Katalis 2.0 Diluncurkan, RI-Australia Bidik Kerja Sama SDM hingga UMKM

- Indonesia dan Australia meluncurkan Katalis 2.0 untuk memperkuat implementasi IA-CEPA, dengan fokus pada pengembangan SDM, dukungan UMKM, serta peningkatan peluang investasi kedua negara.
- Kedua negara sepakat meninjau ulang IA-CEPA agar tetap relevan menghadapi dinamika ekonomi global, sekaligus mengidentifikasi sektor baru yang berpotensi memperluas manfaat kerja sama perdagangan.
- Katalis 2.0 menekankan dukungan bagi UMKM, terutama yang dipimpin perempuan, serta mendorong kolaborasi di bidang pendidikan, ekonomi hijau, dan mobilitas tenaga kerja antara Indonesia dan Australia.
Jakarta, IDN Times - Indonesia dan Australia meluncurkan Katalis 2.0 sebagai upaya memperkuat implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Program tersebut diarahkan untuk mendorong kerja sama ekonomi yang lebih inklusif melalui penguatan usaha kecil dan menengah (UKM), peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga perluasan peluang investasi kedua negara.
Peluncuran Katalis 2.0 dilakukan Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri bersama Wakil Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite di Jakarta.
Dalam sambutannya, Roro mengatakan Katalis 2.0 bukan sekadar peluncuran program baru, melainkan penegasan kembali komitmen Indonesia dan Australia untuk mengubah peluang yang tercipta melalui IA-CEPA menjadi hasil ekonomi yang nyata bagi pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat kedua negara.
Sementara itu, Matt Thistlethwaite mengatakan hubungan ekonomi Indonesia dan Australia yang telah terjalin selama puluhan tahun masih memiliki ruang besar untuk berkembang melalui implementasi IA-CEPA.
“Hubungan ekonomi dan perdagangan kita telah berlangsung selama puluhan tahun, kuat dan mendalam. Hubungan ini akan menjadi semakin kuat melalui fase baru Katalis yang kami luncurkan hari ini,” kata Matt, di Jakarta, Senin (13/7/2026).
1. Fokus perkuat SDM dan peluang bisnis

Roro mengatakan pemerintah Indonesia dan Australia kini mulai mengarahkan kerja sama pada sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tinggi di masa depan, terutama pengembangan sumber daya manusia dan sektor jasa.
Menurutnya, kedua negara telah membahas peluang agar tenaga kerja Indonesia dapat berkontribusi memenuhi kebutuhan pasar kerja Australia.
“Saya mendapat kehormatan untuk berdiskusi dengan Assistant Minister mengenai bidang-bidang kerja sama yang dapat kami perkuat ke depan. Banyak pembahasan mengenai pasar tenaga kerja dan sektor jasa, di mana sumber daya manusia Indonesia dapat membantu memenuhi kebutuhan Australia,” ujarnya.
Selain itu, Roro menilai kerja sama pendidikan juga menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan bilateral. Ia mencontohkan kehadiran kampus Monash University di Indonesia sebagai salah satu bentuk nyata kolaborasi kedua negara dalam pengembangan sumber daya manusia.
2. IA-CEPA ditinjau agar tetap relevan

Menurut Roro, hubungan ekonomi Indonesia dan Australia terus menunjukkan tren positif sejak IA-CEPA mulai berlaku pada Juli 2020.
Ia menyebut nilai perdagangan barang kedua negara meningkat dari sekitar 7,2 miliar dolar AS pada 2020 menjadi sekitar 13 miliar dolar AS pada 2025. Karena itu, kedua pemimpin negara sepakat memulai peninjauan umum terhadap IA-CEPA agar tetap relevan menghadapi dinamika ekonomi global.
“Membangun momentum positif tersebut, para pemimpin kedua negara telah sepakat memulai peninjauan umum IA-CEPA untuk memastikan perjanjian ini tetap relevan,” kata Roro.
Ia mengatakan proses tersebut juga akan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi sektor-sektor baru yang dapat memperluas manfaat perjanjian perdagangan bagi kedua negara.
3. Katalis 2.0 dukung UMKM hingga ekonomi hijau

Roro menjelaskan Katalis 2.0 merupakan kelanjutan dari Katalis 1.0, yang sebelumnya mendukung peningkatan akses pasar, kemitraan bisnis, pengembangan keterampilan tenaga kerja, dialog kebijakan, hingga kerja sama di sektor pangan, layanan kesehatan, digital, pariwisata, manufaktur, dan ekonomi hijau.
Ke depan, program tersebut akan memberikan perhatian lebih besar kepada pelaku UMKM, khususnya usaha yang dipimpin perempuan. Menurut Roro, lebih dari 60 persen UMKM di Indonesia dijalankan oleh perempuan, sehingga sektor tersebut memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Setiap perjanjian perdagangan dibangun atas dasar saling menghormati, saling memahami, dan saling menguntungkan. Memahami fondasi tersebut akan membuat kita semakin maju ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Matt Thistlethwaite mengatakan Australia juga akan terus berupaya mengurangi hambatan perdagangan dan investasi, termasuk mempermudah mobilitas pelaku usaha Indonesia.
“Dengan Katalis 2.0, kita memiliki sarana untuk terus memperluas dan memperdalam kemitraan ekonomi, mendorong pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan bagi kedua negara kita,” kata Matt.
Ia menambahkan, kerja sama ekonomi Indonesia dan Australia akan semakin kuat apabila kedua negara mampu memanfaatkan peluang yang tersedia melalui IA-CEPA secara optimal.




















