Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Australia Ingin Perluas Impor Kakao RI Lewat Katalis 2.0
Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Australia meluncurkan Katalis 2.0 untuk memperluas impor kakao dari Indonesia, memanfaatkan posisi RI sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia dan mitra utama dalam IA-CEPA.
  • Katalis 2.0 menargetkan pertumbuhan ekonomi inklusif dengan mendukung UMKM, bisnis yang dipimpin perempuan, serta kelompok yang belum banyak mengakses peluang perdagangan dan investasi bilateral.
  • Program ini memperkuat kemitraan ekonomi RI-Australia melalui kemudahan visa bisnis, peningkatan investasi, dan kolaborasi lintas sektor guna mendorong pertumbuhan serta lapangan kerja di kedua negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dengan Indonesia melalui perluasan perdagangan kakao dan produk turunannya. Peluang tersebut menjadi salah satu fokus dalam peluncuran Katalis 2.0 sebagai kelanjutan program kerja sama ekonomi di bawah Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite mengatakan, Australia memiliki tingkat konsumsi cokelat yang tinggi, tetapi masih bergantung pada impor karena produksi kakao dalam negeri terbatas.

Ia menyebut Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki peluang besar untuk memperluas akses pasar kakao ke Australia karena merupakan salah satu produsen kakao terbesar di kawasan dan masuk dalam jajaran produsen terbesar dunia.

“Seperti yang Anda ketahui, kami juga mengimpor beberapa kakao, cocoa butter, dan pasta kakao dari Indonesia. Kami ingin melakukannya lebih banyak lagi karena Indonesia merupakan salah satu produsen biji kakao terbesar di kawasan dan terbesar keenam di dunia,” ujar Thistlethwaite saat peluncuran Katalis 2.0 di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menurutnya, peningkatan perdagangan kakao menjadi bagian dari hubungan ekonomi Indonesia dan Australia yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan terus berkembang melalui IA-CEPA.

1. Kakao Indonesia berpeluang perluas pasar Australia

Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Thistlethwaite mengatakan, Australia membutuhkan lebih banyak pasokan kakao dari Indonesia karena kedua negara memiliki kedekatan geografis, hubungan kemitraan, dan kerja sama perdagangan yang terus meningkat.

Ia menjelaskan, melalui Katalis fase pertama, pemerintah Australia telah membantu pelaku usaha Indonesia memanfaatkan peluang yang tersedia dalam IA-CEPA melalui berbagai program, mulai dari riset pasar, lokakarya, hingga mempertemukan eksportir Indonesia dengan pasar Australia. Menurutnya, program tersebut telah memberikan dampak terhadap peningkatan ekspor kakao Indonesia ke Australia.

“Sebagai hasilnya, beberapa produsen kakao premium Indonesia telah memasuki pasar Australia, menjadi bagian dari peningkatan tiga kali lipat nilai ekspor kakao Indonesia ke Australia antara 2022 dan 2025,” katanya.

Selain kakao, Thistlethwaite menyebut, Katalis juga mendukung berbagai sektor lain, termasuk perusahaan teknologi digital Indonesia yang ingin memperluas pasar ke Australia serta kerja sama pengembangan tenaga kesehatan melalui pelatihan yang diakui Australia.

Ia mengatakan, berbagai proyek tersebut menunjukkan bagaimana perjanjian perdagangan dapat diterjemahkan menjadi peluang nyata bagi dunia usaha dan masyarakat kedua negara.

2. Katalis 2.0 dorong UMKM dan pertumbuhan ekonomi inklusif

Peluncuran Katalis 2.0 sebagai upaya implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Thistlethwaite mengatakan, Katalis 2.0 akan berfokus pada upaya memperluas manfaat kerja sama ekonomi agar dapat dirasakan lebih banyak pihak, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisnis yang dipimpin perempuan, serta kelompok yang selama ini belum banyak memperoleh akses terhadap perdagangan dan investasi.

“Fase kedua akan berfokus pada pertumbuhan ekonomi inklusif untuk mendukung usaha kecil dan menengah, bisnis yang dipimpin perempuan, serta kelompok yang belum banyak memanfaatkan peluang perdagangan dan investasi bilateral,” ujarnya.

Ia menegaskan, Australia dan Indonesia akan terus mencari peluang konkret melalui IA-CEPA dengan menghubungkan pelaku usaha, mendorong investasi, mendukung pengembangan keterampilan, serta membangun kemitraan yang memberikan dampak nyata.

Thistlethwaite juga mengatakan, pemerintah Australia akan berupaya mengurangi hambatan perdagangan dan investasi, termasuk memberikan kemudahan bagi pelaku usaha Indonesia yang ingin melakukan perjalanan bisnis ke Australia.

“Kami juga akan melakukan yang terbaik dari sisi pemerintah untuk menghilangkan hambatan perdagangan dan investasi, termasuk membuat peluang bagi pelaku bisnis Indonesia untuk bepergian dan bekerja di Australia menjadi semudah mungkin,” katanya.

3. RI-Australia perkuat kemitraan ekonomi lewat IA-CEPA

Wamendag RI, Dyah Roro Esti Widya Putri. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Thistlethwaite menyebut, Katalis 2.0 menjadi bagian dari upaya memperdalam hubungan ekonomi kedua negara melalui IA-CEPA yang telah membuka berbagai peluang kerja sama. Ia mengatakan, Australia sebelumnya telah memperpanjang masa berlaku visa kunjungan bisnis bagi warga Indonesia menjadi lima tahun sejak 2024 serta menyediakan skema frequent traveller bagi pengunjung Indonesia yang memenuhi syarat.

Menurutnya, kemudahan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah Australia untuk memperkuat hubungan bisnis dan investasi antara kedua negara.

“Dengan Katalis 2.0, kita memiliki sarana untuk terus memperluas dan memperdalam kemitraan ekonomi, mendorong pertumbuhan, lapangan kerja, dan kemakmuran bagi dua negara kita, bagi dunia usaha, dan bagi masyarakat kita,” ujar Thistlethwaite.

Ia berharap program tersebut dapat semakin memperkuat hubungan Indonesia dan Australia sebagai negara tetangga sekaligus mitra strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Curated For You

Editorial Team

Related Article