Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Blokade Ganda Hormuz Picu Kekhawatiran Global
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/Official White House Photo)
  • Rencana blokade ganda di Selat Hormuz oleh AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak serta gas, mengguncang pasar global dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
  • Langkah Presiden Trump dinilai lebih sebagai tekanan politik daripada strategi militer efektif, memperlihatkan ketidakjelasan arah kebijakan Washington dalam menangani konflik berkepanjangan dengan Iran.
  • Potensi eskalasi konflik meningkat seiring ancaman konfrontasi langsung di Selat Hormuz, sementara gaya diplomasi Trump yang berubah-ubah memperburuk ketidakpastian global dan risiko keamanan kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memblokade kapal Iran di Selat Hormuz langsung mengguncang pasar global. Harga minyak melonjak lebih dari 8 persen, sementara harga gas alam naik hingga 17 persen pada perdagangan awal Asia.

Kebijakan ini muncul di tengah upaya Washington mencari jalan keluar dari konflik dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari enam pekan. Namun, langkah tersebut justru memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global.

Situasi semakin rumit karena potensi terjadinya dua blokade sekaligus di jalur vital tersebut oleh Iran dan Amerika Serikat. Kondisi ini meningkatkan risiko bagi pelayaran internasional, termasuk lonjakan biaya asuransi dan ancaman keselamatan awak kapal.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah ini berpotensi menimbulkan dampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global.

1. Pasar bergejolak dan ancaman ekonomi global

ilustrasi Selat Hormuz (pixabay.com/Bergadder)

Reaksi pasar terhadap rencana blokade berlangsung cepat. Kenaikan tajam harga energi menunjukkan tingginya sensitivitas pasar terhadap perkembangan konflik di Selat Hormuz.

Langkah Amerika Serikat dinilai semakin menjauhkan kemungkinan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dalam waktu dekat. Hal ini turut melemahkan kepercayaan terhadap strategi de-eskalasi yang diharapkan dari pemerintahan Trump.

Selain itu, dampak blokade juga berpotensi dirasakan oleh negara-negara importir utama minyak Iran, terutama China. Sebagai pembeli terbesar, China menghadapi risiko terganggunya pasokan energi meskipun memiliki cadangan besar.

Tujuan utama blokade ini disebut untuk menekan Iran dengan memutus pendapatan dari ekspor minyak. Namun, sejumlah analis meragukan efektivitas strategi tersebut dalam mengubah sikap Teheran.

2. Tekanan politik atau strategi militer?

citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sejumlah pengamat menilai rencana blokade lebih sebagai langkah tekanan politik ketimbang strategi militer yang efektif. Negosiator senior Departemen Luar Negeri AS, Aaron David Miller menyebut, langkah ini sebagai objek mengilap berikutnya yang menarik perhatian presiden.

Sementara itu, jurnalis veteran David Ignatius menilai pendekatan ini bukan semata langkah militer. Ia mengatakan, “Blokade ini adalah taktik tekanan, tentu saja, tetapi bukan terutama tindakan militer.”

Ia menambahkan, Trump tidak memiliki keinginan untuk memperluas konflik bersenjata. “Trump tidak memiliki selera untuk konflik bersenjata lebih lanjut. Ia tahu bahwa keuntungannya terbatas dan risikonya besar,” ujarnya, dilansir dari ABC News, Senin (13/4/2026)

Meski demikian, ketidakpastian arah kebijakan AS justru memperkuat persepsi bahwa strategi Washington masih belum jelas, terutama dalam mencari jalan keluar dari konflik yang sedang berlangsung.

3. Risiko eskalasi dan ketidakpastian diplomasi

Ilustrasi Selat Hormuz. (Pixabay.com)

Rencana blokade berpotensi mengubah Selat Hormuz menjadi zona konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat. Jika sebelumnya Iran lebih banyak menggunakan ancaman, langkah ini bisa memicu konfrontasi langsung.

“Setiap pasukan Iran yang menembaki pasukan AS atau kapal komersial akan dihancurkan,” ucap Trump. Pernyataan ini mempertegas risiko eskalasi militer di kawasan.

Di sisi lain, Gedung Putih menyatakan semua opsi masih terbuka terkait langkah selanjutnya. “Siapa pun yang mengatakan mereka tahu apa yang akan dilakukan Presiden Trump selanjutnya murni berspekulasi,” kata juru bicara Olivia Wales.

Gaya diplomasi Trump yang dinilai berubah-ubah juga menjadi sorotan. Pergeseran cepat dari upaya de-eskalasi ke ancaman blokade dinilai dapat merusak kepercayaan, memperburuk ketidakpastian global, dan meningkatkan risiko bagi militer maupun warga sipil di kawasan Teluk.

Editorial Team