AS-Iran Kembali Berunding, Nasib Aset Rp107,8 Triliun Ditentukan di Doha

- AS dan Iran kembali berunding tidak langsung di Doha untuk membahas pencairan aset Iran senilai Rp107,8 triliun serta menindaklanjuti MoU yang mencakup gencatan senjata dan isu nuklir.
- Pertemuan difasilitasi Qatar tanpa kontak langsung antara delegasi AS dan Iran, sementara pembicaraan teknis tetap berjalan membahas jalur negosiasi terkait ekonomi, sanksi, dan keamanan kawasan.
- Iran menunggu kemajuan konkret soal pembebasan aset beku di Qatar sebesar 12 miliar dolar AS, dengan tahap awal pencairan bergantung pada hasil perundingan yang sedang berlangsung.
Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menggelar pembicaraan tidak langsung di Doha, Qatar, pada Rabu (1/7/2026). Agenda utama pertemuan itu membahas pencairan aset Iran senilai 6 miliar dolar AS (setara Rp107,8 triliun) yang hingga kini masih dibekukan.
Pembahasan tersebut menjadi tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada 17 Juni 2026. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan dan Qatar itu memuat komitmen memperpanjang gencatan senjata, menghentikan operasi militer di seluruh front termasuk Lebanon, serta membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.
MoU juga memberikan waktu sedikitnya 60 hari sejak penandatanganan untuk menyusun kesepakatan akhir mengenai isu nuklir, pencabutan sanksi ekonomi, dan gencatan senjata permanen.
1. Mediator Qatar menjembatani komunikasi kedua negara

Meski MoU telah berlaku selama dua pekan, wakil AS dan Iran belum pernah bertemu secara langsung. Utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah berada di Qatar sejak Selasa (30/6/2026) untuk membahas stabilitas kawasan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengatakan kedua utusan AS hanya bertemu mediator dari Qatar dan bukan pejabat Iran.
“Sepengetahuan saya, tidak ada pertemuan langsung yang dijadewalkan antara kedua pihak dalam beberapa hari mendatang,” ujar Ansari, dikutip BBC.
2. Perundingan teknis membahas sejumlah jalur negosiasi

Di tengah belum adanya komunikasi langsung, pembicaraan tetap berlangsung melalui perundingan teknis di tingkat pejabat rendah dengan peluang meningkat ke tingkat yang lebih senior. Jalur negosiasi yang dibahas meliputi isu nuklir, ekonomi, sanksi, dan keamanan kawasan.
Pada putaran pertama pembicaraan di Swiss, Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammed Bagher Ghalibaf sempat mencatat kemajuan terkait upaya memastikan rute aman bagi kapal komersial. Namun, situasi kembali memanas setelah Iran menyerang kapal kargo yang mencoba melintasi perairan Oman di sisi selatan Selat Hormuz.
3. Iran menunggu kemajuan pembebasan aset

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan pihaknya bersiap bertemu mediator di Doha untuk menindaklanjuti pelaksanaan MoU, terutama mengenai pembebasan aset. Iran memiliki 12 miliar dolar AS (setara Rp215,6 triliun) aset yang dibekukan di Qatar, sementara pencairan tahap awal sebesar 6 miliar dolar AS (setara Rp107,8 triliun) bergantung pada kemajuan substansial dalam perundingan.
“Dari awal ketika kami memasuki proses diplomatik ini, tidak ada yang membayangkan proses yang mulus dan tanpa tantangan,” ungkap Baghaei, dikutip The Guardian.
Data pelacakan maritim dari Kpler menunjukkan 40 kapal melintasi Selat Hormuz pada Senin (29/6/2026), naik dari 24 kapal pada hari sebelumnya. Di sisi lain, ratusan kapal dan sekitar 10 ribu pelaut sempat terjebak sejak perang AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026, sementara dalam kesepakatan tersebut Iran berkomitmen mengupayakan pembukaan blokade total dalam 30 hari serta tetap menyatakan akan melindungi kepentingannya di jalur laut strategis itu.



















