Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi orang tua, lansia, Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Theodore Nguyen)
  • Godoksa di Korea Selatan adalah kematian dalam isolasi sosial; tercatat 3.661 kasus pada 2023, dengan kelompok usia 60-an dan 50-an menyumbang kasus terbanyak.
  • Kemiskinan dan kesepian memperbesar kerentanan lansia: sekitar 40 persen warga berusia 66 tahun ke atas hidup dalam kemiskinan relatif, sementara 24 persen lansia merasa kesepian.
  • Kematian tanpa klaim keluarga meningkat; lansia menyumbang 4.310 kasus pada 2025. Ruang komunitas seperti Dream City menyediakan interaksi sosial dan layanan pendukung bagi lansia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu membayangkan meninggal dunia sendirian tanpa ada seorang pun yang menyadarinya? Kondisi tersebut menjadi persoalan sosial yang semakin mengkhawatirkan di Korea Selatan, terutama di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Fenomena ini dikenal dengan istilah godoksa, yakni kematian seseorang dalam kondisi terisolasi secara sosial hingga jasadnya baru ditemukan setelah beberapa waktu. Ironisnya, sebagian orang yang mengalami kondisi tersebut bahkan gak punya keluarga yang bisa dihubungi untuk mengurus pemakamannya. Fenomena godoksa pun menjadi gambaran nyata bahwa kesepian dan keterputusan hubungan sosial dapat membawa dampak serius bagi kehidupan seseorang.

Masalah ini juga memperlihatkan bahwa kesejahteraan lansia gak cukup diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi dan kesehatan. Ada kebutuhan lain yang sering luput diperhatikan, yaitu kehadiran orang-orang yang bisa diajak berbicara, tempat untuk berinteraksi, serta lingkungan yang membuat mereka merasa tetap menjadi bagian dari masyarakat.

Lantas, seperti apa fenomena godoksa di Korea Selatan dan mengapa persoalan ini semakin mendapat perhatian?

1. Godoksa, fenomena kematian kesepian yang semakin mengkhawatirkan

ilustrasi kematian, pemakaman, makam, kuburan (unsplash.com/Sandy Millar)

Godoksa merupakan istilah Korea untuk menggambarkan seseorang yang meninggal dunia dalam kondisi terisolasi secara sosial. Orang tersebut biasanya tinggal sendirian dan gak punya hubungan atau komunikasi rutin dengan keluarga, kerabat, maupun orang-orang di sekitarnya. Akibat minimnya interaksi, kematian mereka sering kali gak langsung diketahui. Bahkan, jasadnya bisa baru ditemukan setelah beberapa hari atau lebih lama ketika seseorang mulai menyadari ketidakhadirannya.

Fenomena ini bukan persoalan kecil di Korea Selatan. Kantor berita Yonhap melaporkan bahwa terdapat 3.661 kasus kematian kesepian sepanjang 2023, meningkat dari 3.559 kasus pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar 1,04 persen dari seluruh kematian di Korea Selatan pada tahun itu termasuk dalam kategori godoksa. Data tersebut juga memperlihatkan bahwa masalah kematian dalam kesendirian sudah menjadi perhatian serius pemerintah setempat.

Menariknya, godoksa bukan hanya dialami oleh orang lanjut usia. Dalam data yang diberitakan Yonhap, kelompok usia 60-an mencatat kasus terbanyak dengan 1.146 orang, disusul kelompok usia 50-an sebanyak 1.097 orang. Artinya, persoalan keterasingan sosial juga dapat menimpa mereka yang masih berada dalam usia produktif. Namun, kondisi lansia tetap menjadi perhatian karena mereka cenderung menghadapi keterbatasan ekonomi, kesehatan, dan hubungan sosial ketika memasuki masa tua.

