ilustrasi industri (pexels.com/Pixabay)
Penutupan Selat Hormuz juga memperlihatkan betapa rentannya ketahanan energi Indonesia terhadap krisis global. Saat jalur pasokan utama terganggu, Indonesia tidak memiliki cadangan energi strategis yang cukup besar untuk menahan guncangan dalam jangka panjang. Ketergantungan pada impor minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah membuat Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan pasokan.
Situasi ini bisa menjadi sinyal bagi pemerintah untuk mempercepat transisi energi dan diversifikasi sumber pasokan. Pengembangan energi baru terbarukan, peningkatan cadangan strategis nasional, serta kerja sama energi dengan negara lain di luar Timur Tengah menjadi langkah penting ke depan. Ketahanan energi tidak hanya soal pasokan, tapi juga soal stabilitas dan kemandirian ekonomi bangsa.
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar isu geopolitik yang jauh dari Indonesia, tapi sebuah ancaman nyata yang dapat mengguncang ekonomi nasional, mulai dari harga BBM yang melonjak, inflasi yang menghantam masyarakat, hingga tekanan terhadap nilai tukar dan ketahanan energi, semuanya saling berkaitan dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menjadi pengingat penting bahwa Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonominya, mengurangi ketergantungan pada energi impor, dan mempercepat langkah menuju kemandirian energi agar lebih siap menghadapi perubahan di masa mendatang.