Dua Pria Tewas karena Serangan Israel saat Panen Zaitun di Lebanon Selatan

- Dua pria tewas saat panen zaitun di Lebanon selatan: satu akibat tembakan tank Israel di Yater, satu lagi karena ledakan sisa bahan peledak di Froun.
- Warga Froun menghentikan sementara panen hingga pembersihan bahan berbahaya selesai, sementara sukarelawan dari utara membantu warga Jibshit memanen zaitun sebagai solidaritas.
- Konflik yang berlanjut meski gencatan senjata Juni 2026 telah menewaskan lebih dari 4.300 orang dan membuat hampir 350 ribu warga mengungsi di Lebanon.
Jakarta, IDN Times - Dua pria dilaporkan tewas saat sedang mengikuti kegiatan panen zaitun tahunan di Lebanon selatan pada Minggu (11/10/2026). Satu orang meninggal akibat tembakan Israel, sementara satunya lagi meninggal akibat terkena sisa bahan peledak perang
Lebanon selatan telah menjadi lokasi perang antara Israel dan Hizbullah sejak 2023. Pertempuran di wilayah tersebut mulai berkurang setelah Lebanon dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Juni 2026, tapi belum sepenuhnya terhenti.
1. Warga hentikan kegiatan panen untuk sementara waktu

operasi militer Israel di Lebanon selama perang 2023-2024 ( / IDF Spokesperson's Unit) Menurut laporan National News Agency (NNA), salah satu korban tewas setelah terkena serangan artileri Israel di Yater, distrik Bint Jbeil. Saat kejadian, pria tersebut sedang memeriksa lahan dan hasil panen zaitunnya. Militer Lebanon menyebut serangan itu berasal dari tembakan tank Israel.
Akibat kejadian itu, pemerintah kota Yater mengimbau warga untuk menjauhi pinggiran kota dan tidak melintasi tanggul tanah yang memisahkan sejumlah kawasan yang dianggap tidak aman karena khawatir akan serangan Israel.
Korban lainnya tewas di desa Froun, yang juga terletak di distrik Bint Jbeil. Pria yang berprofesi sebagai insinyur itu sedang merawat pohon-pohon zaitun miliknya ketika sebuah benda asing sisa operasi militer Israel sebelumnya meledak dan membunuhnya.
"Insiden tersebut mendorong warga setempat untuk menghentikan kegiatan panen dan menunggu hingga Angkatan Darat Lebanon menyelesaikan pembersihan desa dari bahan berbahaya," kata kepala desa Froun, Hassan Bazzi, dikutip The New Arab.
2. Sukarelawan datang untuk membantu warga memanen zaitun

ilustrasi pohon zaitun (unsplash.com/Lucio Patone) Meski kesepakatan gencatan senjata telah dicapai pada Juni lalu, pasukan Israel masih menduduki wilayah selebar 10 kilometer di sepanjang perbatasan. Para tentara juga terus melancarkan serangan sporadis dan menghancurkan bangunan di wilayah yang didudukinya, sementara kelompok Hizbullah tetap menolak rencana pemerintah untuk melucuti persenjataan mereka.
Di tengah situasi keamanan yang tidak kondusif, sejumlah sukarelawan dari wilayah utara datang ke desa Jibshit untuk membantu warga setempat memanen zaitun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas.
"Dari utara hingga selatan, satu bangsa dan satu tanah air," kata koordinator kegiatan, Ahmad Chahhal.
3. Lebih dari 4.300 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon

dampak serangan Israel di Lebanon (User Mema435 on en.wikipedia, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons) Dilansir Al Jazeera, Lebanon terseret ke dalam konflik Timur Tengah pada 2 Maret 2026, ketika Hizbullah menyerang Israel untuk mendukung Iran dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Tel Aviv kemudian melancarkan serangkaian serangan udara dan invasi darat di Lebanon, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 4.300 orang.
Pada Agustus 2026, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menuduh Israel sengaja menargetkan rumah-rumah dan infrastruktur sipil di negara tersebut. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) juga mencatat hampir 350 ribu orang mengungsi di dalam negeri pada akhir Agustus, yang menunjukkan semakin parahnya krisis pengungsian di Lebanon.





