2. Kesepian dan kemiskinan memperbesar kerentanan lansia

ilustrasi Busan, Korea Selatan, orang tua, lansia (pexels.com/Rob Volz)

Salah satu persoalan yang membuat godoksa semakin mengkhawatirkan adalah tingginya angka kemiskinan di kalangan lansia Korea Selatan. Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa sekitar 40 persen penduduk Korea berusia 66 tahun ke atas hidup di bawah garis kemiskinan relatif pada 2022. Angka tersebut lebih dari dua kali rata-rata negara OECD yang berada di kisaran 16 persen. Bahkan, tingkat kemiskinan relatif pada kelompok usia 76 tahun ke atas mencapai 54 persen.

Kondisi ekonomi yang sulit dapat membuat sebagian lansia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya tempat tinggal dan layanan kesehatan. Ketika tak memiliki dukungan keluarga, situasi tersebut bisa semakin berat karena mereka harus menghadapi berbagai persoalan sendirian. Gak sedikit pula lansia yang akhirnya menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah tanpa memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Lama-kelamaan, kehidupan sosial mereka semakin terbatas dan risiko keterasingan pun meningkat.

Masalah kesepian juga terlihat dalam laporan OECD mengenai kesejahteraan masyarakat Korea. Pada 2023, sekitar 24 persen penduduk berusia 60 tahun ke atas mengaku merasa kesepian, baik dalam tingkat tertentu maupun sangat kesepian. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Selain itu, kurang dari separuh penduduk berusia 60 tahun ke atas merasa puas dengan hubungan personal yang mereka miliki.

3. Kematian tanpa keluarga yang mengurus jenazah juga meningkat

ilustrasi Korea Selatan, kematian, pemakaman, makam, kuburan (pexels.com/호진 김)

Persoalan godoksa memiliki sisi lain yang tak kalah memprihatinkan, yaitu meningkatnya jumlah jenazah yang gak diklaim oleh keluarga. Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang gak memiliki keluarga yang diketahui keberadaannya, kehilangan hubungan dengan kerabat, atau anggota keluarganya menolak maupun gak mampu mengurus jenazah. Akibatnya, proses pemakaman harus ditangani melalui mekanisme yang disediakan pemerintah. Situasi tersebut memperlihatkan betapa rentannya orang-orang yang menjalani kehidupan tanpa jaringan sosial yang kuat.

Dalam data Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan yang disampaikan kepada anggota parlemen Chang Jong-tae, kelompok berusia 65 tahun ke atas menyumbang 60,1 persen dari kasus kematian tanpa klaim pada 2025. Jumlahnya mencapai 4.310 orang. Angka tersebut meningkat sekitar 133 persen dibandingkan 2021. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kematian tanpa keluarga yang mengurus jenazah semakin membutuhkan perhatian, terutama ketika jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan persoalan kesehatan yang dialami orang-orang dalam kondisi isolasi sosial. Penelitian dalam Journal of Preventive Medicine and Public Health, membahas karakteristik demografi, penyakit yang mendasari, serta pola pemanfaatan layanan kesehatan pada individu yang mengalami kematian kesepian di Korea. Penelitian tersebut menggunakan data kasus kematian yang dihubungkan dengan catatan layanan kesehatan nasional. Kajian ini memperlihatkan bahwa godoksa perlu dipahami sebagai persoalan yang berkaitan dengan kondisi kesehatan dan keterhubungan seseorang dengan sistem layanan kesehatan, bukan semata-mata peristiwa meninggal sendirian.

4. Ruang berkumpul menjadi salah satu cara mengatasi isolasi sosial

ilustrasi orang tua, lansia, Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Nuhyil Ahammed)

Di tengah persoalan tersebut, terdapat upaya menarik yang dilakukan sebuah pusat komunitas bernama Dream City di dekat Stasiun Seoul. Tempat yang awalnya didirikan untuk membantu orang-orang tunawisma ini kemudian berkembang menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat lanjut usia. Setiap hari, lebih dari 300 lansia datang untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka bisa menikmati kopi murah, menonton televisi, bermain baduk atau permainan papan go khas Korea, hingga bermain janggi yang mirip catur.

