Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
6 Warga China Dihukum Seumur Hidup atas Pembunuhan di Kamboja
Ilustrasi borgol. (pexels.com/Kindel Media)
  • Enam warga China dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Pengadilan Kampot atas penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan mahasiswa Korea Selatan berusia 22 tahun di Kamboja.
  • Korban bernama Park terjebak lowongan kerja palsu, diculik, dipaksa bekerja dalam sindikat penipuan daring, disiksa hingga tewas, dan jasadnya ditemukan di mobil dekat Gunung Bokor pada Agustus 2025.
  • Kasus ini memicu desakan internasional agar Kamboja memperketat penindakan terhadap sindikat kejahatan siber lintas negara yang marak di Asia Tenggara akibat lemahnya penegakan hukum lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pengadilan Provinsi Kampot, Kamboja, menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada enam warga negara China atas kasus penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan keji terhadap seorang mahasiswa asal Korea Selatan (Korsel) berusia 22 tahun.

Pengadilan menyatakan bukti yang diajukan cukup untuk menghubungkan mereka dengan kejahatan tersebut. Kamboja tidak menerapkan hukuman mati, sehingga penjara seumur hidup merupakan hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan di negara tersebut, dilansir Korea Herald pada Kamis (28/5/2026).

1. Kronologi kejadian yang menimpa mahasiswa Korsel tersebut

Korban diidentifikasi dengan nama belakang Park dan merupakan mahasiswa asal Provinsi Gyeongsang Utara, Korsel. Kasus ini bermula pada tahun lalu, ketika Park terpikat jaringan penipuan lowongan kerja palsu dan terbang ke Kamboja.

Sesampainya di sana, korban diculik, ditahan, dipaksa bekerja dan diperdagangkan di antara beberapa sindikat cyber scam (penipuan daring) yang dikelola oleh warga negara China. Selama ditahan, Park berulang kali disiksa secara brutal dan dipaksa menggunakan narkoba hingga akhirnya tewas karena penganiayaan tersebut.

Pihak keluarga sempat menerima permintaan tebusan sebesar 50 juta won (sekitar Rp591,2 juta) dan mengancam akan menjual Park ke luar negeri. Pada Agustus 2025, jenazah Park akhirnya ditemukan di dalam sebuah mobil di dekat Gunung Bokor, Provinsi Kampot. Menurut penyelidik, tubuh korban menunjukkan tanda-tanda penyiksaan berat.

2. Penangkapan jaringan lintas negara

Ilustrasi penangkapan yang dilakukan oleh polisi. (unsplash.com/AJ Colores)

Keenam terdakwa yang berusia antara 30-54 tahun ini dinyatakan bersalah atas dakwaan pembunuhan dengan kekejaman ekstrem, penahanan ilegal, serta penipuan terorganisir.

Dalang utama kejahatan ini, Li Guanghao, sempat buron selama beberapa bulan sebelum berhasil ditangkap di Phnom Penh pada November lalu. Penangkapan ini merupakan hasil operasi gabungan antara Badan Intelijen Nasional Korea (NIS) dan Kepolisian Kamboja. Li dilaporkan juga terlibat dalam kasus kriminal narkoba di distrik Gangnam, Seoul, pada 2023, The Korea Times melaporkan.

3. Krisis kejahatan siber Asia Tenggara

Potret kota Phnom Penh di Kamboja. (unsplash.com/Vanna Phon)

Kasus tragis ini kembali memicu desakan internasional, khususnya dari pemerintah Korsel, agar Kamboja memperketat penindakan terhadap pertumbuhan kompleks penipuan berskala besar.

Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Asia Tenggara seperti Kamboja dan Myanmar telah menjadi episentrum kejahatan siber lintas batas. Lemahnya penegakan hukum lokal dimanfaatkan oleh sindikat kriminal untuk menjebak, menculik, melakukan perdagangan manusia, dan memaksa ribuan warga asing bekerja dalam operasi penipuan investasi bodong dan kripto, dilansir NHK News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article