"Sebuah kapal yang membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya telah diserang dan dihentikan. Penutupan akan dilakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut dan sampai berakhirnya campur tangan Amerika Serikat di wilayah ini. Tindakan agresi terhadap Iran akan ditanggapi dengan keras dan pangkalan musuh baru di wilayah tersebut akan menjadi sasaran," bunyi pernyataan resmi Angkatan Laut IRGC, seperti dilansir The New Arab.
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, AS Balas dengan Serangan

- Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah kapal asing dianggap melanggar jalur resmi, disertai serangan oleh Korps Garda Revolusi Iran terhadap kapal tersebut.
- Amerika Serikat membalas dengan operasi militer besar melalui CENTCOM, menyerang sekitar 140 target di Iran termasuk fasilitas misil, drone, dan komunikasi.
- Langkah Iran ini memperburuk hubungan dengan AS yang sebelumnya telah menghentikan serangan dan memilih jalur diplomasi di bawah pemerintahan Donald Trump.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (11/7/2026) malam waktu setempat. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menjelaskan, langkah ini dilakukan karena ada kapal yang berlayar di selat tersebut di luar jalur yang sudah ditentukan. IRGC juga telah menyerang kapal tersebut sebagai hukuman.
1. Amerika Serikat membalas dengan serangan ke Iran

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini langsung direspons dengan tegas oleh AS. Negeri Paman Sam langsung membalas dengan meluncurkan serangan ke Iran. Serangan itu dilakukan oleh Komando Tengah (CENTCOM) AS. Saat serangan terjadi, ledakan terdengar di sejumlah wilayah yang ada di Iran, seperti di Chabahar di Qeshm Island, Bandar Abbas, Sirik, Bushehr, dan Asaluyeh.
“Pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan ketiga terhadap Iran minggu ini setelah pasukan Korps Garda Revolusi Iran secara terang-terangan menyerang M/V GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz. Seorang awak kapal sipil hilang dan kapal tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kebakaran di dalam kapal yang menimbulkan kerusakan berat di ruang mesin,” jelas CENTCOM dalam sebuah unggahan di media sosial X.
2. AS menyerang 140 target militer di Iran

CENTCOM menambahkan, pihaknya berhasil membombardir sekitar 140 target militer di Iran dalam serangan tersebut. Beberapa di antara, seperti situs misil dan drone, kapal perang, fasilitas penyimpanan amunisi, jaringan komunikasi, hingga sistem pengawasan pesisir milik Iran.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, ikut menanggapi serangan CENTCOM ke Iran. Dalam sebuah unggahan di X, Hegseth mengatakan bahwa semua serangan yang dilakukan oleh AS merupakan konsekuensi yang harus diterima Iran karena mereka sudah memilih tindakan yang bodoh, yakni kembali menutup Selat Hormuz. “Iran sudah memilih pilihan yang bodoh. Sekarang, saatnya mereka membayarnya,” tegas Hegseth.
3. AS sebelumnya sudah memutuskan untuk berhenti menyerang Iran

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini tentu memperburuk konflik dengan AS. Padahal, Washington sebelumnya sudah memutuskan untuk berhenti menyerang Teheran. Sebab, Presiden Donald Trump lebih memilih jalur damai untuk meredam konflik dengan Iran.
Trump juga mengklaim Iran telah meminta dirinya untuk melanjutkan negosiasi agar perang tidak kembali meletus. Namun, klaim itu langsung dibantah oleh Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pihaknya sama sekali tidak meminta AS atau Trump untuk melanjutkan negosiasi. Iran justru menegaskan akan membalas AS jika mereka kembali digempur.


















