MPLS di Bekasi Hadirkan Guru Besar UGM dan ITB, Kenalkan AI-Coding

- Sekolah AICJ Bekasi menggelar MPLS unik lewat program Professor Goes to School, menghadirkan guru besar UGM dan ITB untuk mengenalkan AI, coding, serta robotik kepada siswa baru.
- AI diperkenalkan sebagai alat bantu belajar agar siswa memahami teknologi secara bijak sebelum melanjutkan ke pembelajaran coding dan robotik yang menekankan penerapan nyata di dunia digital.
- Program ini diikuti siswa SMP-SMA bersama orang tua dan akan menjadi agenda rutin tahunan guna menumbuhkan semangat akademik serta kesiapan menghadapi era pendidikan berbasis teknologi.
Bekasi, IDN Times – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Al Azhar Insan Cendekia Jatibening (AICJ), Kota Bekasi, berlangsung berbeda pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah menghadirkan program Professor Goes to School dengan melibatkan guru besar dari sejumlah perguruan tinggi, untuk memperkenalkan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), coding, hingga robotik, kepada peserta didik baru.
Ketua Yayasan Darul Muqomah Sridjati Mustafa Kamil Tharir, mengatakan program tersebut bertujuan menumbuhkan semangat belajar, sekaligus mengenalkan dunia akademik sejak hari pertama siswa memasuki lingkungan sekolah.
"Salah satu program utama kami adalah Professor Goes to School. Tujuannya memberikan pembelajaran kepada anak-anak tentang pentingnya belajar. Kami ingin para profesor menjadi panutan bagi mereka agar rajin belajar," kata Mustafa, Senin (13/7/2026).
Mustafa menjelaskan konsep tersebut menjadi bagian dari pembukaan tahun ajaran baru yang dirancang berbeda dari sekolah pada umumnya. Bahkan, ia menyebut, kegiatan serupa kemungkinan menjadi yang pertama digelar di Kota Bekasi.
"Mindset kami memang berbeda dengan sekolah lain. Khusus untuk Professor Goes to School, saya kira ini mungkin pertama kali di Bekasi, bahkan mungkin di Jawa Barat, atau setidaknya menjadi salah satu yang pertama," ujarnya.
Dalam kegiatan itu, sekolah menghadirkan Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Baiquni, dan Guru Besar di Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Muchtadi Intan Detiena.
1. AI diperkenalkan sebagai alat bantu belajar

Selain menghadirkan diskusi bersama akademisi, AICJ mulai mengenalkan pemanfaatan AI kepada peserta didik. Mustafa menegaskan teknologi tersebut harus dipahami sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar maupun peran guru.
"Sekarang kita berbicara tentang AI. AI sudah menjadi bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan kita. Anak-anak kecil pun sekarang sudah menggunakan AI," katanya.
Mustafa menambahkan, sekolah ingin membangun pemahaman sejak dini agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara bijak.
"Yang kami arahkan kepada mereka adalah bahwa AI hanya sebuah tools atau alat bantu yang memudahkan proses belajar, bukan sesuatu yang membuat kita bergantung. Itu yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak," jelas dia.
2. Pembelajaran akan berlanjut ke coding dan robotik

Mustafa menyampaikan, pengenalan AI menjadi langkah awal sebelum peserta didik mempelajari keterampilan digital lainnya. Pihak sekolah juga berencana memasukkan pembelajaran coding hingga robotik, agar siswa memahami penerapan teknologi secara langsung.
"Setelah itu kami juga akan mengajarkan coding, bagaimana membuat perangkat lunak, kemudian dilanjutkan dengan robotik sebagai implementasi dari coding dan AI agar apa yang dipelajari bisa diterapkan secara nyata," jelasnya.
Menurut Mustafa, perkembangan AI di berbagai negara menjadi alasan sekolah mulai mengenalkan teknologi tersebut sejak pendidikan dasar. Meski demikian, ia menegaskan, AI tidak akan menggantikan peran guru.
"Karena itu kita tidak boleh tertinggal. Tetapi sekali lagi, AI harus digunakan sebagai alat bantu, bukan menggantikan guru. Guru tetap memiliki peran utama dalam mendidik dan membentuk karakter siswa," kata dia.
3. Program akan menjadi agenda rutin sekolah

Diketahui, program Professor Goes to School diikuti peserta didik baru tingkat SMP dan SMA bersama orang tua mereka. Menurut Mustafa, keterlibatan orang tua penting agar sekolah dan keluarga memiliki pemahaman yang sama mengenai arah pendidikan pada era digital.
"Respons orang tua sangat baik. Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Mereka menyambut positif kegiatan ini karena memahami bahwa anak-anak harus mulai belajar memanfaatkan AI secara benar," kata Mustafa.
Ia memastikan program tersebut akan menjadi agenda rutin setiap pembukaan tahun ajaran. Harapannya, siswa tidak hanya akrab dengan teknologi, tetapi juga memiliki kecintaan terhadap dunia akademik dan sains.
"Saya ingin anak-anak mencintai dunia akademik. Itu yang paling penting," kata dia.
















