Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Filipina Panggil Dubes China Usai Lontarkan Ancaman Perang
Bendera Filipina (unsplash.com/iSawRed)
  • Kementerian Luar Negeri Filipina memanggil Duta Besar China Jing Quan setelah pernyataannya tentang kemenangan mudah dalam perang dinilai sebagai ancaman militer dan pelanggaran diplomasi.
  • Sejumlah senator Filipina mendesak Jing Quan dinyatakan persona non grata dan meminta permintaan maaf tertulis, sementara Presiden Ferdinand Marcos Jr. tetap mengutamakan perundingan diplomatik.
  • Ketegangan dipicu sengketa Laut China Selatan, dengan insiden maritim berulang di wilayah Filipina meski putusan arbitrase 2016 membatalkan klaim sepihak Beijing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri Filipina resmi memanggil Duta Besar China, Jing Quan, menyusul pernyataannya yang menyebut Beijing dapat menang dengan mudah jika terjadi perang terbuka antarkedua negara. Ucapan kontroversial tersebut memicu gelombang kemarahan hingga berujung pada desakan dari anggota parlemen untuk memulangkan diplomat tertinggi Beijing itu.

Pemerintah Filipina menegaskan bahwa tindakan diplomatik ini diambil demi melindungi kehormatan serta keamanan wilayah nasional. Langkah pemanggilan ini sekaligus menjadi peringatan resmi agar pihak luar menghormati kedaulatan negara setempat dan tidak melontarkan ancaman militer.

1. Protes keras Menlu Filipina atas pelanggaran aturan diplomasi

Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro di ASEAN Media Forum (AMF) ke-10 di Manila. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa Lazaro, melayangkan protes keras atas pernyataan terbuka Jing Quan. Lazaro menegaskan bahwa klaim keunggulan militer tersebut merupakan bentuk ancaman bersenjata yang bertentangan dengan tata krama diplomasi internasional. Pernyataan sepihak itu dinilai merusak pembicaraan damai yang sedang dirintis oleh kedua belah pihak.

Selain itu, Kementerian Luar Negeri Filipina mengecam Kedutaan Besar China yang sempat menyindir anggota parlemen pengkritik Jing, seraya menegaskan kesiapan Manila untuk mengambil tindakan diplomatik lanjutan bila diperlukan.

"Pernyataan tersebut sangat memancing ketegangan, tidak dapat diterima, dan sama sekali tidak membantu menciptakan rasa saling memahami," tegas Lazaro, dilansir Channel News Asia.

2. Desakan anggota parlemen untuk mengusir Duta Besar China

ilustrasi bendera China (commons.wikimedia.org/TurnOnTheNight)

Kontroversi ini bermula saat Jing membantah pernyataan Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., yang menyebut Beijing kerap memicu masalah di kawasan. Di hadapan sebuah forum sekolah di Manila, Jing menyatakan bahwa pihak China bisa menang dengan mudah jika mengerahkan kekuatan tentara. Menanggapi hal itu, Teodoro menilai pernyataan tersebut bukan sekadar keliru berbicara, melainkan bentuk ancaman nyata yang memperlihatkan niat sesungguhnya dari pemerintah Beijing.

Menyikapi polemik ini, Wakil Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Erwin Tulfo, mengajukan usulan resmi untuk mengusir Jing dengan menyatakan sang diplomat sebagai orang yang tidak lagi diterima di Filipina (persona non grata). Anggota Senat lainnya, Risa Hontiveros, turut menuntut permohonan maaf secara tertulis dari sang duta besar.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, membela Jing dan meminta para politisi Filipina untuk tidak memperkeruh hubungan kedua negara. Di tengah desakan tersebut, Presiden Ferdinand Marcos Jr. memilih bersikap hati-hati dan tetap mengedepankan jalur perundingan melalui kementerian luar negeri.

3. Perselisihan sengketa wilayah di perairan Laut China Selatan

kapal militer berpatroli di Laut China Selatan (commons.wikimedia.org/Anonymous United States Navy photographer)

Ketegangan diplomatik ini berakar dari sengketa perebutan wilayah yang kian memanas di perairan Laut China Selatan. Meski pengadilan arbitrase internasional pada 2016 telah membatalkan klaim peta sepihak milik Beijing, China tetap bersikeras menguasai hampir seluruh kawasan perairan tersebut.

Gesekan di wilayah laut Filipina pun kerap terjadi, mulai dari penyemprotan dengan meriam air, benturan kapal patroli di Beting Sabina dan Beting Ayungin, hingga manuver berbahaya jet tempur di Beting Scarborough. Juru Bicara Penjaga Pantai Filipina, Jay Tarriela, menilai pernyataan duta besar tersebut sebagai bentuk intimidasi nyata di tengah ancaman maritim yang dihadapi setiap hari. Pemerintah Manila menegaskan bahwa kedaulatan negara serta aturan hukum laut internasional tidak akan pernah tunduk pada tekanan militer pihak asing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article