ilustrasi bendera Korea Selatan (pexels.com/aboodi vesakaran)
Fenomena hujan ekstrem secara tiba-tiba dinilai semakin sering terjadi di Korea Selatan, termasuk setelah periode musim hujan berakhir. Tahun lalu, Korea Selatan mencatat 15 kejadian curah hujan lebih dari 100 milimeter per jam, dengan 11 di antaranya terjadi setelah musim hujan.
Yeh Sang-wook, profesor Departemen Teknik Konvergensi Kelautan Hanyang University, mengatakan pola hujan musim panas di Korea Selatan mulai berubah.
“Ketika pola musim hujan tradisional mengalami perubahan, curah hujan musim panas bergeser dari hujan berkepanjangan di wilayah yang luas menjadi curah hujan dalam jumlah sangat besar yang turun sekaligus di wilayah yang sangat terbatas,” kata Yeh.
“Kita telah mencapai titik di mana hujan ekstrem kapan pun selama musim panas tidak lagi menjadi sesuatu yang tidak biasa,” lanjutnya.
Perubahan cuaca ekstrem yang terjadi secara tiba-tiba juga memperparah dampak bencana. Hujan deras yang turun setelah gelombang panas dan kekeringan dapat menghantam tanah yang telah kehilangan kelembapan, sehingga meningkatkan risiko erosi dan tanah longsor.
Para ahli memperingatkan perubahan iklim dapat meningkatkan risiko fenomena “pukulan ganda” berupa panas ekstrem yang kemudian disusul hujan deras dalam waktu singkat.
“Peristiwa cuaca ekstrem ketika panas ekstrem dan hujan deras terjadi secara bergantian dalam waktu singkat akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim,” kata Kim Seung-bae, pejabat senior Korea Natural Disaster Association sekaligus mantan juru bicara KMA.
Menurut Kim, Korea Selatan perlu mengubah sistem penanganan bencana yang selama ini banyak mengacu pada pola cuaca masa lalu.
“Kita perlu bergerak melampaui pola yang didasarkan pada masa lalu dan membangun sistem yang mampu merespons kombinasi berbagai bencana terkait cuaca,” ujarnya.