Ditemukan 9 Jasad Perempuan, Warga Afsel Dilanda Ketakutan

Sedikitnya sembilan jasad perempuan berusia 20-an hingga 30-an ditemukan di pinggiran Johannesburg dalam dua bulan; polisi belum memastikan keterkaitan kasus atau pembunuh berantai.
Presiden Cyril Ramaphosa menjanjikan penyelidikan tuntas, sementara polisi menawarkan imbalan 400 ribu rand dan mengimbau perempuan di sekitar Kempton Park bepergian berkelompok.
Studi memperkirakan hampir tujuh perempuan tewas tiap hari di Afrika Selatan pada 2020-2021; Amnesty mendesak femisida diakui sebagai tindak pidana khusus.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya sembilan jenazah perempuan ditemukan di pinggiran kota Johannesburg, Afrika Selatan, dalam kurun waktu 2 bulan terakhir. Penemuan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat akan kemungkinan adanya pembunuh berantai yang menargetkan perempuan.
Jenazah terbaru ditemukan di Dawn Park, Ekurhuleni, pada Kamis (17/9/2026). Polisi mengatakan bahwa seluruh korban, yakni perempuan berusia 20-30an, ditemukan dalam kondisi telanjang atau hanya mengenakan sebagian pakaian. Meski beberapa kasus tersebut memiliki kesamaan, penyidik belum dapat memastikan apakah kesembilan kematian itu saling berkaitan atau ada kemungkinan keterlibatan seorang pembunuh berantai.
"Para perempuan sangat ketakutan. Selama bertahun-tahun, para perempuan di sini telah mengubah cara hidup kami demi bisa bertahan hidup. Apa yang terjadi di Ekurhuleni semakin memperparah ketakutan tersebut," kata Sabrina Walter, pendiri Women For Change, organisasi nirlaba yang mengampanyekan perlawanan terhadap kekerasan berbasis gender dan femisida, dikutip CNN.
1. Polisi imbau perempuan untuk tidak keluar sendirian di area terpencil

seorang perempuan melakukan jogging (unsplash.com/McCarthy Beckan) Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, telah berjanji akan mengusut tuntas pembunuhan tersebut. Pihak berwenang juga menawarkan imbalan sebesar 400 ribu rand Afrika Selatan (sekitar Rp445 juta) bagi siapa pun yang mempunyai informasi yang mengarah pada penangkapan pelaku.
Selama penyelidikan berlangsung, polisi telah mengimbau perempuan di Kempton Park dan sekitarnya, tempat beberapa jenazah ditemukan, untuk tidak berlari atau berjalan sendirian di area terpencil. Mereka dianjurkan bepergian secara berkelompok jika memungkinkan.
Lebogang Kgari, seorang manajer keuangan, merupakan salah satu perempuan yang telah mengubah rutinitasnya. Kini, ia membatasi aktivitas larinya hanya di kompleks perumahan tempat tinggalnya dan terkadang mempersingkat durasi larinya.
"Serangkaian pembunuhan belakangan ini membuat saya merasa tidak aman, cemas, dan sangat takut untuk berlari seperti rutinitas biasanya," ungkap Kgari. Baginya, kegiatan berlari kini justru memicu rasa takut dan trauma.
2. Hampir 7 perempuan tewas di Afrika Selatan setiap hari pada 2020-2021

bendera Afrika Selatan (unsplash.com/Den Harrson) Sebuah studi nasional yang diterbitkan oleh Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan pada 2024 memperkirakan hampir tujuh perempuan tewas di Afrika Selatan setiap hari pada 2020-2021. Menurut studi tersebut, 60 persen korban dibunuh oleh pasangan mereka. Adapun tingkat femisida yang dilakukan oleh pasangan di Afrika Selatan mencapai lima kali lipat dari tingkat global.
“Hal ini menunjukkan bahwa femisida di Afrika Selatan kemungkinan besar tidak mengalami penurunan. Intervensi apa pun yang telah dilakukan tampaknya tidak efektif. Atau, intervensi yang ada masih belum memadai," kata Naeemah Abrahams, peneliti femisida terkemuka di Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan. Ia menyerukan penyelidikan yang serius terhadap setiap kasus pembunuhan perempuan.
Ia menilai tanggung jawab untuk mencegah kekerasan tidak seharusnya dibebankan kepada perempuan dengan mengharuskan mereka mengubah kebiasaan hidup.
“Sangat tidak adil untuk selalu meminta perempuan mengubah perilaku mereka demi melindungi diri. Perilaku prialah yang harus diubah," ujarnya.
3. Mengakui femisida sebagai tindak pidana khusus disebut sebagai langkah utama untuk lindungi perempuan

ilustrasi kejahatan (unsplash.com/Ari Spada) Dilansir BBC, kelompok hak asasi manusia, Amnesty International, mengatakan bahwa langkah penting pertama untuk melindungi perempuan di Afrika Selatan adalah mengakui femisida sebagai tindak pidana tersendiri.
“Setiap hari femisida tidak diakui sebagai tindak pidana merupakan kegagalan dalam menghadapi pembunuhan perempuan yang dilakukan secara sengaja. Sudah waktunya menyebutnya sesuai dengan apa adanya: femisida," kata Direktur Amnesty International Afrika Selatan, Shenilla Mohamed, dalam sebuah pernyataan.
Amnesty mengungkapkan bahwa femisida telah dikriminalisasi sebagai tindak pidana khusus di 33 negara, termasuk Gabon dan Maroko di Afrika. Organisasi tersebut meyakini bahwa perubahan serupa di Afrika Selatan dapat membantu memperjelas skala persoalan tersebut.
“Hal ini akan memaksa negara untuk menghadapi kegagalannya dalam melindungi perempuan dan anak perempuan dari kekerasan. Kita tidak dapat mengatasi sesuatu yang tidak kita catat," tambahnya.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