Pendeta Woo Yeon-shik yang mengelola Dream City menjelaskan bahwa tempat tersebut sengaja dibuat terbuka tanpa mewajibkan pengunjung mengikuti kegiatan tertentu. Menurutnya, persahabatan dapat terbentuk secara alami ketika orang-orang memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu di tempat yang sama. Karena itu, para pengunjung bisa mulai berkenalan melalui aktivitas sederhana, seperti bermain permainan papan atau meminta bantuan menggunakan komputer. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi lansia untuk kembali merasakan interaksi sosial tanpa tekanan.

Dream City juga menyediakan sejumlah fasilitas yang membantu memenuhi kebutuhan pengunjung. Mulai dari akses listrik dan air panas, potong rambut gratis, bantuan hukum, pendampingan menulis resume, hingga layanan kesehatan. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan alasan bagi lansia untuk keluar dari tempat tinggal mereka dan bertemu orang lain. Sayangnya, kenaikan biaya sewa membuat Dream City harus meninggalkan lokasi lamanya di Seoul dan berpindah ke Wonmi-dong, Bucheon, Provinsi Gyeonggi.

5. Interaksi sosial bisa menjadi perlindungan bagi lansia

ilustrasi orang tua, lansia, Seoul, Korea Selatan (pexels.com/Alexander London)

Mengatasi godoksa membutuhkan perhatian yang lebih luas daripada sekadar menyediakan bantuan finansial atau layanan kesehatan. Lansia juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka berinteraksi secara rutin dengan orang lain. Dalam wawancara mengenai pentingnya hubungan sosial, Kim Sue-lynn, peneliti kesehatan dan kesejahteraan lansia di Korea Rural Economic Institute, menjelaskan bahwa hidup sendirian tanpa teman bicara dapat berdampak buruk terhadap kesehatan dan fungsi kognitif seseorang. Interaksi dengan orang lain dapat membantu mengurangi dampak tersebut.

Menurut Kim, komunikasi rutin juga memiliki manfaat pencegahan. Ketika seseorang terbiasa berbincang dengan tetangga atau teman, perubahan kondisi kesehatan maupun perilaku yang tak biasa bisa lebih cepat diketahui. Misalnya, seseorang yang biasanya aktif tiba-tiba tak terlihat selama beberapa hari. Orang-orang di sekitarnya dapat lebih mudah menyadari perubahan tersebut dan segera mencari tahu apakah ia membutuhkan bantuan.

Karena itu, pusat komunitas, kelompok kegiatan lansia, dan dukungan pemerintah memiliki peran penting dalam mengurangi isolasi sosial. Hubungan sederhana seperti menyapa tetangga, mengajak berbincang, atau rutin mengunjungi kerabat lanjut usia juga bisa membantu membangun jaringan kepedulian. Upaya seperti ini memang gak langsung menyelesaikan seluruh persoalan godoksa, tapi dapat menjadi langkah awal agar semakin sedikit orang yang menjalani masa tua tanpa perhatian dari lingkungan sekitarnya.

Fenomena godoksa di Korea Selatan menjadi pengingat bahwa kesepian dapat membawa dampak serius, terutama ketika seseorang memasuki usia lanjut. Kehidupan yang semakin individualistis, keterbatasan ekonomi, masalah kesehatan, dan minimnya dukungan keluarga bisa membuat seseorang perlahan terputus dari lingkungan sosialnya.

Karena itu, perhatian terhadap lansia seharusnya gak berhenti pada pemenuhan kebutuhan materi, tapi juga mencakup kebutuhan emosional dan sosial mereka. Sebab, setiap orang berhak menjalani masa tua dengan perasaan dihargai, diperhatikan, dan tetap memiliki tempat untuk pulang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article