Tingkat Pekerjaan Anak Muda Korsel Tertinggal dari Rata-rata OECD

- Kesenjangan pekerjaan usia 15—24 tahun Korsel dengan rata-rata OECD mencapai 16,4 poin persentase pada 2024, tertinggi dalam satu dekade, setelah tingkat pekerjaan terus menurun.
- Tingkat pekerjaan anak muda Korsel turun dari 28,8 persen pada 2022 menjadi 26,8 persen pada 2024, lalu 25,3 persen pada 2025 dan melemah lagi sepanjang 2026.
- Perusahaan makin mengutamakan pekerja berpengalaman, sementara lapangan kerja manufaktur, konstruksi, akomodasi, dan makanan terbatas; pakar menilai diperlukan restrukturisasi industri berorientasi penciptaan kerja.
Jakarta, IDN Times - Kesenjangan tingkat pekerjaan penduduk usia 15—24 tahun di Korea Selatan (Korsel) dan rata-rata negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mencapai 16,4 poin persentase pada 2024. Selisih tersebut menjadi yang terbesar dalam satu dekade terakhir, seiring penurunan tingkat pekerjaan anak muda Korsel.
Berdasarkan data Kementerian Data dan Statistik Korsel (MODS) yang dilaporkan oleh Korea JoongAng Daily, tingkat pekerjaan penduduk usia 15 — 24 tahun di negara tersebut turun menjadi 25,3 persen pada 2025 dan terus melemah pada paruh pertama 2026.
Table of Content
1. Tingkat pekerjaan anak muda Korsel terus menurun

ilustrasi menganggur (pexels.com/Ron Lach) Tingkat pekerjaan penduduk usia 15—24 tahun di Korsel turun dari 28,8 persen pada 2022 menjadi 27,9 persen pada 2023 dan 26,8 persen pada 2024. Sementara itu, rerata negara anggota OECD relatif stabil di kisaran 42,8—43,5 persen pada periode yang sama.
Pada 2026, tingkat pekerjaan anak muda Korsel kembali turun menjadi 24,1 persen pada kuartal I dan 23,2 persen pada kuartal II. Angka tahunan 2026 diperkirakan bakal lebih rendah dibandingkan 2025.
2. Perusahaan Korsel kian mengutamakan pekerja berpengalaman

ilustrasi bekerja (pexels.com/olia danilevich) Pejabat pemerintah Korsel mengatakan bahwa perusahaan besar mengurangi perekrutan terbuka dan makin mengutamakan pekerja berpengalaman. Kondisi ini mempersempit peluang kerja bagi anak muda, terutama mereka yang mengalami kesenjangan pengalaman selama pandemik COVID-19.
Ketersediaan pekerjaan berkualitas juga terbatas. Penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur dan konstruksi telah menurun selama lebih dari dua tahun, sementara perekrutan di sektor akomodasi dan jasa makanan masih terbilang lemah.
Pada September 2026, sektor manufaktur merekrut sekitar 16 ribu pekerja, menjadi kenaikan pertama dalam 27 bulan. Akan tetapi, angka tersebut belum menunjukkan pemulihan yang berarti.
3. Pakar mendorong perubahan kebijakan ketenagakerjaan

ilustrasi topi wisuda (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Profesor Fakultas Ekonomi Universitas Sogang, Hur Joon Young, berujar bahwa kesulitan mencari pekerjaan kini turut memengaruhi lulusan universitas ternama yang belum punya pengalaman kerja.
"Bahkan lulusan dari universitas ternama pun tidak bisa memperoleh pekerjaan karena kurang pengalaman, tetapi mereka tidak bisa memperoleh pengalaman karena mereka tidak bisa memperoleh pekerjaan (sejak awal)," tuturnya sebagaimana dilansir Korea JoongAng Daily. Menurut Hur, kondisi tersebut merupakan persoalan struktural yang tak mudah diatasi.
Hur menilai semikonduktor dan akal imitasi (AI) tetaplah penting, tetapi pemerintah juga perlu secara serius memikirkan restrukturisasi industri jangka panjang yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, tingkat pekerjaan penduduk berusia 25 — 29 tahun juga menurun, dari 72,5 persen pada 2024 menjadi 71,8 persen pada 2025 dan 71,4 persen pada kuartal III 2026. Di sisi lain, tingkat pekerjaan penduduk berusia 60 tahun ke atas meningkat menjadi 46,7 persen pada 2025, sedangkan kelompok usia 55 — 64 tahun mencapai 70,5 persen untuk pertama kalinya.






















