan-komandan di situ. Tapi saya juga enggak tahu. Tapi kalau melihat ini dengan adanya seperti itu, yang saya tahu psikologisnya para prajurit itu ada kalanya seperti begitu. 'Gara-gara kamu masuk, gara-gara ini aku terhukum. Kalau aku terhukum, sudah, kumat usilnya. Kita carilah siapa itu yang bikin kita terhukum'," jelas Ponto.
"Karena begitu itu kan langsung yang dicari siapa yang jaga. Kita enggak tahu apa yang hukumannya terhadap mereka. Kita enggak tahu. Tapi kebiasaannya seperti itu. Ada yang tunda pangkat, ada yang tidak boleh sekolah, ada yang macam-macam," imbuh dia.
IDN Times menelusuri kembali dokumentasi visual pada 15 Maret 2025. Para penjaganya terlihat mengenakan pakaian sipil. Sehari usai terjadi penerobosan, TNI baru menyiagakan kendaraan taktis di depan Hotel Fairmont.