Serangan Udara di Sudan Tewaskan Sopir Truk Bantuan PBB

- Serangan udara menghantam dua truk bantuan pangan PBB di Kordofan Selatan pada 3 Oktober 2026, menewaskan seorang sopir meski kendaraan bertanda jelas sebagai angkutan kemanusiaan.
- WFP mengecam dan meminta penyelidikan segera; insiden ini menjadi serangan kesembilan terhadap operasinya di Sudan sejak awal 2026, di tengah keamanan yang memburuk.
- Konflik SAF dan RSF memperparah krisis kemanusiaan: 14 juta warga mengungsi, sementara hampir 19,5 juta orang Sudan menghadapi krisis pangan akut pada Februari–Mei 2026.
Jakarta, IDN Times - Serangan udara menghantam dua truk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawa bantuan pangan di wilayah Kordofan Selatan, Sudan, pada Sabtu (3/10/2026). Seorang pengemudi truk tewas dalam peristiwa itu.
Program Pangan Dunia (WFP) mengecam keras serangan tersebut. Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (4/10/2026), badan PBB itu menjelaskan bahwa truk-truk tersebut diserang saat sedang melintas di antara Dilling dan Kadugli, dua kota yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Sudan (SAF). Kedua kendaraan tersebut memiliki tanda yang jelas sebagai angkutan kemanusiaan, dilansir The New Arab.
1. Serangan kesembilan terhadap operasi WFP di Sudan sejak awal 2016

truk bantuan WFP (Alex Blokha, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons) WFP mengatakan bahwa pihaknya masih menilai tingkat kerusakan dan rincian lebih lanjut mengenai serangan tersebut. Badan PBB itu juga menyerukan agar penyelidikan segera dilakukan.
Dilansir Sudan Tribune, serangan pada Sabtu tercatat sebagai serangan kesembilan terhadap operasi WFP di Sudan sejak awal 2026. Sebelumnya, pada Jumat (2/10/2026), sebuah truk WFP juga menginjak alat peledak di Dilling setelah menyalurkan bantuan pangan kepada para pengungsi.
"Insiden-insiden ini menyoroti situasi keamanan yang semakin sulit di Sudan serta risiko yang dihadapi para pekerja kemanusiaan saat menyalurkan bantuan penyelamat jiwa bagi masyarakat yang membutuhkan," kata WFP dalam pernyataannya.
2. Pertempuran di Kordofan semakin meningkat sejak akhir 2025

seorang tentara memegang drone (Maxim Subotin, CC0, via Wikimedia Commons) Dilansir Al Jazeera, pertempuran di wilayah Kordofan semakin meningkat pada akhir 2025, mengubah wilayah tersebut menjadi medan pertempuran strategis antara SAF dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Kedua pihak telah bertikai selama lebih dari 3 tahun untuk memperebutkan kendali atas Sudan.
Sejak perang pecah pada April 2023, satu dari setiap lima serangan di Sudan terjadi di wilayah Kordofan. SAF memegang kendali atas wilayah utara, sementara RSF menguasai sebagian besar wilayah barat. Kordofan Selatan hingga kini masih menjadi wilayah yang diperebutkan.
Baik SAF maupun RSF kini semakin sering menggunakan drone dalam peperangan mereka. Menurut data PBB, senjata berteknologi tinggi tersebut telah menewaskan lebih dari 1.100 orang hanya dalam paruh pertama 2026.
3. Hampir setengah populasi Sudan alami krisis pangan akut

ilustrasi pengungsi di Afrika (Oxfam, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons) Perang saudara di Sudan telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa 14 juta warga mengungsi. Konflik ini juga menjerumuskan negara tersebut ke dalam salah satu krisis pangan terburuk di era modern.
Menurut penilaian Integrated Food Security Phase Classification (IPC), lembaga terkemuka dalam pemantauan kelaparan global, hampir 19,5 juta orang atau sekitar 41 persen dari populasi Sudan mengalami krisis pangan akut pada Februari-Mei 2026. Selain itu, lebih dari 5 juta orang menghadapi kekurangan pangan ekstrem yang mengancam nyawa, sementara 135 ribu lainnya berisiko mengalami kelaparan parah.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















