BMKG Catat 3.055 Gempa Susulan NTT, Masyarakat Diminta Jangan Panik

- BMKG mencatat 3.055 gempa susulan di Nusa Tenggara Timur hingga sore hari.
- Gempa susulan terbesar tercatat 6,2 magnitudo, sedangkan yang terkecil 1,1 magnitudo.
- BMKG menyiagakan UPT dan pos di sejumlah wilayah serta menyatakan peringatan dini tsunami dapat diberikan kurang dari tiga menit.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mencatat hingga sore ini terdapat 3.055 susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari jumlah itu, gempa susulan terbesar adalah 6,2 magnitudo dan yang terkecil 1,1 magnitudo.
Faisal mengatakan, proses peluruhan gempa NTT membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu karena kekuatan gempat NTT yang mencapai 7,7 Magnitudo.
"Jadi jumlah gempa susulan sampai dengan jam 17.00 sore hari ini, 19 Agustus 2026, adalah sejumlah 3.055 gempa susulan dengan gempa susulan terbesar adalah 6,2 magnitudo dan yang terkecil 1,1 magnitudo," kata Faisal di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Faisal juga mengingatkan masyarakat untuk tidak khawatir dengan potensi gempa susulan yang lebih besar. BMKG menjelaskan, butuh waktu hingga puluhan tahun untuk menghasilkan gempa sebesar yang sekarang.
Di sisi lain, BMKG juga telah mendirikan UPT di Labuan Bajo, Ruteng, Maumere, dan Larantuka. Lalu ada dua pos di Ende dan di Bajawa. BMKG akan siaga untuk membersamai masyarakat, Forkopimda, segenap tim SAR, TNI, Polri untuk benar-benar memberikan kenyamanan.
"Kami pastikan, pemerintah Indonesia melalui BMKG itu mampu memberikan peringatan dini tsunami akibat gempa ini kurang dari 3 menit sesuai dengan protokol internasional," kata Faisal.
Sementara itu, korban tewas akibat gempa berkekuatan 7,7 Magnitudo di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah satu orang. Hingga Rabu (19/8/2026) total korban tewas kini menjadi 71 orang.
"Jumlah korban ada bertambah satu orang menjadi 71, yaitu di Kabupaten Nagekeo," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Suar Pelita Panjaitan, dalam jump pers, Rabu (19/8/2026).





















