Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/WhiteHouse)
Aset militer AS belum akan berada dalam posisi lengkap hingga awal November 2026. Aset tersebut mencakup tiga kapal induk, ribuan marinir, jet tempur, dan pasukan operasi khusus. Persenjataan dalam jumlah besar juga sedang dipersiapkan.
Washington masih berupaya mencapai kesepakatan dengan Teheran mengenai program nuklir Iran dan pengendalian Selat Hormuz. AS juga menggunakan kemungkinan dimulainya kembali perang sebagai tekanan dalam perundingan.
Namun, negosiator Iran sejauh ini belum bersedia memberikan konsesi mengenai program nuklir dan bersikeras menunda pembahasan tersebut hingga tahap berikutnya.
Dana Stroul, mantan pejabat tinggi kebijakan Timur Tengah di Pentagon yang kini bekerja di Washington Institute for Near East Policy, meragukan efektivitas tekanan tersebut.
Ia mengatakan, "Pada tahap perang ini, yang jelas adalah operasi militer konvensional yang telah dilakukan, sanksi ekonomi yang berat, dan blokade laut Amerika belum mampu membawa rezim Iran kembali ke meja perundingan secara berarti."
Perubahan keputusan Trump juga menyulitkan perencanaan militer. Seorang komandan yang berbicara kepada The New York Times dengan syarat anonim menggambarkan dampaknya sebagai "day-to-day whiplash" atau perubahan situasi yang membuat perencana militer terumbang-ambing dari hari ke hari. Mereka harus tetap siap menjalankan opsi militer apa pun yang diputuskan Trump dalam beberapa pekan mendatang.