ilustrasi penipuan online (pixabay.com/Bru-nO)
Penyelidikan ini turut menyeret tiga perwira tinggi militer dan kepolisian Kamboja yang diduga memiliki hubungan langsung dengan operasional perusahaan keamanan maupun kompleks penipuan. Leap Somnang Security, perusahaan dengan jangkauan terbesar yang menjaga 15 kompleks di delapan provinsi, dikendalikan oleh Kolonel Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja, Ban Sophat, yang menampilkan dirinya di publik sebagai komisaris utama.
Perwira kedua adalah Wakil Kepala Kepolisian Provinsi Svay Rieng, Lay Channy, yang nomor telepon pribadinya tercantum pada papan nama kantor cabang Best Security di kota perbatasan Bavet meski ia ikut terlibat dalam operasi penggerebekan di wilayah tersebut. Selain itu, anggota unit pengawal perdana menteri berpangkat Brigadir Jenderal, Tek Bunthoeun, disebut memiliki kepentingan langsung pada lahan kompleks penipuan di Provinsi Banteay Meanchey yang dikembangkan oleh perusahaan properti milik istrinya.
"Selama bertahun-tahun, para penyintas dari kompleks mengerikan ini mengaku bertemu anggota militer atau polisi Kamboja di dalam lokasi. Pengakuan tersebut sebelumnya tidak dapat diverifikasi secara independen hingga saat ini," kata Callamard, dikutip dari The Independent.
Melansir CamboJA News, beberapa perusahaan penjagaan tersebut juga terhubung dengan jaringan konglomerat keuangan dan elite politik Kamboja. Security Response memiliki hubungan bisnis dan kesamaan direksi dengan Panda Commercial Bank serta Huione Group, konglomerat keuangan Kamboja yang telah diputus dari sistem perbankan Amerika Serikat (AS) akibat pencucian uang. Sementara itu, posisi direktur di ZD Security pernah dijabat oleh putra mantan Wakil Perdana Menteri Yim Chhayly, Yim Leak, yang pada Selasa (27/10/2026) dikenai surat perintah penangkapan oleh pengadilan Thailand terkait pencucian uang sindikat penipuan dengan ancaman penyitaan aset lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar Rp18,16 triliun).