Pemimpin Sekte Kiamat di Kenya Divonis 200 Tahun Penjara

Pengadilan Tinggi Mombasa menjatuhkan Paul Mackenzie hukuman 200 tahun penjara atas pembunuhan 190 anak dan satu dewasa dalam tragedi sekte di Hutan Shakahola.
Mackenzie memerintahkan pengikutnya berpuasa hingga tewas; 28 kaki tangannya dihukum 100–160 tahun karena mengancam korban dan menyembunyikan jasad di kuburan massal.
Kasus terungkap pada 2023 setelah penyelamatan pengikut kelaparan; 448 jasad ditemukan di Shakahola, sementara total korban dengan temuan desa sekitar mencapai 500 orang.
Jakarta, IDN Times - Pengadilan Tinggi di Kota Mombasa, Kenya, menjatuhkan vonis 200 tahun penjara kepada pemimpin sekte kiamat, Paul Mackenzie, pada Jumat (6/11/2026). Pria yang mengklaim dirinya sebagai pendeta di Good News International Church itu dinyatakan bersalah pada 19 Oktober lalu atas pembunuhan 190 anak dan satu orang dewasa di Hutan Shakahola antara Januari 2021 hingga September 2023. Para korban tersebut merupakan bagian dari total 500 orang yang diduga tewas dalam salah satu tragedi pembunuhan massal terkait sekte terburuk sepanjang sejarah modern.
Mackenzie memerintahkan para pengikutnya beserta anak-anak mereka untuk berpuasa hingga mati kelaparan agar bisa masuk surga dan bertemu Yesus sebelum dunia berakhir. Selain Mackenzie, pengadilan yang dipimpin Hakim Diana Kavedza Mochache itu turut memvonis 28 rekan terdakwa dengan hukuman penjara antara 100 hingga 160 tahun atas kejahatan serupa. Para kaki tangan yang mencakup penjaga dan penggali kubur tersebut bertugas mengancam serta memukuli korban agar mematuhi perintah puasa hingga tewas, kemudian menyembunyikan jasad mereka di kuburan massal.
1. Rincian vonis pengadilan terhadap Mackenzie

Ilustrasi pengadilan. (unsplash.com/Tingey Injury Law Firm) Hakim menjatuhkan dua hukuman terpisah masing-masing 100 tahun penjara kepada Mackenzie yang harus dijalani secara berurutan. Vonis tersebut terbagi atas 100 tahun penjara untuk dakwaan pembunuhan lewat kelaparan terhadap 183 korban dan 100 tahun penjara untuk pembunuhan langsung terhadap delapan korban lainnya. Hasil autopsi menunjukkan sebagian besar korban tewas akibat kelaparan ekstrem, sementara sebagian lainnya meninggal karena dicekik, dibekap, atau mengalami cedera benda tumpul di kepala.
Dalam pembacaan putusannya, Mochache menyoroti penderitaan para korban anak, termasuk 161 anak di bawah usia 10 tahun dan seorang bayi berusia 12 hari yang dibiarkan tewas kepanasan tanpa diberi air susu ibu sejak lahir. Hakim menilai pembunuhan tersebut direncanakan dengan kejam serta menegaskan bahwa Mackenzie memegang tanggung jawab pidana utama karena memindahkan pengikutnya ke lokasi terpencil dan memerintahkan mereka berpuasa hingga mati.
"Hukuman dari pengadilan ini harus sebanding dengan kelamnya perbuatan mereka, yakni hukuman maksimal menurut undang-undang. Mencabut kebebasan mereka dan mengurungnya seumur hidup akan menjauhkan mereka selamanya dari masyarakat, sebuah hukuman permanen atas kejahatan mengerikan terhadap kelompok manusia paling tak berdaya," ujar Hakim Pengadilan Tinggi Mombasa, Diana Kavedza Mochache, dilansir Sky News.
Jaksa penuntut sebelumnya menuntut hukuman mati bagi Mackenzie dan penjara seumur hidup bagi para kaki tangannya. Namun, hakim menolak tuntutan hukuman mati tersebut karena menilai eksekusi mati akan menghilangkan peluang rehabilitasi, mengingat Kenya juga tidak pernah menjalankan eksekusi mati sejak 1987. Selama persidangan di tenda luar pengadilan, Mackenzie yang mengenakan kaus polo abu-abu dan celana hitam dilaporkan sering tersenyum serta mengobrol dengan asisten pendetanya, Smart Mwakalama, yang divonis 160 tahun penjara.
2. Terdakwa dinilai tidak menunjukkan penyesalan

