Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Takut Pemilu Mundur, Militer Israel Sarankan Tunda Serangan ke Iran

3 min read
Takut Pemilu Mundur, Militer Israel Sarankan Tunda Serangan ke Iran
Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir (­ Ministry of Defense spokesperson, CC0, via Wikimedia Commons)
  • Militer Israel menyarankan penundaan serangan ke Iran hingga pemilu parlemen 27 Oktober selesai, karena balasan rudal Teheran berpotensi memicu perang dan menunda pemungutan suara.

  • AS dilaporkan menyiapkan skenario serangan tiga hari ke sasaran Iran bersama Israel, serta membahas serangan Israel terhadap Houthi di Yaman setelah serangan rudal di Riyadh.

  • Peringatan militer memperkuat tudingan oposisi bahwa Netanyahu dapat memakai isu perang untuk menunda pemilu; Netanyahu sebelumnya mengklaim Hamas berencana mengacaukan pemilihan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Militer Israel menyarankan pemerintah menunda rencana serangan terhadap Iran hingga pemilihan umum parlemen selesai digelar pada 27 Oktober mendatang. Para pejabat militer Israel dikabarkan khawatir perang akan memaksa pemungutan suara ditunda.

Kekhawatiran ini mencuat saat Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang menyiapkan rencana operasi militer terhadap Iran. Di sisi lain, Washington juga menjajaki opsi agar militer Israel menyerang kelompok Houthi di Yaman menyusul insiden di Arab Saudi.

  1. 1. Militer Israel khawatir serangan dianggap bermuatan politik

    serangan Israel ke Teheran pada Juni 2025
    serangan Israel ke Teheran pada Juni 2025 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

    Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dalam tiga pekan ke depan berisiko memicu eskalasi. Intelijen militer memperkirakan Teheran akan langsung membalas dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel jika diserang. Situasi tersebut diyakini bakal menunda pelaksanaan pemilu.

    Petinggi militer juga khawatir publik melihat operasi tersebut bermotif politis. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan Israel dinilai belum pulih sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Jika perang pecah sebelum hari pemungutan suara, militer khawatir dituduh membantu PM Benjamin Netanyahu mempertahankan kursi kekuasaan.

    Laporan intelijen Israel mengungkap Iran terus memperbanyak persediaan rudal balistik dan fasilitas produksinya. Namun, para jenderal Israel menilai stabilitas politik domestik harus diutamakan sebelum mengambil langkah militer besar.

  2. 2. Militer AS-Israel pertimbangkan serang Iran dan Yaman

    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman
    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

    Departemen Pertahanan AS dilaporkan telah menyusun skenario serangan cepat selama tiga hari ke sejumlah sasaran di Iran. Tiga kapal induk AS disiagakan di Timur Tengah untuk membidik pangkalan drone, gudang rudal, dan instalasi energi Teheran. Rencana ini disiapkan melalui koordinasi intensif bersama IDF.

    Selain wacana serangan ke Iran, pejabat pertahanan AS menjajaki kemungkinan serangan Israel terhadap target Houthi di Yaman. Pembahasan ini muncul setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang menewaskan 12 orang.

    Zamir mengingatkan pihak AS bahwa serangan terhadap Yaman dapat memperluas konflik regional dan memicu keterlibatan langsung Iran. Sementara itu, pernyataan publik Presiden AS Donald Trump justru bertolak belakang dengan dugaan adanya persiapan operasi militer di Pentagon.

    "Kami tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela di AS pada 3 November. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," kata Trump di Truth Social, dilansir The Jerusalem Post pada Minggu (11/10/2026).

  3. 3. Oposisi tuding Netanyahu pakai isu perang demi tunda pemilu

    oposisi Israel Yair Lapid
    oposisi Israel Yair Lapid (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Peringatan petinggi militer Israel memperkuat kecurigaan partai-partai oposisi terhadap Netanyahu. Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan kubu koalisi pemerintah maupun blok oposisi sama-sama kesulitan meraih suara mayoritas di parlemen. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa Netanyahu sengaja mencari celah agar pemilu ditunda.

    Netanyahu sempat mengklaim bahwa kelompok Hamas berencana menyerang Israel untuk mengacaukan pemilu. Pemimpin oposisi Yair Lapid membantah klaim tersebut seusai menerima laporan intelijen. Oposisi menuduh Netanyahu sengaja menebar rasa takut demi kepentingan politik pribadinya.

    "Netanyahu sedang menyiapkan perang demi menunda pemilu. Kita harus menyingkirkannya dari kekuasaan pada 27 Oktober," tutur mantan PM Israel Ehud Barak, dilansir Channel 12.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More