Pemerintah Minta Ketahanan Pangan Tak Dibenturkan Murahnya Impor

- Wamenko Pangan Hanif Faisol menegaskan ketahanan pangan nasional tidak boleh dikorbankan demi harga impor murah karena dapat mengancam kedaulatan pangan Indonesia.
- Pemerintah berupaya memperkuat rantai produksi pangan dengan memberikan insentif, termasuk diskon 20 persen untuk pupuk subsidi guna mendukung petani lokal.
- Perum Bulog menaikkan harga beli Gabah Kering Petani menjadi Rp6.500 per kilogram dan jagung Rp5.500 per kilogram untuk menjaga semangat produksi dan kesejahteraan petani.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq meminta publik agar tidak membenturkan ketahanan pangan dengan barang impor yang menawarkan biaya murah.
Menurut dia, Indonesia tidak bisa bergantung dalam skema impor secara terus menerus lantaran bakal mempengaruhi kedaulatan pangan yang kini sedang dibangun.
"Kita di dalam bicara ketahanan pangan harus berpihak kepada masyarakat kita. Kita jangan kemudian membentur-benturkan antara murahnya harga di luar dengan tidaknya harga murah di kita," kata Hanif dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
1. Ketahanan pangan tidak boleh ditawar

Hanif pun tak memungkiri, bahwa selama ini ketahanan pangan nasional selaku dibenturkan dengan biaya impor yang lebih efisien.
Akibatnya kata dia, tidak ada upaya membangun atau memproduksi kebutuhan pangan secara mandiri karena adanya ketergantungan pada pasokan bahan impor dari negara lain.
"Mahal harganya iya, tetapi ketahanan pangan merupakan suatu kondisi yang tidak boleh ditawar saat ini," jelasnya.
2. Pemerintah memperhatikan rantai produksi

Guna membangun ketahanan pangan secara berkelanjutan, pemerintah kata Hanif sedang berupaya memperhatikan aktor dan komponen penting lainnya dalam rantai produksi.
Upaya itu salah satunya dengan mengucurkan insentif terhadap sejumlah komponen produksi pertanian diantaranya dengan memberikan diskon 20 persen untuk pupuk subsidi.
"Kita di dalam bicara ketahanan pangan harus berpihak kepada masyarakat kita," ujarnya.
3. BUMN Perum Bulog menaikkan harga beli Gabah Kering Petani

Untuk membangun ketahanan secara berkelanjutan, pemerintah harus memperhatikan aktor dan komponen penting dalam rantai produksi.
Kesejahteraan petani misalnya, harus dijamin dengan mengatur harga pembelian yang layak sehingga mereka semangat melakukan produksi.
Dalam hal ini, pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perum Bulog menaikkan harga beli Gabah Kering Petani (GKP) menjadi Rp6.500 per kilogram dan jagung Rp5.500 per kilogram (kadar air 14 persen).
“Mohon maaf, kalau petaninya tidak kemudian mengusahakan pertaniannya, terus ketahanan pangan kita bagaimana membangunnya?” tutur Hanif.
















