Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Arab Saudi Desak AS Setop Blokade Selat Hormuz
potret bendera Arab Saudi (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • Arab Saudi mendesak Amerika Serikat menghentikan blokade di Selat Hormuz karena dinilai bisa memperburuk ketegangan regional dan mengganggu pasokan minyak global.
  • AS memblokade Selat Hormuz untuk menekan Iran agar menyetujui kesepakatan perdamaian, namun langkah ini menuai kritik dari sekutu Teluk termasuk Arab Saudi.
  • Meski negosiasi AS-Iran di Pakistan sempat buntu, kedua pihak berencana melanjutkan perundingan demi mencapai perdamaian permanen di kawasan Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Arab Saudi dilaporkan telah mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan blokade di Selat Hormuz. Kabar tersebut disampaikan dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) pada Senin (13/4/2026) berdasarkan informasi dari seorang pejabat Arab Saudi yang enggan disebut namanya.    

Menurut Arab Saudi, AS harus segera menghentikan blokade di Selat Hormuz karena tindakan tersebut bisa membuat situasi di Timur Tengah makin panas. Arab Saudi khawatir, jika AS terus memblokade Selat Hormuz, Iran bisa meminta bantuan Houthi Yaman untuk memblokade Selat Bab-el Mandeb. Jika hal itu terjadi, maka pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global akan terganggu sehingga harganya bisa kembali naik. 

“Blokade AS (di Selat Hormuz) secara paradoks akan lebih merugikan sekutunya daripada Iran, mendestabilisasi pasar dan mengikis kredibilitas negara-negara Teluk sebagai pemasok yang dapat diandalkan,” jelas seorang analis asal Bahrain, Ahmed Alkhuzaie, seperti dilansir Jerusalem Post, Selasa (14/4/2026).

1. AS memblokade Selat Hormuz untuk menekan Iran

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/OpenStreetMap)

AS sendiri mulai memblokade Selat Hormuz pada Senin. Langkah ini dilakukan untuk menekan Iran agar mau menyetujui kesepakatan perdamaian dengan AS.  

Blokade ini praktis membuat kapal-kapal dari seluruh negara di dunia tidak bisa masuk dan keluar dari Selat Hormuz. Mereka yang melanggar akan diberi sanksi tegas oleh AS.

Pada Selasa kemarin, misalnya, AS memberi sanksi terhadap kapal tanker dari China yang melintas di Selat Hormuz. Kapal yang dilaporkan membawa 250 ribu barel metanol itu menjadi kapal pertama yang disanksi AS karena melanggar blokade di Selat Hormuz.

2. Arab Saudi mendesak AS untuk kembali berunding dengan Iran

ilustrasi negosiasi (pexels.com/Werner Pfennig)

Selain mendesak penyetopan blokade Selat Hormuz, Arab Saudi juga mendesak AS untuk kembali berunding dengan Iran agar perang bisa berakhir permanen. Sebab, perundingan damai yang dilakukan kedua negara di Islamabad, Pakistan, pada pekan lalu menemui jalan buntu. Padahal, kedua negara kala itu sudah melakukan perundingan panjang selama 21 jam.

Dalam pernyataannya, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan, gagalnya negosiasi di Pakistan disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan dunia, khususnya di Timur Tengah. Namun, Iran menolak syarat tersebut. 

“Jadi, kami kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan-batasan kami,” kata Vance usai menggelar pertemuan dengan perwakilan Iran dilansir Times of Israel.

3. Perundingan damai AS dan Iran disebut bakal berlanjut

ilustrasi perdamaian (unsplash.com/Road Ahead)

Meski berakhir nihil, seorang sumber internal Pemerintah Pakistan mengatakan, proses perundingan damai antara AS dan Iran akan berlanjut. Hal ini merupakan upaya agar perang antara Iran dengan AS dan Israel bisa berakhir permanen. Jika negosiasi tidak dilanjutkan, perang dikhawatirkan akan kembali pecah.

Vance mengatakan, delegasi AS akan terbang lagi ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi. Sebab, dalam pernyataan terbarunya, Vance mengklaim Iran kini sudah menyetujui semua syarat yang diberikan AS untuk mencapai perdamaian. 

"AS benar-benar sudah mendapatkan persetujuan atas persyaratan yang telah kami tetapkan, baik dari pemimpin tertinggi atau orang lain,” jelas Vance dilansir Jerusalem Post

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team