Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS dan Israel Siapkan Rencana Serangan Baru ke Iran usai Pemilu Sela
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/netanyahu)
  • Militer AS dan Israel menyusun rencana serangan pascapemilu sela AS 2026 yang menargetkan fasilitas energi, nuklir, serta persenjataan rudal dan drone Iran.

  • Donald Trump belum menyetujui operasi tersebut, sementara AS menyiapkan kapal induk, marinir, jet, dan persenjataan sambil memakai ancaman perang sebagai tekanan diplomasi nuklir.

  • Iran mengancam memperluas serangan balasan ke pusat data, kabel internet bawah laut, kapal komersial, dan infrastruktur energi; AS juga mengevakuasi pegawai nonesensial dari Arab Saudi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  -  Militer Amerika Serikat (AS) dan Israel menyusun rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan umum (pemilu) sela AS pada November 2026. Dilansir The New York Times, rencana tersebut mencakup kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi, instalasi nuklir, serta persenjataan rudal dan drone Iran.

Kedua militer juga meningkatkan latihan dengan menerbangkan pesawat di atas Irak untuk melatih manuver serangan. Namun, Presiden AS Donald Trump belum memutuskan untuk menyetujui serangan baru tersebut dan sebelumnya berulang kali menunda operasi militer terhadap Iran.

1. AS dan Israel siapkan target serangan baru

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/netanyahu)

Pejabat AS dan beberapa pihak yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan bahwa kedua militer telah menyusun rencana spesifik untuk menyerang Iran setelah pemilu sela AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel pada Senin (19/10/2026) untuk membahas kemungkinan serangan baru.

Kedua militer meningkatkan latihan dengan menerbangkan pesawat di atas Irak untuk melatih manuver serangan. Sejumlah perencana militer AS meyakini operasi militer intensif selama tiga hari dapat menimbulkan kerusakan ekonomi yang cukup besar sehingga Iran terdorong untuk mengubah sikap.

Akan tetapi, belum ada kepastian bahwa Trump akan menyetujui serangan tersebut. Pada awal Oktober 2026, ia kembali menunda operasi sesaat sebelum dimulai. Keputusan itu diambil usai kedua militer melakukan persiapan ekstensif dan menempatkan angkatan udara mereka dalam keadaan siaga tertinggi.

2. Trump pertimbangkan waktu serangan di tengah upaya diplomasi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (x.com/WhiteHouse)

Aset militer AS belum akan berada dalam posisi lengkap hingga awal November 2026. Aset tersebut mencakup tiga kapal induk, ribuan marinir, jet tempur, dan pasukan operasi khusus. Persenjataan dalam jumlah besar juga sedang dipersiapkan.  

Washington masih berupaya mencapai kesepakatan dengan Teheran mengenai program nuklir Iran dan pengendalian Selat Hormuz. AS juga menggunakan kemungkinan dimulainya kembali perang sebagai tekanan dalam perundingan. 

Namun, negosiator Iran sejauh ini belum bersedia memberikan konsesi mengenai program nuklir dan bersikeras menunda pembahasan tersebut hingga tahap berikutnya.

Dana Stroul, mantan pejabat tinggi kebijakan Timur Tengah di Pentagon yang kini bekerja di Washington Institute for Near East Policy, meragukan efektivitas tekanan tersebut. 

Ia mengatakan, "Pada tahap perang ini, yang jelas adalah operasi militer konvensional yang telah dilakukan, sanksi ekonomi yang berat, dan blokade laut Amerika belum mampu membawa rezim Iran kembali ke meja perundingan secara berarti."

Perubahan keputusan Trump juga menyulitkan perencanaan militer. Seorang komandan yang berbicara kepada The New York Times dengan syarat anonim menggambarkan dampaknya sebagai "day-to-day whiplash" atau perubahan situasi yang membuat perencana militer terumbang-ambing dari hari ke hari. Mereka harus tetap siap menjalankan opsi militer apa pun yang diputuskan Trump dalam beberapa pekan mendatang.

3. Iran ancam perluas target jika perang berlanjut

ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Pejabat Iran berjanji akan memperluas sasaran serangan balasan kali ini hingga mencakup pusat data dan kabel internet bawah laut, selain kapal komersial dan infrastruktur energi di kawasan. Mereka juga menegaskan bahwa pertempuran tidak akan berlangsung singkat atau terbatas.

Sementara itu, pejabat Gedung Putih mengatakan pada Rabu (21/10) pemerintah AS tidak mengomentari rencana militer "yang mungkin ada atau mungkin tidak ada". Ia menambahkan bahwa Trump tetap mempertimbangkan semua opsi untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat memperoleh senjata nuklir.

Kekhawatiran terhadap meluasnya konflik juga meningkat. Pada Rabu, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan pegawai pemerintah yang tidak bertugas dalam keadaan darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi di tengah serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sejumlah lokasi di negara tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article