Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Brigade Al-Qassam Sebut Israel Langgar Gencatan Senjata di Gaza

Brigade Al-Qassam Sebut Israel Langgar Gencatan Senjata di Gaza
ilustrasi gencatan senjata di Gaza (pexels.com/Mohammed Abubakr)
Intinya Sih
  • Brigade Al-Qassam menuduh Israel melanggar gencatan senjata di Gaza dengan tetap melakukan serangan, meski kesepakatan penghentian perang sudah berlaku sejak Oktober 2025.
  • Hamas menegaskan bahwa serangan yang mereka lakukan merupakan balasan atas pelanggaran Israel, sementara data menunjukkan ratusan warga Palestina tewas dan ribuan lainnya terluka sejak gencatan dimulai.
  • Serangan berkepanjangan telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza, mendorong pembentukan Dewan Perdamaian Gaza oleh AS untuk rekonstruksi wilayah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyebut Israel telah melanggar aturan gencatan senjata di Jalur Gaza. Tuduhan tersebut disampaikan dalam sebuah video yang dirilis pada Minggu (5/4/2026).

Dalam pernyataannya, Brigade Al-Qassam menjelaskan, tuduhan tersebut dilontarkan karena pasukan militer Israel (IDF) masih kerap melancarkan serangan ke Gaza meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata. Oleh karena itu, Brigade Al-Qassam mendesak Israel untuk mematuhi aturan gencatan senjata yang kini sedang berlangsung di wilayah tersebut. 

"Yang dibutuhkan adalah menekan Israel untuk memenuhi kewajibannya dalam fase pertama perjanjian gencatan senjata sebelum membahas fase kedua dan meminta pertanggungjawaban pemerintahan Amerika (Serikat). Apa yang tidak bisa direbut musuh (Israel) dari kita dengan tank dan pemusnahan, tidak akan bisa direbut melalui politik dan negosiasi," jelas Juru Bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaida, seperti dilansir Anadolu Agency.

1. Gencatan senjata di Gaza sudah mulai sejak Oktober 2025

Gencatan senjata.
ilustrasi gencatan senjata Israel di Gaza (unsplash.com/Brett Wharton)

Kesepakatan gencatan senjata di Gaza sendiri sudah dimulai sejak Oktober 2025. Saat itu, Hamas dan Israel yang dimediasi Turki, Qatar, dan Mesir akhirnya sepakat untuk menandatangani gencatan senjata fase pertama di wilayah tersebut. 

Kesepakatan ini bertujuan untuk menghentikan perang antara Hamas dan Israel yang terjadi di Gaza. Sebab, perang yang sudah mulai pecah sejak Oktober 2023 lalu itu sudah memakan banyak korban jiwa. 

Pada Januari 2026 lalu, gencatan senjata fase kedua di Gaza juga sudah dimulai. Langkah ini diambil untuk memperpanjang penghentian sementara perang yang terjadi antara Hamas dan Israel.

2. Israel kerap melanggar aturan gencatan senjata

IDF sedang bertugas di lapangan.
potret pasukan militer Israel (IDF) (flickr.com/Israel Defense Forces via commons.wikimedia.org/Israel Defense Forces)

Meski sudah ada kesepakatan gencatan senjata, Israel rupanya tetap melakukan serangan ke Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel ke Gaza yang dilakukan sejak gencatan senjata telah menewaskan 716 warga Palestina. Sementara itu, 1.968 warga lainnya mengalami luka-luka.  

Hamas sebetulnya sudah berulang kali mendesak Israel untuk mematuhi aturan gencatan senjata. Namun, tidak pernah digubris. Bahkan, Israel malah menuduh bahwa Hamaslah yang telah melanggar gencatan senjata karena kerap menyerang mereka di Gaza.

Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut. Mereka justru menuduh Israellah yang lebih dulu menyerang Hamas di Gaza. Oleh karena itu, serangan yang dilakukan Hamas di Gaza bertujuan untuk membalas serangan Israel. 

3. Serangan Israel di Gaza telah menewaskan puluhan ribu warga

Batu nisan di kuburan.
ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Brett Sayles)

Sejauh ini, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina. Sementara itu, sekitar 170.000 warga Palestina lainnya mengalami luka-luka.

Serangan Israel juga telah membuat 90 persen infrastruktur publik di Gaza hancur lebur. Menurut prediksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), butuh biaya sekitar 70 miliar dolar AS atau setara Rp1,1 kuadriliun untuk membangun kembali Gaza yang rusak akibat diserang Israel.  

Oleh karena itu, pada Februari lalu, Presiden AS, Donald Trump, membentuk Dewan Perdamaian (BoP) Gaza. Selain untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Palestina, organisasi ini juga bertujuan untuk membangun kembali Gaza. Sejumlah negara juga sudah setuju menjadi donatur untuk membantu BoP merekonstruksi wilayah tersebut. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More