Presiden Prabowo Subianto Hadiri Konferensi Internasional di PBB terkait Palestina (dok. Sekretariat Negara)
Isu Palestina menjadi salah satu panggung penting bagi Prabowo Subianto untuk menegaskan arah politik luar negeri Indonesia. Dalam pidatonya pada Sidang Umum PBB ke-80 di New York, September 2025, Prabowo menyoroti krisis kemanusiaan di Gaza sekaligus kembali menyatakan dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara.
“Kita tidak bisa menutup mata atau berpaling dari tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina. Apa yang terjadi di Gaza dan wilayah pendudukan lainnya merupakan ujian terbesar bagi hati nurani dan moralitas kita bersama,” kata Prabowo kala itu.
Dia juga menegaskan perdamaian membutuhkan pengakuan terhadap hak rakyat Palestina untuk memiliki negara merdeka sekaligus jaminan keamanan bagi Israel.
“Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, tetapi kita juga harus mengakui, menghormati, dan menjamin keselamatan serta keamanan Israel. Hanya dengan demikian kita dapat mencapai perdamaian sejati: perdamaian tanpa kebencian, perdamaian tanpa kecurigaan. Satu-satunya solusi adalah solusi dua negara,” ujar dia.
Dalam pidato yang sama, Prabowo menyatakan kesiapan Indonesia mengerahkan 20 ribu personel atau lebih untuk membantu menjaga perdamaian di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, dan wilayah lain apabila Dewan Keamanan serta Majelis Umum PBB memutuskan pengerahan tersebut diperlukan.
Komitmen Indonesia dalam misi perdamaian kembali disorot saat Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres berkunjung ke Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Sentul pada 19 Oktober 2026. Dalam pidatonya di hadapan personel penjaga perdamaian, Guterres menyebut Indonesia sebagai kontributor terbesar keenam bagi misi pemeliharaan perdamaian PBB.
“Sebagai kontributor terbesar keenam bagi misi pemeliharaan perdamaian PBB, Indonesia merupakan salah satu alasan penting di balik hal itu,” ujar Guterres.
Dia juga memberikan penghormatan kepada empat personel penjaga perdamaian Indonesia yang gugur di Lebanon. Guterres menyebut hampir 2.000 personel Indonesia bertugas dalam tujuh misi perdamaian PBB di berbagai wilayah dunia.
Pernyataan tersebut memperlihatkan kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian internasional, tidak hanya melalui diplomasi di forum multilateral, tetapi juga melalui pengerahan personel di lapangan. Meski demikian, komitmen mengirim pasukan perlu dibedakan dari jumlah personel yang benar-benar dikerahkan. Begitu pula dukungan terhadap Palestina perlu dinilai berdasarkan langkah konkret untuk melindungi warga sipil dan mendorong penyelesaian konflik.
Dengan demikian, isu Palestina dan kontribusi pasukan penjaga perdamaian menjadi dua bagian penting untuk menguji diplomasi bebas aktif Prabowo: apakah Indonesia mampu menerjemahkan dukungan politik dan keterlibatan internasional menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.