Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jumlah Pelayaran di Selat Hormuz Anjlok usai AS-Iran Saling Serang

Jumlah Pelayaran di Selat Hormuz Anjlok usai AS-Iran Saling Serang
Kapal-kapal sedang berlayar di Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/MC2 Indra Beaufort)
Intinya Sih
  • Jumlah pelayaran di Selat Hormuz turun drastis setelah serangan antara AS dan Iran, dengan hanya 38 kapal pada Sabtu dan 22 kapal pada Minggu menurut data Kpler.
  • AS menyerang fasilitas rudal dan drone Iran di dekat Selat Hormuz, dibalas oleh IRGC yang menyerang markas militer AS di Kuwait dan Bahrain hingga merusak sejumlah fasilitas penting.
  • Kedua negara sepakat menghentikan serangan serta menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz, dan akan melanjutkan negosiasi damai di Doha pada 30 Juni 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Jumlah pelayaran kapal di Selat Hormuz dikabarkan menurun drastis usai Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat serangan pada pekan lalu. Kabar tersebut termuat dalam situs penyedia data maritim, Kpler, pada Senin (29/6/2026).

Menurut Kpler, hanya ada 38 kapal dagang yang berlayar di Selat Hormuz pada Sabtu (27/6/2026). Sementara itu, 22 kapal lainnya melintas pada Minggu (28/6/2026) pekan lalu. Jumlah ini jelas menurun karena biasanya ada ratusan kapal yang melintas di Selat Hormuz setiap harinya. 

1. Ada 124 kapal yang transit di Selat Hormuz dalam empat hari terakhir

Kapal dagang sedang berlayar di laut internasional.
Kapal dagang sedang berlayar di laut internasional. (unsplash.com/Venti Views)

Kpler juga menjelaskan bahwa dalam empat hari terakhir, hanya ada 124 kapal yang transit di Selat Hormuz. Dilansir The New Arab, kapal-kapal tersebut terdiri dari kapal tanker, kapal pengangkut barang curah kering, kapal pengangkut gas alam cair (LNG), dan kapal pengangkut gas minyak cair (LPG). 

Menurut Kpler, hal ini terjadi karena banyak kapal yang waspada AS dan Iran akan kembali terlibat aksi saling serang. Mereka khawatir bakal terkena serangan jika kedua negara tersebut kembali terlibat bentrokan. Terlebih, sebelumnya, Iran juga sempat menyerang kapal kargo Singapura yang berlayar di Selat Hormuz.

2. AS dan Iran terlibat serangan di sekitar Selat Hormuz

Peta Selat Hormuz.
potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

AS dan Iran sendiri kembali terlibat aksi saling serang pada Jumat (26/6/2026) dan Sabtu (27/6/2026) pekan lalu. Kala itu, AS menyerang situs penyimpanan rudal dan drone Iran di dekat Selat Hormuz. Serangan ini dilakukan karena Iran menyerang kapal yang berlayar di Selat Hormuz. Padahal, dalam kesepakatan damai yang sudah diraih, Iran dilarang melakukan serangan apa pun di selat tersebut.

Merespons serangan AS, Iran tidak tinggal diam. Pasukan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) langsung meluncurkan serangan balasan ke markas militer AS yang ada di Kuwait dan Bahrain pada Sabtu. IRGC mengatakan, serangan itu berhasil merusak 8 fasilitas militer penting AS di Kuwait dan 5 kapal perang AS di pelabuhan angkatan laut Salman di Bahrain.  

3. AS dan Iran sudah sepakat setop saling serang

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Namun, AS dan Iran saat ini sudah sepakat untuk saling menghentikan serangan dan akan menjamin semua kapal di Selat Hormuz berlayar dengan bebas dan aman. Washington dan Teheran juga akan melanjutkan negosiasi di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Negosiasi ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan perdamaian yang sudah diraih kedua negara pada 14 Juni lalu.

“Kami sepakat untuk menghentikan serangan kinetik (terhadap Iran). Kedua belah pihak (AS dan Iran) akan menghentikan aksi mereka untuk sementara waktu dan kapal-kapal dapat bergerak bebas,” kata seorang pejabat AS anonim dalam pernyataannya pada Minggu, seperti dikutip Times of Israel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More