Drone Hantam Kamp Pengungsi di Sudan, 41 Orang Tewas

- Serangan drone di kamp pengungsi Abu Shandi, Blue Nile, Sudan, menewaskan sedikitnya 41 orang, termasuk delapan anak dan banyak perempuan, serta melukai puluhan lainnya.
- Emergency Lawyers menuding RSF bertanggung jawab, sementara PBB mengecam serangan itu dan menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran hukum humaniter internasional.
- Konflik militer Sudan dan RSF sejak 2023 memperparah krisis: lebih dari 14 juta orang mengungsi dan sekitar 19,5 juta warga menghadapi krisis pangan akut.
Jakarta, IDN Times - Kelompok hak asasi manusia Emergency Lawyers melaporkan bahwa sedikitnya 41 orang tewas akibat serangan drone di wilayah Blue Nile, Sudan. Pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dituding bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Menurut Emergency Lawyers, serangan yang terjadi pada Jumat (9/10/2026) itu menghantam sebuah kamp pengungsi di kawasan Abu Shandi. Di antara korban tewas terdapat delapan anak dan banyak perempuan. Puluhan orang lainnya juga dilaporkan terluka.
Sementara itu, juru bicara RSF hingga kini belum memberikan komentar terkait serangan tersebut.
1. PBB kecam serangan tersebut

ilustrasi pengungsi di Afrika (Oxfam, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons) Dilansir BBC, kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengecam keras serangan tersebut. Lembaga itu mengatakan bahwa wilayah yang terdampak telah mengalami serangkaian serangan dalam beberapa pekan terakhir yang menyebabkan ribuan warga sipil mengungsi.
"Mengutuk pembunuhan yang tidak masuk akal ini adalah hal yang penting, tetapi harus ada pula pertanggungjawaban atas pengabaian terang-terangan terhadap hukum humaniter internasional ini. Seiring berlalunya hari dalam perang ini, dunia terus membiarkan penderitaan rakyat Sudan," demikian pernyataan dari Denise Brown, Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB di Sudan.
2. Militer Sudan dan RSF sama-sama gunakan drone dalam peperangan

ilustrasi prajurit di Afrika (rawpixel.com/The African Union Mission in Somalia) Militer Sudan dan RSF telah terlibat dalam perebutan kekuasaan sejak 2023. Konflik tersebut telah menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa lebih dari 14 juta warga meninggalkan rumah mereka.
Militer Sudan menguasai sebagian besar wilayah tengah dan timur negara itu, sementara RSF bermarkas di wilayah Darfur di bagian barat dan juga menguasai sejumlah wilayah di selatan. Kedua belah pihak sama-sama dituduh menggunakan drone dalam peperangan mereka. Menurut data PBB, senjata berteknologi tinggi itu telah menewaskan lebih dari 1.100 orang hanya dalam paruh pertama 2026.
3. Hampir setengah populasi Sudan alami krisis pangan akut

truk bantuan WFP (Alex Blokha, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons) Perang di Sudan telah menjerumuskan negara tersebut ke dalam salah satu krisis pangan terburuk dalam sejarah modern. Menurut penilaian Integrated Food Security Phase Classification (IPC), lembaga yang memantau tingkat kerawanan pangan global, hampir 19,5 juta orang atau sekitar 41 persen dari populasi Sudan mengalami krisis pangan akut pada Februari-Mei 2026. Laporan itu menyebutkan bahwa lebih dari 5 juta orang juga menghadapi kekurangan pangan ekstrem yang mengancam nyawa, sementara 135 ribu lainnya berisiko mengalami kelaparan parah, dikutip Al Jazeera.
Situasi keamanan yang tidak kondusif ini juga sangat menghambat operasi kemanusiaan. Pada awal Oktober, sejumlah truk yang dikontrak oleh Program Pangan Dunia (WFP) untuk mengangkut bantuan pangan menjadi sasaran serangan drone di negara bagian Kordofan Selatan. Serangan tersebut menewaskan seorang sopir truk dan melukai tiga lainnya.






















