Foto udara pemukiman yang terdampak banjir bandang di Devighat, Bidur Municipality, distrik Nuwakot, Nepal pada 27 August 2026 (AFP/ (AFP/PRABIN RANABHAT)
Bencana ini bermula ketika massa es dan batuan gletser runtuh di ketinggian 5.200 meter di Pegunungan Himalaya lalu jatuh sedalam 1.200 meter ke Sungai Lende. Luapan air dan lumpur tersebut mengalir deras ke selatan menerjang Distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal. Aliran air tersebut membuat permukaan Sungai Trishuli melonjak hingga 9 meter hanya dalam waktu 30 menit.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) merevisi temuan awalnya mengenai dugaan gempa bumi sebagai pemicu bencana. USGS menyimpulkan bahwa sinyal seismik yang terdeteksi berasal dari tanah longsor itu sendiri. Runtuhan batu dan es tersebut kemudian membentuk danau baru berukuran besar yang membahayakan keselamatan tim penyelamat.
Pakar bahaya gletser dari University of Colorado Boulder, Alton Byers memperingatkan bahwa tanggul penahan danau baru tersebut sangat tidak stabil karena hanya terdiri dari puing-puing longsoran.
"Tidak banyak yang menahannya," kata Byers kepada Al Jazeera.
Byers menjelaskan bahwa solusi paling aman adalah pengeringan secara alami dan bertahap atau pengurangan debit air secara manual oleh tim teknis China.
Guna mengatasi keterbatasan teknis di lapangan, pemerintah Nepal secara mendesak meminta bantuan spesialis penyelamatkan terowongan dari India dan China. Keputusan ini diambil karena nyawa korban terancam, meski sebelumnya Nepal sempat menahan bantuan luar demi menghindari kekacauan operasional.
Berbagai bantuan internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Federasi Palang Merah, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat juga telah tiba di lokasi bencana. Sementara itu, Perdana Menteri China Li Qiang telah meninjau langsung zona bencana di Gyirong pada Kamis, sedangkan Presiden Xi Jinping memimpin rapat yang memerintahkan jajarannya untuk menyusun rencana pencarian secara ilmiah dan memperketat pemantauan danau gletser.