Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
169 Orang Tewas akibat Serangan di Sudan Selatan
ilustrasi prajurit di Afrika (rawpixel.com/The African Union Mission in Somalia)
  • Serangan kelompok bersenjata di Wilayah Administratif Ruweng, Sudan Selatan, menewaskan sedikitnya 169 orang dan melukai 50 lainnya, termasuk anak-anak serta pejabat daerah.
  • Bentrokan berlangsung selama beberapa jam sebelum tentara menguasai kembali wilayah Abiemnhom, sementara ratusan warga sipil berlindung di pangkalan UNMISS untuk mendapatkan perlindungan dan perawatan medis.
  • Kekerasan terbaru memperburuk situasi keamanan di Sudan Selatan yang masih dilanda konflik internal, kemiskinan ekstrem, serta korupsi sejak berakhirnya perang saudara pada 2018.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 169 orang tewas dan 50 lainnya terluka akibat serangan kelompok bersenjata di sebuah kota di Wilayah Administratif Ruweng, Sudan Selatan.

Menteri Informasi wilayah tersebut, James Monyluak Mijok, mengatakan puluhan pemuda tak dikenal dari Kabupaten Mayom, negara bagian Unity, menyerbu Kabupaten Abiemnhom pada Minggu (1/3/2026) dini hari. Mereka juga membakar pasar dan rumah-rumah warga. Di antara korban tewas terdapat 82 anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia.

“Saya dengan sedih ingin memberitahukan bahwa di antara mereka yang tewas terdapat komisioner kabupaten dan direktur eksekutif,” kata Mijok, seraya menambahkan bahwa jumlah korban tewas kemungkinan akan bertambah.

1. Bentrokan berlangsung selama 3 hingga 4 jam

ilustrasi kebakaran (unsplash.com/Ricardo Gomez Angel)

Sebelumnya, pejabat tersebut mengatakan bahwa bentrokan berlangsung selama 3-4 jam, sebelum tentara berhasil memukul mundur para penyerang dari wilayah tersebut. Otoritas Abiemnhom kini telah kembali memegang kendali penuh.

“Pemerintah Wilayah Administratif Ruweng (GRAA) mengutuk keras tindakan biadab dan kebijakan pemusnahan ini. Pembantaian terhadap manusia ini setara dengan genosida dan tidak dapat ditoleransi,” kata Mijok kepada Anadolu, seraya mendesak pemerintah Negara Bagian Unity untuk menindak tegas para pelaku.

Sementara itu, Elizabeth Achol, menteri kesehatan di Ruweng utara, mengatakan sebanyak 169 korban tewas telah dimakamkan secara massal pada Senin (2/3/2026).

2. 26 staf MSF hilang akibat meningkatnya kekerasan di Jonglei

Logo Dokter Lintas Batas/Médecins Sans Frontières (Moiiinkhan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Pada Minggu, Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sudan Selatan (UNMISS) menyampaikan kekhawatirannya atas meningkatnya kekerasan di Abiemnhom dalam 48 jam terakhir.

“Pagi ini, pemuda bersenjata tak dikenal menyerang kantor pusat Kabupaten Abiemnom dan melukai sekitar 23 orang. Menanggapi memburuknya situasi keamanan, pasukan penjaga perdamaian untuk sementara menampung lebih dari 1.000 warga sipil di dalam pangkalan UNMISS di wilayah tersebut serta memberikan perawatan medis darurat kepada para korban luka,” demikian pernyataan UNMISS.

Dilansir dari Al Jazeera, Dokter Lintas Batas (MSF), pada Senin, juga melaporkan bahwa 26 stafnya hilang setelah meningkatnya kekerasan di negara bagian Jonglei dalam beberapa pekan terakhir.

“Sebanyak 26 dari 291 rekan MSF yang bekerja di Lankien dan Pieri masih belum diketahui keberadaannya setelah kekerasan baru-baru ini, dan kami kehilangan kontak dengan mereka di tengah situasi keamanan yang terus berlanjut,” kata MSF dalam sebuah pernyataan.

Kelompok bantuan medis itu telah menangguhkan layanan di Lankien dan Pieri. Kedua wilayah tersebut berada di Jonglei, yang telah dilanda bentrokan besar-besaan antara pasukan pemerintah dan oposisi sejak Desember 2025.

3. Sudan Selatan dibayangi perang saudara, kemiskinan, dan korupsi

pria Sudan memegang senapan G3 (Steve Evans, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Sudan Selatan, negara termuda di dunia, telah dilanda perang saudara, kemiskinan, dan korupsi besar-besaran sejak berdiri pada 2011. Ketidakstabilan semakin mendalam sejak mantan Wakil Presiden Pertama Riek Machar ditangkap tahun lalu.

Pada 2018, Presiden Salva Kiir menandatangani perjanjian damai dengan Machar untuk mengakhiri 5 tahun perang saudara yang telah menewaskan sekitar 400 ribu orang. Namun, implementasi kesepakatan tersebut berjalan lambat, dan pihak-pihak yang berseberangan kerap terlibat bentrokan akibat perbedaan pandangan mengenai pembagian kekuasaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team