Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hamas Tolak Pelucutan Senjata karena Tak Ada Jaminan Israel Mundur
perayaan 25 tahun Hamas di Gaza pada 2012 (Fars Media Corporation, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Hamas menolak pelucutan senjata sebelum Israel sepenuhnya mundur dari Gaza, menilai tuntutan itu sebagai kelanjutan genosida dan meminta jaminan penarikan pasukan Israel.
  • Rencana Board of Peace mencakup lima tahap pelucutan senjata selama delapan bulan dengan pengawasan internasional, berujung pada verifikasi akhir dan rekonstruksi Gaza.
  • Lebih dari 21 ribu anak Palestina tewas sejak Oktober 2023 akibat konflik di Gaza, memperparah krisis kemanusiaan yang diperburuk oleh blokade bantuan logistik dan medis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sayap bersenjata Hamas, pada Minggu (5/4/2026), menolak tuntutan pelucutan senjata sebelum Israel sepenuhnya mundur dari Jalur Gaza. Penolakan ini menghambat implementasi rencana Board of Peace (BoP) yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Kelompok perlawanan Palestina tersebut menilai rencana pelucutan senjata sebagai bentuk kelanjutan genosida terhadap rakyat Gaza. Mereka tidak ingin melanjutkan negosiasi tanpa adanya jaminan bahwa pasukan Israel akan menarik pasukannya.

1. Hamas dan Israel saling tidak percaya

ilustrasi perbatasan Gaza. (unsplash.com/Emad El Byed)

Juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Obeida, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima pembahasan pelucutan senjata yang diajukan dengan cara yang tidak pantas. Hamas juga mendesak para mediator agar menekan Israel untuk mematuhi komitmen tahap pertama gencatan senjata.

"Tuntutan pelucutan senjata ini tidak lain adalah upaya terang-terangan untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami, sesuatu yang tidak akan kami terima dalam keadaan apa pun," ujar Abu Obeida, dilansir Al Jazeera.

Di sisi lain, para pejabat Israel bersikap skeptis dan menuduh Hamas hanya berusaha mengulur waktu demi memperkuat diri. Militer Israel menuduh Hamas sedang merekrut anggota baru dan membangun kembali kapasitas produksi roket mereka.

BoP berencana menerapkan prinsip satu otoritas, satu hukum dan satu senjata yang mengharuskan semua milisi di Gaza menyerahkan senjata mereka. Sementara itu, Israel saat ini dinilai belum merencanakan operasi darat besar ke Gaza karena masih fokus pada perang melawan Iran.

2. Rencana lima tahap pelucutan senjata di Gaza

pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Rencana pelucutan senjata yang didukung AS dirancang untuk berlangsung selama delapan bulan. Proses ini akan diawasi oleh komite teknokratik Palestina bersama Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).

Pada tahap pertama selama 15 hari, komite teknokratik akan mengambil alih kendali administratif dan keamanan di Gaza. Memasuki tahap kedua, Israel harus menarik persenjataan beratnya selama enam minggu seiring dengan penempatan pasukan perdamaian internasional.

Tahap ketiga mewajibkan Hamas untuk segera menyerahkan senjata berat dan menghancurkan seluruh jaringan bawah tanah dalam waktu 60 hari. Setelah itu, tahap keempat menuntut penyerahan senjata ringan yang diikuti oleh penarikan bertahap prajurit Israel dari Gaza.

Pada tahap kelima atau hari ke-250, pelucutan senjata harus diverifikasi secara menyeluruh oleh pihak pengawas internasional. Verifikasi akhir ini akan membuka jalan bagi penarikan total pasukan Israel dan dimulainya proses rekonstruksi Jalur Gaza.

3. Lebih dari 21 ribu anak tewas akibat konflik di Gaza

anak-anak di Gaza berdesakan mengantri makanan. (Ashraf Amra, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Meski kesepakatan gencatan senjata telah berjalan sejak Oktober lalu, rentetan serangan militer Israel masih terus memakan banyak korban jiwa. Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS) mencatat setidaknya 21.284 anak Palestina tewas sejak Oktober 2023 hingga April 2026.

Korban tewas mencakup 1.029 bayi di bawah usia satu tahun dan 5.031 balita. Selain akibat ledakan bom, tercatat 157 anak meninggal dunia karena kelaparan dan 25 lainnya tewas akibat cuaca dingin ekstrem.

"Angka-angka ini menegaskan bahwa apa yang terjadi merupakan upaya sistematis untuk memusnahkan seluruh generasi Palestina," tutur perwakilan PCBS, dilansir The New Arab.

Krisis kemanusiaan semakin parah akibat blokade yang menghalangi masuknya bantuan logistik dan medis ke Gaza. Selain memakan korban jiwa, konflik juga telah melukai 44.486 anak dan mengakibatkan 58 ribu anak kehilangan orang tua.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team