WFP Tangguhkan Operasi Bantuan di Sudan Selatan usai Aksi Penjarahan

- Pihak berwenang berjanji akan tingkatkan pengamanan.
- Sejumlah fasilitas bantuan juga dijarah atau dirusak di wilayah lainnya.
- Serangan di Sudan Selatan membuat 250 ribu orang kehilangan akses ke layanan kesehatan.
Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia (WFP) mengumumkan telah menangguhkan operasinya di beberapa wilayah di Sudan Selatan menyusul serangan terhadap konvoi bantuan pekan lalu. Hal itu disampaikan pada Rabu (4/2/2026).
WFP mengatakan bahwa antara Jumat (30/1/2026) hingga Minggu (1/2/2026), konvoi yang terdiri dari 12 kapal yang mengangkut lebih dari 1.500 ton pangan dan bantuan penting lainnya diserang beberapa kali oleh pemuda bersenjata di kabupaten Baliet, negara bagian Upper Nile. Muatan tersebut kemudian dijarah tanpa adanya intervensi dari pihak berwenang setempat, meski sebelumnya telah memberikan jaminan keamanan untuk kelancaran pengiriman bantuan.
“WFP telah menghentikan semua kegiatan di Kabupaten Baliet sampai keselamatan dan keamanan staf, mitra dan kontraktornya terjamin, dan pemerintah berhasil menemukan kembali barang-barang yang dicuri," kata WFP.
1. Pihak berwenang berjanji akan tingkatkan pengamanan

Komisaris kabupaten Baliet, Joseph Deng, menjelaskan bahwa personel keamanan pemerintah telah berusaha melindungi konvoi bantuan setelah para pemuda bersenjata merebut salah satu dari 12 kapal tersebut. Namun, upaya itu gagal karena pasukan keamanan kewalahan menghadapi serangan mereka.
“Para pemuda itu kembali mengerahkan diri dan menyerang 11 kapal lainnya hingga semuanya direbut. Pasukan keamanan yang hadir kewalahan dan tidak bisa melindungi kapal-kapal tersebut karena para pemuda bersenjata dan menembak,” kata Deng, dikutip dari The New Arab.
Ia menyayangkan keputusan WFP untuk menangguhkan operasi di Baliet, sementara banyak warga di sana masih sangat membutuhkan bantuan.
“Anda tidak dapat menghukum orang-orang yang tidak bersalah ini hanya karena tindakan segelintir individu. Kami memastikan hal ini tidak terjadi lagi. Kami juga meningkatkan jumlah pasukan keamanan untuk melindungi seluruh pasokan kemanusiaan,” tambah Deng.
2. Sejumlah fasilitas bantuan juga dijarah atau dirusak di wilayah lainnya

Sudan Selatan telah dilanda perang saudara, kemiskinan dan korupsi besar-besaran sejak negara itu dibentuk pada 2011. Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), pertempuran dan serangan udara telah memaksa sekitar 280 ribu orang mengungsi sejak akhir Desember 2025, termasuk lebih dari 235 ribu di negara bagian Jonglei.
Banyak dari mereka melarikan diri ke wilayah dengan layanan air, sanitasi, dan kesehatan yang minim, sehingga risiko wabah penyakit meningkat tajam.
Sementara itu, mitra kemanusiaan melaporkan bahwa sedikitnya tujuh fasilitas bantuan di Jonglei telah dijarah atau dirusak, sementara aset disita dan pekerja bantuan diintimidasi. Akibatnya, operasi bantuan terpaksa dihentikan di beberapa lokasi.
3. Serangan di Sudan Selatan membuat 250 ribu orang kehilangan akses ke layanan kesehatan

Organisasi bantuan medis Dokter Lintas Batas (MSF) mengatakan bahwa pasukan pemerintah mengebom rumah sakit mereka di Lankien, Jonglei, pada 3 Februari. Serangan tersebut menghancurkan gudang utama dan banyak pasokan medis penting. Seorang staf MSF juga mengalami luka ringan.
Pada hari yang sama, fasilitas kesehatan MSF lainnya di Pieri juga dijarah oleh orang-orang tak dikenal, sehingga memaksa staf melarikan diri. Kelompok bantuan tersebut mengatakan bahwa kekerasan ini membuat sekitar 250 ribu orang kehilangan akses ke layanan kesehatan, mengingat MSF merupakan satu-satunya penyedia layanan di wilayah tersebut.


















