Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Berawal dari Rebutan Hak Asuh, Penembakan di Jerman Tewaskan 6 Orang
ilustrasi penembakan (unsplash.com/Maxim Hopman)
  • Penembakan di fasilitas ibu dan anak di Kota Stade, Jerman, menewaskan enam orang dewasa yang merupakan pekerja sosial, sementara anak-anak berhasil diselamatkan tanpa luka.
  • Pelaku berusia 45 tahun asal Hanover melakukan aksi karena konflik keluarga terkait perebutan hak asuh bayi tiga bulan; polisi memastikan tidak ada motif politik atau kriminal terorganisasi.
  • Setelah kejadian, pelaku kabur dengan mobil Mercedes bersama seorang wanita 65 tahun namun berhasil ditangkap setelah pengejaran; polisi kini menyelidiki asal senjata api tanpa izin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Insiden penembakan terjadi di sebuah fasilitas penampungan ibu dan anak di Kota Stade, Jerman, pada Senin (29/6/2026). Peristiwa ini menewaskan enam orang dewasa di lokasi kejadian.

Pihak kepolisian setempat langsung menerjunkan tim pengamanan skala besar untuk mengendalikan situasi darurat. Aparat berwenang kini tengah menyelidiki kasus penembakan tersebut secara mendalam.

1. Kronologi aksi penembakan maut

ilustrasi penembakan (unsplash.com/Max Kleinen)

Aksi penembakan ini bermula sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Jalan Dankersstrasse, sebelah selatan pusat kota Stade. Pelaku melepaskan tembakan di dalam gedung yang menjadi tempat tinggal sementara bagi ibu dan anak tersebut.

Petugas penyelamat menemukan empat korban tewas seketika di lokasi kejadian. Korban kelima juga meninggal di tempat, sedangkan korban keenam mengembuskan napas terakhirnya setelah sempat dilarikan ke rumah sakit.

Seluruh korban tewas adalah warga dewasa yang terdiri dari empat perempuan dan dua laki-laki. Semua korban merupakan karyawan atau pekerja sosial yang bekerja di pusat kesejahteraan pemuda tersebut.

Beruntung, tidak ada anak-anak yang terluka dalam insiden ini. Meski begitu, letusan senjata api di dekat sekolah dasar dan tempat penitipan anak sempat memicu kepanikan luar biasa bagi warga sekitar.

"Kami sangat lega karena semua staf kami serta anak-anak di tempat penitipan dan sekolah dasar berada dalam kondisi aman," ujar Anggota Dewan Kota Stade, Carsten Brokelmann, dilansir Courthouse News Service.

2. Motif konflik keluarga dan perebutan hak asuh anak

Ilustrasi penembakan. Pragativadi

Pelaku penembakan diketahui merupakan seorang pria berusia 45 tahun yang tinggal di wilayah Hanover. Pria berkewarganegaraan Jerman keturunan Turki ini nekat beraksi karena dipicu oleh konflik internal keluarga.

Polisi mengungkapkan pelaku sengaja datang ke fasilitas tersebut untuk menghadiri pertemuan resmi terkait masa depan putrinya yang masih bayi. Bayi perempuan berumur tiga bulan beserta ibunya selamat tanpa luka fisik. Bayi itu kini telah ditempatkan di bawah perlindungan dinas sosial.

Aparat penegak hukum menegaskan bahwa insiden tragis ini murni masalah keluarga. Polisi memastikan kasus ini tidak memiliki kaitan dengan motif politik ataupun kelompok kriminal terorganisasi.

"Pelaku hari ini punya janji temu bersama para korban untuk membahas pengaturan hak asuh putrinya yang masih berusia tiga bulan," kata Kepala Polisi Lueneburg, Kathrin Schuol, dilansir Channel News Asia.

3. Pengejaran mobil pelaku dan penangkapan tersangka

Ilustrasi penembakan. (pixabay.com/Skitterphoto)

Sesaat setelah melancarkan aksinya, pelaku utama mencoba kabur menggunakan mobil Mercedes perak. Mobil itu disetir oleh seorang wanita berusia 65 tahun yang diduga masih kerabat dekat pelaku.

Polisi yang menerima laporan darurat langsung melakukan pengejaran taktis dan memblokade rute pelarian. Petugas terpaksa menembak ban mobil pelaku hingga kempis agar kendaraan tersebut berhenti di jalan raya B73.

Sejauh ini, pihak berwenang telah menangkap tiga orang tersangka untuk diperiksa secara intensif. Polisi juga masih melacak asal-usul senjata api yang digunakan karena pelaku terbukti tidak memiliki izin resmi.

"Saya sangat terkejut melihat kekerasan brutal ini terjadi di tempat yang seharusnya menjadi tempat perlindungan yang aman," ungkap Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article