Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Koran Independen Tertua Rusia Novaya Gazeta Tutup karena Tekanan

3 min read
Koran Independen Tertua Rusia Novaya Gazeta Tutup karena Tekanan
ilustrasi koran. (unsplash.com/Tim Mossholder)
  • Novaya Gazeta mengumumkan berhenti beroperasi setelah tekanan aparat Rusia terhadap redaksi yang kritis melaporkan invasi Ukraina; edisi terakhir akan terbit sebelum server dimatikan.
  • Aparat mengusir staf dari kantor Moskow, menangkap redaktur Oleg Roldugin, memeriksa Pemimpin Redaksi Sergei Sokolov, serta sebelumnya menetapkan media itu sebagai agen asing.
  • Didirikan pada 1993, Novaya Gazeta dikenal lewat investigasi korupsi dan pelanggaran HAM; sedikitnya enam jurnalis atau kontributornya tewas dibunuh sepanjang sejarahnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Surat kabar independen tertua dan terkemuka di Rusia, Novaya Gazeta, mengumumkan penutupan operasionalnya pada Jumat (30/10/2026). Keputusan ini diambil menyusul tekanan aparat negara terhadap para jurnalisnya yang kritis melaporkan invasi Rusia ke Ukraina.

Media yang telah beroperasi lebih dari tiga dekade tersebut berencana menerbitkan satu edisi terakhir sebelum mematikan server mereka. Tim redaksi dijadwalkan mengosongkan kantor pusat mereka di Moskow pada 9 November mendatang, setelah otoritas setempat mulai mengusir staf pada Kamis.

  1. 1. Staf Novaya Gazeta ditekan dan diusir dari kantornya di Moskow

    pendiri Novaya Gazeta, Dmitry Muratov
    pendiri Novaya Gazeta, Dmitry Muratov (Michał Siergiejevicz, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Pemimpin Redaksi Novaya Gazeta, Sergei Sokolov, menyampaikan pengumuman penutupan tersebut melalui pernyataan video di YouTube. Dewan redaksi turut merilis pernyataan perpisahan tertulis di situs resmi dan saluran Telegram mereka pada hari yang sama.

    "Novaya Gazeta telah dibunuh dan mengakhiri keberadaannya. Otoritas serta dinas khusus Rusia telah memaksa tim redaksi menghentikan pekerjaannya," ujar Sokolov, dilansir The Guardian.

    Sokolov menyebut jajaran redaksinya berhasil bertahan di bawah pengawasan ketat dinas intelijen selama hampir lima tahun perang berlangsung. Namun, ruang gerak mereka kini telah habis sepenuhnya di tengah pembungkaman kebebasan berpendapat di negara tersebut.

    Kabar pengusiran ini mencuat saat mantan pemimpin redaksi sekaligus pendiri Novaya Gazeta, Dmitry Muratov, sedang menuju Prancis. Ia dijadwalkan menghadiri acara peringatan 20 tahun pembunuhan jurnalis investigasi mereka, Anna Politkovskaya.

  2. 2. Aparat telah menangkap dan memeriksa beberapa staf

    Ilustrasi Bendera Rusia
    Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

    Penutupan ini merupakan puncak dari serangkaian tindakan hukum aparat Rusia terhadap staf Novaya Gazeta dalam beberapa bulan terakhir. Pada April lalu, aparat menangkap redaktur pelaksana Oleg Roldugin atas tuduhan mengakses dan menggunakan informasi pribadi melalui komputer tanpa izin.

    Melansir kantor berita pemerintah RIA, Roldugin membantah dakwaan tersebut di pengadilan. Ia kini menjalani tahanan rumah yang diperpanjang hingga 10 November sembari menunggu proses persidangan.

    Polisi juga menggeledah apartemen Sokolov pada 15 Oktober dan membawanya untuk diperiksa terkait kasus Roldugin sebelum akhirnya dibebaskan. Organisasi kebebasan pers Reporters Without Borders mengecam rentetan intimidasi hukum yang menimpa ruang redaksi media tersebut.

    Selain penindakan aparat, Kementerian Kehakiman Rusia telah menetapkan Novaya Gazeta sebagai agen asing pada September lalu. Seorang staf anonim mengungkapkan kekhawatiran bahwa pemerintah akan segera menjatuhkan status hukum yang lebih berat seperti label organisasi ekstremis atau terlarang.

    "Satu-satunya langkah tersisa dalam lintasan ini adalah penghancuran orang-orangnya sendiri, termasuk tuntutan pidana dan penangkapan. Mereka sudah menyandera satu dari kami, yaitu Oleg Roldugin," kata staf tersebut, dilansir The Moscow Times.

  3. 3. Rekam jejak jurnalisme Novaya Gazeta

    Novaya Gazeta berdiri pada 1993 setelah runtuhnya Uni Soviet dengan bantuan dana hadiah Nobel Perdamaian milik pemimpin terakhir Soviet, Mikhail Gorbachev. Surat kabar ini membangun reputasi lewat laporan investigasi mengenai korupsi pemerintah, kebrutalan polisi, kecurangan pemilu, hingga pelanggaran hak asasi manusia di Chechnya.

    Sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022, surat kabar ini menghentikan penerbitan cetak akibat undang-undang sensor masa perang. Pengadilan Rusia kemudian mencabut izin media mereka pada tahun yang sama, sementara sejumlah staf mendirikan edisi Eropa di Paris pada 2024.

    Melansir RFE/RL, dedikasi menjaga kebebasan berekspresi di Rusia mengantarkan Dmitry Muratov meraih penghargaan Nobel Perdamaian pada 2021. Namun, ia terpaksa mundur dari jabatan pemimpin redaksi pada 2023 setelah pemerintah menetapkan dirinya sebagai agen asing.

    Sepanjang sejarah operasionalnya, sedikitnya enam jurnalis dan kontributor Novaya Gazeta tewas dibunuh akibat pekerjaan investigasi mereka. Salah satu kasus paling menonjol adalah penembakan Anna Politkovskaya di apartemennya di Moskow pada Oktober 2006, tepat di hari ulang tahun Presiden Vladimir Putin.

    Selain Politkovskaya, jurnalis Yury Shchekochikhin yang menyelidiki korupsi militer meninggal mendadak pada Juli 2003 akibat dugaan diracun sebelum terbang ke Amerika Serikat. Empat staf lainnya yang turut tewas meliputi Igor Domnikov, Stas Markelov, Anastasia Baburova, dan Natalia Estemirova.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More