Jakarta, IDN Times - Militer Korea Selatan menuntut Korea Utara meminta maaf atas ledakan ranjau darat di sepanjang perbatasan kedua negara yang melukai tiga personel militer Seoul. Ledakan terjadi di sisi Korea Selatan dari zona demiliterisasi (DMZ) pada 21 September.
Korea Selatan yakin ranjau yang meledak berasal dari Korea Utara. Seoul menyebut insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku selama puluhan tahun.
Militer Korea Selatan juga memperingatkan akan mengambil tindakan yang sesuai atas insiden tersebut. Sementara itu, Korea Utara membantah bertanggung jawab dan menyebut tudingan Seoul tidak berdasar.
Pada Rabu (30/9/2026), Korea Selatan kembali mendesak Korea Utara meminta maaf serta segera menghentikan aktivitas pembangunan dan penguatan perbatasan yang disebut melibatkan penanaman ranjau.
