Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

WHO Tangguhkan Evakuasi Medis di Gaza usai Pekerjanya Tewas

WHO Tangguhkan Evakuasi Medis di Gaza usai Pekerjanya Tewas
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foreign, Commonwealth & Development Office, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • WHO menangguhkan evakuasi medis dari Gaza setelah seorang pekerja kontraknya tewas akibat serangan Israel, dan menyerukan perlindungan bagi warga sipil serta tenaga kemanusiaan.
  • Seorang sopir WHO bernama Majdi Aslan tewas ditembak tentara Israel di Khan Younis, sementara tujuh orang lainnya terluka dalam insiden penembakan terhadap kendaraan kemanusiaan.
  • Hamas menolak tuntutan pelucutan senjata sebelum Israel memenuhi tahap pertama gencatan senjata, menuding komunitas internasional hanya menekan pihaknya tanpa menghentikan agresi Israel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Senin (6/4/2026), mengumumkan bahwa badan tersebut menangguhkan evakuasi medis dari Gaza hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini diambil setelah seorang pekerja kontraknya tewas akibat serangan Israel.

“WHO sangat terpukul untuk mengonfirmasi bahwa seseorang yang dikontrak untuk memberikan layanan bagi organisasi di Gaza tewas hari ini dalam sebuah insiden keamanan. Setelah insiden tersebut, WHO menangguhkan evakuasi medis pasien dari Gaza melalui Rafah menuju Mesir pada hari ini,” tulis Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, di platform media sosial X.

Badan kesehatan PBB itu tidak memberikan rincian mengenai insiden tersebut, tapi Tedros mengatakan bahwa pihak berwenang terkait tengah melakukan penyelidikan.

“Kami menyerukan perlindungan bagi warga sipil dan pekerja kemanusiaan,” tambahnya, dilansir dari The Straits Times.

1. Tentara Israel tembaki mobil yang membawa staf WHO

pasukan Israel
pasukan Israel ( / IDF Spokesperson's Unit)

Dilansir dari Al Jazeera, seorang staf WHO tewas dan beberapa lainnya terluka setelah tentara Israel menembaki mobil mereka di Gaza selatan, pada Senin. Korban diidentifikasi sebagai Majdi Aslan, seorang pria berusia 54 tahun yang bekerja sebagai sopir untuk badan kesehatan PBB tersebut.

Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, mengatakan insiden itu terjadi di daerah dekat garis kuning di timur Khan Younis. Pasukan Israel disebut melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah orang-orang dan kendaraan yang melintas di sepanjang Jalan Salah al-Din.

“Pengemudi tertembak di kepala, dan saat ia dibawa ke Rumah Sakit Al-Aqsa, ia dinyatakan meninggal dunia,” kata Mahmoud, seraya menambahkan bahwa sekitar tujuh orang lainnya mengalami luka-luka.

2. Lebih dari 700 orang di Gaza tewas sejak gencatan senjata terbaru

serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
serangan Israel di Jalur Gaza (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

WHO telah memantau koordinasi antara Mesir dan Israel sejak pembukaan penyeberangan Rafah, yang memungkinkan sebagian kecil warga Palestina yang terluka dan membutuhkan perawatan medis mendesak untuk pergi ke luar negeri.

Meski demikian, Israel tetap membatasi akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina, bahkan sempat menutup penyeberangan Rafah pada awal perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang meletus pada 28 Februari 2026.

Israel juga terus melancarkan serangan di Jalur Gaza terlepas dari adanya gencatan senjata yang diberlakukan sejak 10 Oktober 2025. Lebih dari 700 warga Palestina telah tewas sejak saat itu, sementara korban tewas secara keseluruhan akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 72 ribu orang.

3. Hamas tolak tuntutan pelucutan senjata

rakyat Gaza peringati 25 tahun Hamas
rakyat Gaza peringati 25 tahun Hamas (Fars Media Corporation, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelumnya, pada Minggu (5/4/2026), sayap bersenjata Hamas, Brigade al-Qassam, menyatakan tidak akan melucuti senjatanya sampai Israel sepenuhnya menerapkan tahap pertama gencatan senjata. Pihaknya menilai tuntutan semacam itu berisiko memperpanjang perang genosida di Gaza.

“Apa yang musuh coba sampaikan hari ini kepada perlawanan Palestina dan rakyat Gaza melalui mediator sangatlah berbahaya. Yang diperlukan adalah menekan entitas (Israel) untuk menyelesaikan komitmennya pada tahap pertama, sebelum membicarakan persyaratan tahap kedua," kata juru bicara Brigade al-Qassam, Abu Obeida, dikutip dari MEE.

Ia menuding komunitas internasional hanya memfokuskan tekanan pada Hamas, sementara Israel terus menargetkan warga sipil, membatasi bantuan, menutup penyeberangan Rafah bagi korban luka, dan membatasi akses ke Masjid Al-Aqsa selama Ramadhan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More