Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Sebut Ada Rencana Rusia Serang 3 Negara NATO dengan Drone Laut

4 min read
AS Sebut Ada Rencana Rusia Serang 3 Negara NATO dengan Drone Laut
ilustrasi Amerika Serikat (pexels.com/Breet Sayles)
  • Intelijen AS memperingatkan dugaan rencana Rusia meluncurkan drone laut dari kapal dagang ke Prancis, Spanyol, dan Italia, dengan operasi berbiaya rendah di bawah ambang konflik langsung.
  • Target di Eropa selatan dikaitkan dengan kerentanan politik dan keterbatasan pertahanan udara; rangkaian insiden drone, sabotase, siber, serta gangguan infrastruktur meningkatkan kekhawatiran NATO.
  • Lithuania menyebut intelijen sekutu mengonfirmasi indikasi tekanan Rusia, tetapi Italia membantah ancaman itu; Kremlin juga konsisten menyangkal keterlibatan dalam sabotase dan rencana konfrontasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Intelijen Amerika Serikat (AS) memperingatkan adanya rencana Rusia memperluas tekanan terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) melalui serangan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari laut. Prancis, Spanyol, dan Italia disebut sebagai target potensial dalam laporan yang dibagikan kepada sejumlah pemerintah Eropa setelah Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Ratcliffe berkunjung ke Moskow pada akhir Agustus 2026. Laporan tersebut memuat skenario operasi berbiaya rendah yang dirancang agar tetap berada di bawah ambang keterlibatan militer langsung.

Surat kabar El Mundo, melalui jurnalis Xavier Colás, pertama kali mengungkap dokumen tersebut yang memuat skenario peluncuran drone dari kapal dagang berkedok lalu lintas niaga biasa. Jenis droneyang diperkirakan digunakan adalah Gerbera, perangkat kecil buatan Rusia sepanjang dua meter dengan bobot 18 kilogram, jangkauan 600 kilometer, serta kecepatan 160 km/jam.

Perangkat ini membawa muatan ledak empat hingga lima kilogram yang dapat memicu kebakaran, merusak peralatan terbuka, dan menghentikan sementara aktivitas pelabuhan atau bandara.

  1. 1. Rusia membidik kerentanan politik Eropa selatan

    ilustrasi pemungutan suara
    ilustrasi pemungutan suara (pexels.com/Edmond Dantès)

    Pemilihan kawasan Eropa selatan sebagai sasaran disebut berkaitan dengan tingkat kerentanan politik, bukan jarak geografis. Euronews mengutip pakar militer Inggris Keir Giles yang menyebut Moskow sengaja menyasar titik lemah di Eropa, termasuk Spanyol yang belum memiliki sistem pertahanan udara terpadu untuk menghadapi ancaman drone tersebut. Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya menyatakan rudal Rusia hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit lebih lama untuk mencapai Madrid dibandingkan Warsawa.

    Prancis, Spanyol, dan Italia juga akan menggelar pemilihan umum pada 2027, sementara dinamika politik di ketiga negara dinilai rentan dipengaruhi kelelahan sosial akibat perang di Ukraina. Kondisi tersebut berisiko memengaruhi stabilitas NATO sebagai aliansi pertahanan kolektif yang memandang serangan terhadap satu anggota sebagai serangan terhadap seluruh aliansi. Kerentanan ini kian menonjol di tengah keterbatasan jaringan radar, rudal, serta komando pertahanan udara terpadu di kawasan tersebut.

  2. 2. Sejumlah negara NATO menghadapi operasi bawah ambang perang

    ilustrasi bendera NATO
    ilustrasi bendera NATO (unsplash.com/Marek Studzinski)

    Kekhawatiran NATO berkaitan dengan sejumlah pola operasi yang berlangsung di bawah ambang perang. Unit angkatan laut Swedia mendeteksi drone yang terbang dari kapal intelijen Rusia di Selat Öresund pada Februari 2026, sementara Jerman menuduh Rusia berada di balik percobaan serangan drone di Bandara Leipzig/Halle pada Agustus 2026 yang melibatkan warga Belarusia dan Rusia berkoneksi intelijen militer.

    Polandia juga pernah melaporkan 19 drone tanpa senjata memasuki wilayah udaranya, disusul penyusupan helikopter Mi-8 dari Kaliningrad dan kebakaran stasiun komunikasi satelit Starlink di Polandia tengah yang memutus konektivitas kawasan. Dilansir The Independent, Inggris pun menghadapi gangguan drone liar di sekitar pangkalan militernya hampir setiap hari. Rangkaian kejadian ini merupakan bagian dari perang hibrida yang mencakup sabotase, serangan siber, disinformasi, dan gangguan prasarana tanpa konfrontasi terbuka.

  3. 3. Negara target membantah ancaman serangan Rusia

    ilustrasi bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)
    ilustrasi bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)

    Menteri Luar Negeri Lithuania Kestutis Budrys mengonfirmasi garis ancaman tersebut di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Reuters melaporkan Budrys menyebut data intelijen sekutu mengonfirmasi indikasi kuat mengenai perluasan tekanan itu, sementara Ratcliffe juga dilaporkan bertemu secara terpisah dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Bandara Shannon, Irlandia.

    “Ada beberapa pertimbangan di pihak Rusia untuk melakukan eskalasi secara horizontal, bisa dibilang, atau secara geografis,” kata Budrys kepada Reuters.

    Laporan mengenai potensi serangan tersebut mendapat bantahan dari negara yang disebut sebagai target karena dinilai dapat memicu kepanikan berlebihan. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menyampaikan penolakan itu untuk merespons spekulasi publik yang berkembang di media.

    “Tidak ada gunanya bagi siapa pun dan sama sekali tidak berdasar alarm yang dikibarkan pagi ini oleh sebuah surat kabar Spanyol yang menyarankan kemungkinan serangan terhadap Italia, Spanyol dan Prancis oleh kapal dan drone Rusia. Kita sudah hidup di masa-masa yang sulit dan tegang, dan tidak ada kebaikan bagi siapa pun untuk menambah bahan bakar ke dalam api,” kata Crosetto melalui unggahannya di media sosial X, dikutip Euronews.

    Dinas Intelijen Pertahanan Denmark memperkirakan Moskow akan meningkatkan serangan hibrida dalam beberapa bulan mendatang dengan dampak yang lebih luas. Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas menilai Rusia berupaya menakut-nakuti Eropa agar menghentikan dukungan kepada Ukraina dan mendesak pengetatan sanksi terhadap armada bayangan serta industri militer Moskow.

    Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menyebut serangan hibrida Rusia telah berubah menjadi aksi nyata berupa pembakaran, ledakan, dan pelanggaran wilayah udara. Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Polandia Krzysztof Gawkowski menduga kebakaran stasiun Starlink merupakan bagian dari doktrin baru Moskow meski pelakunya belum ditetapkan secara resmi.

    Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna menyatakan Rusia belum mampu menyiapkan agresi militer aktif terhadap NATO karena pasukannya masih tertahan di Ukraina. Adapun pihak Kremlin secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi sabotase maupun rencana konfrontasi di negara-negara anggota NATO.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More