ilustrasi penjara. (unsplash.com/Ye Jinghan) Mochache menyebutkan bahwa Mackenzie dan para kaki tangannya sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalan maupun empati kepada keluarga korban selama persidangan. Para pelaku bahkan menyatakan bahwa anak-anak mereka kini sudah berada di surga dan mereka siap menyusul dengan berpuasa hingga mati. Berdasarkan laporan petugas masa percobaan, Mackenzie dinilai masih menjadi pengaruh ideologis di balik gerakan tersebut, tetap memegang teguh ajarannya, dan memiliki risiko tinggi untuk mengulangi kejahatannya.
Sejak awal persidangan, Mackenzie dan rekan terdakwa lainnya terus membantah dakwaan pembunuhan dengan berdalih tidak pernah memaksa siapa pun berpuasa hingga tewas, kecuali satu terdakwa yang mengakui perbuatannya dan memohon keringanan hukuman. Mackenzie justru menyalahkan pemerintah atas kematian ratusan orang tersebut dan berencana mengajukan banding melalui tim pengacaranya. Meski begitu, kesaksian di pengadilan mengungkap bahwa pengikut yang menolak perintah puasa dipaksa masuk surga melalui tendangan dan pukulan hingga tewas, lalu kematian mereka dirayakan sebagai pernikahan dengan Yesus.
Di luar vonis ini, Mackenzie masih menghadapi sederet persidangan terpisah terkait dakwaan terorisme, pembunuhan tidak berencana, penganiayaan anak, serta penyiksaan di dua pengadilan berbeda. Pada Januari lalu, ia juga didakwa atas pembunuhan 52 orang lainnya yang ditemukan tewas di sebuah desa yang berjarak 30 kilometer dari lokasi utama. Mackenzie menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan tambahan tersebut.
Putusan pengadilan kali ini disambut baik oleh keluarga korban, termasuk putra kandung sang pemimpin sekte, Dan Mackenzie, yang memilih keluar dari gereja ayahnya karena tidak lagi memercayai ajaran tersebut. Ia mengungkapkan bahwa ayahnya bahkan tidak mengampuni keluarganya sendiri hingga menyebabkan adik laki-laki dan teman-temannya turut menjadi korban di Hutan Shakahola.
"Saya kehilangan anak-anak, dan saya tidak akan bisa mendapatkan mereka kembali terlepas dari apa pun yang terjadi pada Mackenzie serta kaki tangannya. Saya berharap dia dihukum mati atau dipenjara seumur hidup agar tidak pernah keluar lagi untuk menyebabkan kematian lainnya," kata salah satu orang tua yang kehilangan enam anaknya akibat dibawa sang istri ke sekte tersebut, Stephen Mwiti, dilansir The Straits Times.
3. Sekte didirikan sejak 2003

Ilustrasi alam di Kenya (pixabay.com/jonny_joka) Mackenzie yang dulunya bekerja sebagai sopir taksi pada awal 2000-an mendirikan Good News International Church pada 2003. Selama 16 tahun beroperasi, gereja ini berkembang pesat dan menarik ribuan pengikut lewat cabang di Nairobi serta pesisir Malindi, ditambah siaran khotbah melalui saluran televisi miliknya, Times TV, maupun internet. Dalam khotbah akhir zamannya, ia menyebarkan teori konspirasi bahwa pendidikan adalah kejahatan, layanan kesehatan melanggar doktrin agama, dan kartu identitas digital adalah tanda iblis, serta sempat meramalkan kedatangan virus besar sesaat sebelum pandemi COVID-19 melanda.
Pihak berwenang sebenarnya telah memantau aktivitas Mackenzie sejak menggeledah tempatnya dan menangkapnya atas tuduhan radikalisasi pada 2017, tetapi ia dibebaskan oleh pengadilan. Ia kembali ditangkap pada 2019 terkait kematian dua anak, tetapi dilepaskan dengan jaminan karena kurangnya bukti. Setelah gerejanya di Malindi ditutup pada 2019, Mackenzie memindahkan pengikutnya untuk tinggal di gubuk lumpur di lahan terpencil seluas 324 hektare di Peternakan Chakama, Hutan Shakahola, lalu membagi mereka ke dalam kelompok kecil bernama Alkitab untuk berpuasa bersama hingga mati.
Kasus ini baru terbongkar pada April 2023 ketika polisi menangkap Mackenzie berkat laporan kelompok hak asasi manusia dan menyelamatkan sejumlah pengikut yang nyaris tewas kelaparan. Penggalian kuburan dangkal dan lubang kakus tempat sebagian korban dikubur hidup-hidup di hutan tersebut bahkan sempat dihentikan sementara karena kamar mayat setempat kehabisan ruang. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya mencatat total 448 jasad ditemukan di Hutan Shakahola, sehingga jika digabungkan dengan 52 jasad di desa sekitar, total korban tewas mencapai 500 orang dan baru lebih dari 60 jasad yang berhasil diidentifikasi keluarga.
Skala tragedi ini dinilai sebanding dengan pembantaian sekte di Uganda pada 2000 yang menewaskan lebih dari 700 orang dan tragedi Jonestown di Guyana pada 1978 yang menewaskan lebih dari 900 orang. Publik sempat marah setelah penyelidikan komisi hak asasi manusia mengungkap bahwa pejabat daerah, polisi, dan intelijen berulang kali menutup mata terhadap tanda bahaya aktivitas sekte tersebut.
"Tidak ada yang bisa meredakan rasa sakit ini. Saya sangat marah kepada pihak berwenang, karena jika mereka segera mengambil tindakan saat itu, kami tidak akan berada di situasi seperti hari ini," tutur Francis Wanje, seorang guru berusia 62 tahun yang kehilangan delapan kerabat termasuk dua cucunya di Hutan Shakahola, dilansir CBS News.






















