ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)
Lebih lanjut, terangnya, penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. Satu di antaranya adalah setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dollar AS per barel di atas asumsi pemerintah dapat menambah beban negara sekitar Rp 10,3 triliun.
“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan pertanian, yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang dan jasa secara keseluruhan,” ungkapnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menghadap Presiden Prabowo Subianto untuk melaporkan kondisi terkini geopolitik di Timur Tengah. Salah satunya ancaman penutupan Selat Hormuz di Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak mentah ke Tanah Air.
Bahlil menegaskan pemerintah perlu melakukan antisipasi cepat mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak sebesar 1 juta barel per hari. Menurutnya, stabilitas pasokan energi nasional menjadi prioritas di tengah ketegangan Timur Tengah.
"Mungkin (laporan) menyangkut dengan kondisi terkini, geopolitik ya, menyangkut dengan penutupan Selat Hormuz di Iran. Karena ini kita antisipasi tentang pasokan minyak dunia," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Terkait pergerakan pasar, Bahlil mengakui harga minyak mentah dunia sudah mulai merangkak naik secara perlahan. Meski demikian, Bahlil memastikan kondisi subsidi BBM di dalam negeri sejauh ini belum terdampak.
"Sampai dengan hari ini nggak ada masalah. Tapi kan harga dunia kan pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang tetap terus memanas di Timur Tengah," tuturnya.