Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Siapkan Babak Baru Kemitraan Strategis, RI-China Harus Seimbang

Siapkan Babak Baru Kemitraan Strategis, RI-China Harus Seimbang
Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Santo Darmosumarto dalam Indonesia-China Think Tank and Media Forum 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Pemerintah RI ingin hubungan dengan China lebih seimbang setelah berakhirnya rencana aksi 2022–2026, menekankan manfaat setara di bidang perdagangan, investasi, dan peningkatan kapasitas industri nasional.
  • Indonesia menegaskan politik luar negeri bebas aktif tetap dijalankan; kedekatan dengan China tidak akan mengorbankan hubungan dengan mitra lain serta berlandaskan kesetaraan dan kepentingan nasional.
  • Empat fokus kerja sama baru RI-China mencakup ekonomi hijau, digital dan AI, ketahanan pangan-energi, serta manufaktur maju melalui riset bersama dan penguatan sumber daya manusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia menginginkan hubungan dengan China berkembang lebih seimbang seiring berakhirnya Rencana Aksi Penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-China 2022-2026. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi global, kedua negara dinilai perlu membangun kemitraan yang lebih tangguh dan adaptif.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto mengatakan tema A New Journey - Forging a New Future for the China-Indonesia Comprehensive Strategic Partnership yang diusung dalam forum Indonesia-China tahun ini menjadi momentum untuk menyiapkan babak baru hubungan kedua negara.

“Sebagai seseorang yang telah terlibat dalam upaya memperkuat hubungan Indonesia-China sejak awal karier diplomatik saya, saya memandang momen ini dengan rasa hangat sekaligus optimistis. Hangat karena pencapaian yang telah diraih kedua negara dan kedua bangsa selama ini, serta optimistis dalam menyongsong masa depan hubungan kita,” kata Santo saat membuka kegiatan tersebut, Rabu (24/6/2026).

Menurut dia, Indonesia dan China telah mencatat kemajuan pada berbagai bidang, mulai dari Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Twin Parks Initiative, Regional Comprehensive Economic Corridor, hingga pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

“Kerja sama juga semakin dalam di bidang perdagangan dan investasi, ekonomi digital, pembangunan hijau, transisi energi, ketahanan pangan, dan kemaritiman. Yang tidak kalah penting adalah semakin eratnya jembatan antarmasyarakat melalui meningkatnya kunjungan wisata, mahasiswa, dan peneliti dari kedua negara,” ujarnya.

Namun, Santo mengingatkan bahwa hubungan kedua negara ke depan harus mampu menghadapi tantangan global yang semakin kompleks akibat ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, dan revolusi teknologi berbasis kecerdasan buatan.

1. RI minta hubungan dagang dengan China lebih berimbang

Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Santo Darmosumarto dalam Indonesia-China Think Tank and Media Forum 2026. (IDN Times/Marcheilla A
Direktur Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Santo Darmosumarto dalam Indonesia-China Think Tank and Media Forum 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Santo mengatakan, Indonesia menginginkan struktur perdagangan yang lebih seimbang dengan China. Menurut dia, hubungan yang setara seharusnya mampu mengurangi ketimpangan yang masih ada.

“Dalam bidang perdagangan, Indonesia menginginkan struktur perdagangan yang lebih seimbang, yang memberikan akses lebih besar bagi produk manufaktur, pertanian, perikanan, serta UMKM Indonesia ke pasar China,” katanya.

Ia menegaskan, kemitraan kedua negara harus memberikan manfaat yang setara bagi masing-masing pihak. “Kemitraan yang setara seharusnya mengurangi ketimpangan, bukan justru memperkuatnya,” ujar Santo.

Selain perdagangan, Indonesia juga berharap investasi dari China mampu mendorong peningkatan kapasitas industri nasional.

“Dalam bidang investasi, kami menyambut investasi China yang membawa alih teknologi, membangun keterampilan tenaga kerja lokal, menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, dan membantu industri Indonesia naik ke rantai nilai yang lebih tinggi,” katanya.

Menurut Santo, investasi yang masuk harus mampu memperkuat daya saing industri nasional dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.

2. Kedekatan dengan China tak mengorbankan negara lain

Prabowo, Xi Jinping
Presiden Prabowo Subianto ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan menemui Presiden China Xi Jinping. (www.twitter.com/@spokespersonCHN)

Santo mengatakan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, Indonesia menjalin hubungan dengan seluruh mitra berdasarkan kepentingan nasional.

“Indonesia menghadapi situasi ini sebagai aktor yang percaya diri dan independen. Kami menjalin kerja sama dengan seluruh mitra berdasarkan kesetaraan, saling menghormati, dan kepentingan nasional kami sendiri,” ujarnya.

Ia menyebut keterlibatan Indonesia di G20, keanggotaan BRICS, dan komitmen terhadap sentralitas ASEAN merupakan bagian dari prinsip tersebut.

Santo menegaskan hubungan yang semakin erat dengan China tidak berarti Indonesia mengabaikan mitra lainnya.

“Kami memilih sahabat, tetapi hubungan baik dengan satu mitra tidak akan pernah dilakukan dengan mengorbankan hubungan dengan mitra yang lain,” katanya.

Menurut dia, hubungan Indonesia-China harus dibangun berdasarkan saling menghormati, saling menguntungkan, serta komitmen terhadap kedaulatan dan hukum internasional.

“Kami percaya hubungan Indonesia-China yang matang dan berorientasi ke depan dapat menjadi contoh positif kerja sama Selatan-Selatan dan berkontribusi terhadap tatanan global yang lebih seimbang, lebih inklusif, dan lebih adil,” ujarnya.

3. Empat bidang baru jadi fokus kerja sama RI-China

potret kereta supercepat whoosh
potret kereta supercepat whoosh (commons.wikimedia.org/Dwifa Bagaskoro S A)

Dalam memasuki babak baru hubungan bilateral, Santo mengusulkan empat bidang kerja sama yang dinilai paling menjanjikan. Pertama, ekonomi hijau dan hilirisasi mineral kritis melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik, baterai, daur ulang baterai, manufaktur panel surya, dan investasi energi terbarukan.

“Indonesia dan China dapat bersama-sama menjadi penggerak masa depan energi bersih melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan baterai, daur ulang baterai, manufaktur panel surya, serta investasi energi terbarukan,” katanya.

Kedua, ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan inovasi. Menurut dia, kedua negara yang memiliki pasar digital besar dapat memperluas kolaborasi pada sektor infrastruktur digital, perdagangan elektronik, teknologi finansial, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab.

“Sebagai dua pasar digital terbesar di dunia, kita dapat berkolaborasi dalam pengembangan infrastruktur digital, perdagangan elektronik yang mendukung UMKM, teknologi finansial, dan penerapan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab,” ujar Santo.

Selain itu, ia juga mendorong penguatan kerja sama di bidang ketahanan pangan dan energi melalui riset dan investasi bersama, serta pengembangan industri manufaktur maju melalui peningkatan sumber daya manusia dan pendidikan vokasi.

“Mari melangkah maju dengan ambisi, keterbukaan, dan rasa percaya diri,” kata Santo.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More