ilustrasi pemilu (unsplash.com/Element5 Digital)
Tingkat kehancuran di Gaza diakui menyulitkan upaya penentuan lokasi pemungutan suara yang memadai. "Kehancurannya sangat luas," ujar al-Khalidi seraya menambahkan bahwa kerusakan tersebut telah berdampak pada infrastruktur yang dibutuhkan untuk proses pemilu. Menghadapi kendala itu, pihak komisi berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan guna mengidentifikasi sekolah-sekolah yang masih dapat diakses dan dapat dialihfungsikan menjadi pusat pemungutan suara.
Rencana saat ini menetapkan sekitar 100 hingga 110 pusat pemungutan suara di Gaza untuk melayani perkiraan 1,25 juta pemilih yang memenuhi syarat. Al-Khalidi menyatakan kehancuran tersebut tidak menyurutkan minat publik, seraya merujuk pada tekad kuat masyarakat Palestina untuk berpartisipasi meski menghadapi kesulitan dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya pada Sabtu (25/4/2026), pemilihan kota diselenggarakan di Deir al Balah, Gaza tengah, dengan tenda-tenda yang difungsikan sebagai pusat pemungutan suara, yang menandai pemilu lokal pertama di kota tersebut dalam kurun waktu 22 tahun.
Terkait perlengkapan pemilu, komisi telah menyusun opsi pengganti seandainya pasokan utama terhambat masuk ke Gaza. "Jika bahan-bahan pemilu yang sensitif tidak dapat dimasukkan, kami memiliki alternatif yang dapat diterima dan praktis yang memungkinkan pemungutan suara diadakan sesuai standar internasional," tutur al-Khalidi. Alternatif tersebut mencakup kotak suara, surat suara, dan tinta pemilu, di mana komisi tidak melihat adanya rintangan teknis selama situasi keamanan memungkinkan proses pemilu berlangsung.