Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonomi Hijau hingga AI Jadi Agenda Baru RI-China
Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Santo Darmosumarto dalam Indonesia-China Think Tank and Media Forum 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Pemerintah Indonesia mengusulkan empat fokus baru kerja sama dengan China: ekonomi hijau, digitalisasi dan AI, ketahanan pangan-energi, serta manufaktur maju untuk memperkuat kemitraan strategis komprehensif kedua negara.
  • Ekonomi hijau dan hilirisasi mineral menjadi prioritas utama melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, serta penerapan standar lingkungan dan tata kelola yang bertanggung jawab.
  • Kerja sama juga mencakup penguatan sektor digital dan AI, riset bersama di bidang pangan-energi, serta investasi manufaktur dengan transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Indonesia dan China mau kerja bareng lagi supaya makin maju. Mereka mau bikin hal baru tentang energi bersih, baterai, dan mobil listrik. Terus juga mau pakai komputer pintar atau AI buat bantu kerja dan belajar. Mereka mau punya makanan cukup, teknologi bagus, dan pabrik kuat. Sekarang dua negara itu lagi rencana kerja sama baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia mengusulkan empat bidang utama sebagai fokus baru kerja sama dengan China pada fase berikutnya hubungan kedua negara. Empat sektor tersebut dinilai dapat menjadi fondasi kemitraan yang lebih praktis dan saling menguntungkan di tengah perubahan lanskap ekonomi dan geopolitik global.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto mengatakan tahun ini memiliki arti khusus karena menjadi tahun terakhir pelaksanaan Rencana Aksi Penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China 2022-2026.

“Kita berada pada persimpangan penting untuk melihat secara jujur apa yang telah kita capai bersama dan menyusun babak berikutnya dari kemitraan strategis komprehensif kita dengan pandangan yang jelas dan ambisi bersama,” kata Santo dalam Indonesia-China Think Tank and Media Forum 2026 di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut dia, hubungan kedua negara perlu terus berkembang agar mampu menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, gangguan rantai pasok, hingga perubahan iklim dan revolusi teknologi berbasis kecerdasan buatan.

Karena itu, Indonesia mengusulkan empat bidang kerja sama yang dinilai paling menjanjikan untuk dikembangkan bersama China.

1. Ekonomi hijau dan hilirisasi mineral jadi prioritas

ilustrasi mobil listrik BYD (unsplash.com/Ansis Kančs)

Santo mengatakan ekonomi hijau dan hilirisasi mineral kritis menjadi salah satu sektor yang paling potensial untuk dikembangkan bersama China. Kerja sama tersebut meliputi pengembangan ekosistem kendaraan listrik, industri baterai, hingga investasi energi terbarukan.

“Indonesia dan China dapat bersama-sama menjadi penggerak masa depan energi bersih melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan baterai, daur ulang baterai, manufaktur panel surya, serta investasi energi terbarukan,” ujarnya.

Menurut dia, pengembangan industri tersebut harus dibangun melalui rantai pasok yang bertanggung jawab dan memperhatikan standar lingkungan, sosial, serta tata kelola yang baik.

Indonesia dan China sebelumnya telah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari pengolahan mineral hingga produksi sel baterai. Santo menilai kerja sama itu menjadi tonggak penting dalam menciptakan industri bernilai tambah yang saling menguntungkan.

Ia berharap kolaborasi di sektor ekonomi hijau dapat terus diperluas seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap energi bersih.

2. AI dan ekonomi digital masuk agenda baru

ilustrasi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi digital (pexels.com/Brett Sayles)

Bidang kedua yang diusulkan Indonesia adalah penguatan kerja sama di sektor ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), dan inovasi. Santo menilai Indonesia dan China memiliki posisi strategis sebagai dua pasar digital terbesar di dunia.

“Sebagai dua pasar digital terbesar di dunia, kita dapat berkolaborasi dalam pengembangan infrastruktur digital, perdagangan elektronik yang mendukung UMKM, teknologi finansial, dan penerapan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab,” kata Santo.

Menurut dia, perkembangan teknologi harus diiringi dengan dialog mengenai tata kelola data dan keamanan siber agar digitalisasi dapat berlangsung secara aman dan inklusif.

Santo mengatakan pemanfaatan teknologi digital harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara secara luas, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah.

Ia menambahkan, bidang pendidikan dan riset juga dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi dan inovasi di masa mendatang.

3. Ketahanan pangan hingga manufaktur maju

Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Santo Darmosumarto dalam Indonesia-China Think Tank and Media Forum 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Selain ekonomi hijau dan digitalisasi, Indonesia juga mengusulkan penguatan kerja sama di bidang ketahanan pangan dan energi. Santo mengatakan kedua negara dapat memperluas riset bersama, investasi, serta akses pasar bagi produk pertanian dan perikanan Indonesia.

“Melalui riset bersama, teknologi, dan investasi, kita dapat memperluas akses pasar bagi produk pertanian dan perikanan Indonesia serta memperkuat kerja sama dalam pasokan energi yang tangguh dan terdiversifikasi,” ujarnya.

Bidang keempat yang menjadi perhatian adalah pengembangan manufaktur maju dan peningkatan kapasitas industri. Menurut Santo, investasi perlu diiringi dengan transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Dengan berinvestasi pada industri manufaktur, memperkuat sumber daya manusia, pendidikan vokasi, serta memastikan adanya alih teknologi yang bermakna, kita dapat membangun basis industri Indonesia yang tangguh, memiliki keterampilan tinggi, dan berkelanjutan bagi dunia,” katanya.

Santo kembali menegaskan hubungan Indonesia dan China harus terus dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan.

Editorial Team

Related Article