Sementara itu, sektor perlindungan sosial dan kebutuhan energi mendapatkan jatah terbesar, yaitu 713 juta dolar AS (Rp12,73 triliun). Dana segar ini diambil dari anggaran proyek berjalan yang belum terpakai agar bisa langsung disalurkan ke sektor-sektor mendesak.
Spesialis Utama Manajemen Risiko Bencana Bank Dunia, Lesley Jeanne Yu Cordero, menjelaskan bahwa bantuan keuangan ini memiliki sistem pencairan yang cepat.
"Program ini membantu Bangladesh mencairkan dana darurat dengan cepat melalui sistem respons krisis Bank Dunia. Kami ingin menyalurkan bantuan langsung ke sektor paling penting guna melindungi warga, dunia usaha, dan lapangan kerja dari krisis ekonomi," tutur Cordero.
Uang tersebut akan digunakan untuk memperkuat jaring pengaman sosial lewat program bantuan tunai langsung. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan bantuan modal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sebagian dana tersebut juga dipakai untuk membeli bahan bakar demi menjaga fasilitas umum tetap beroperasi. Pemerintah menjamin layanan di rumah sakit, pembagian pangan, serta pasokan listrik dan air bersih tidak akan terganggu.